Perjalanan Pertama Bak Petualangan (Bagian 2)

Fiksiana, Novel572 Dilihat

Tak lama kemudian terlihat dari jauh sebuah sekolah, cukup besar. Ternyata itu adalah sebuah SD, lalu dimanakah SMP nya? Biasanya SMP  satu atap berada dalam satu lingkungan dengan SD. Oh ternyata benar, di ujung bangunan itulah sekolah baruku berada.

Lalu aku turun dari motor dan memasuki halaman kantor SMPN Satap 4 Cipanas. Setelah mengetuk pintu, seseorang membukanya. Ternyata ada seorang guru. Walaupun libur beliau ada di sekolah karena aku memberitahunya lewat kontak yang berhasil kudapat,  bahwa hari itu aku akan datang untuk survey lokasi sekolah.

Setelah berbincang cukup lama, Aku diantar beliau melihat-lihat lingkungan sekolah. Di sana hanya ada tiga ruang kelas, satu ruang kantor yang bersatu dengan ruang guru, dan dua buah kamar kecil/ toilet. Sungguh sangat sederhana, dan keadaan bangunan ruang kelas yang sudah banyak kerusakan karena belum pernah mendapat rehabilitasi dari sejak berdirinya sembilan  tahun yang lalu.

Kondisi fisik sekolah yang sangat jauh dari baik, bila dibandingkan dengan sekolah tempatku mengajar selama dua puluh enam tahun.  Ya, begitulah kondisi sekolah akses pada umumnya, yang dibangun untuk mendekatkan akses pendidikan bagi masyarakat yang berada di pedalaman. Keberadaan sekolah akses di Kabupaten Lebak hampir terdapat di setiap kecamatan, dengan dua sekolah atau lebih di setiap kecamatannya.

Malang tak boleh ditolak, semuanya sudah atas kehendakNya, aku menyadari hal itu. Aku yakin rencana Allah adalah yang terbaik untukku. Bagaimanapun kondisi sekolah baruku, tidak menyurutkan niatku untuk mengabdi. Aku merasa Allah telah mendatangkanku untuk memimpin sekolah kecil itu.

Di perjalanan pulang, aku masih bisa menikmati suguhan alam dengan pesonanya. Aku masih menyunggingkan senyum diatas terjalnya jalan yang dilalui. Ternyata perjalanan turun dari gunung tidak seberat ketika naik. Bersama Dede, driver yang andal, tak sampai satu jam tiba di rumah dalam keadaan selamat.

Sesampainya di rumah, anak gadisku menanyakan bagaimana kesan perjalanan pertamaku, dan bagaimana rupa sekolah baruku. Aku menjawab,” Wah, seru abis De, perjalanan ke sekolah Ibu. Pemandangannya sangat memesona, memanjakan mata.”

“Wiih, sambil refreshing dong,Bu,” komentarnya.

” Iya, dong. Alhamadulillah. Setiap hari bisa cuci mata, hahaha…” sambungku.

Keluargaku tidak usah tahu bagaimana rupa perjalananku tadi. Biarlah mereka tahu bahwa aku baik-baik saja, walaupun dalam hati masih tanda-tanya, apakah Dede mau terus bekerja denganku atau tidak,  setelah tahu medan tempuh ke sekolah, dan dengan gaji yang hanya cukup untuk jajan dan rokok. Semoga ia tidak mundur.

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

2 komentar