
sumber ilustrasi : pinterest.com
Bukanlah Sebuah Kemustahilan
Menurut catatan pribadi, dengan penuh rasa
syukur, saya sudah melalui seribu hari menulis tidak terputus
dan 2 kali berturut turut menjadi “Kompasianer nomor 1”
menurut versi Kaleisdoskop Kompasiana 2020 dan 2021.
Rencana untuk mewujudkan: “one day two articles” telah
terpenuhi. Hal ini terbukti dari apa yang tertera di gambar
diatas: “Total kontenmu sepanjang 2021:768 artikel. Bila
merujuk pada 2×365 hari dalam setahun berarti= 730 artikel.
Dengan total konten sebanyak 768, berarti target sudah
tercapai.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk pamer pencapaian dalam dunia tulis menulis,melainkan hanya sebatas untuk
menghadirkan motivasi bagi para Penulis ,khususnya Pemula.
Bahwa untuk menulis secara konsisten, memang tidak semudah
membalik telapak tangan.
Menulis itu gampang gampang susah ,tapi yang paling berat
adalah tetap menulis di saat kondisi tidak nyaman. Sebagai
contoh aktual saya tuliskan di sini. Ada kalanya, kita sedang
dalam perjalanan jauh, baik menggunakan pesawat terbang,
kereta api ataupun bis umum.
Nah, agar jangan sampai ada hari yang bolong, tanpa
menayangkan artikel, maka saya harus mampu menulis selama
diperjalanan. Hal ini bukan perkara mudah, apalagi bisa dalam
perjalanan bis yang gonjang ganjing. Belum lagi internet
terputus putus bila melalui pegunungan.
Kondisi Tubuh yang Tidak Menguntungkan
Perjalanan jauh, di mana saya sendiri yang mengemudikan
kendaraan sejak dari subuh. tentu saja mustahil main hape
sambil mengemudikan kendaraan. Tiba dilokasi wild flower,
saya menemani isteri jalan jalan disepanjang taman bunga.
Masa iya sambil berjalan, menulis artikel, maka saya harus
menunggu kesempatan hingga kami kembali ke rumah.
Ternyata tiba di rumah sudah malam. Mata serasa sudah tinggal
5 watt, kalaupun memaksa diri tetap menulis, pasti tulisannya
ngawur. Karena itu, selama saya dan isteri masih aktif jelajah
Nusantara, impian ini belum mampu saya wujudkan, karena
dalam setahun terkadang 2 atau 3 kali absent menulis di
Kompasiana.
Bagaimana Kalau Kehabisan Ide?
Istilah: “Kehabisan ide” hanyalah cara lain, untuk memaafkan
diri sendiri. Sesungguhnya ide untuk menulis dapat diperoleh
dari mana saja. bahkan hanya dengan duduk di teras rumah ide
sudah dapat diperoleh untuk menulis sebuah artikel.
Contoh sederhana, begitu mata kita melihat sebatang pohon,
maka mulailah kita menulis, bahwa sebatang pohon, sewaktu
masih hidup, berguna karena memberikan buahnya untuk
manusia, serta menjadi tempat berteduh bagi burung burung di
kala panas menyengat.
Serta tempat berteduh bagi orang yang berjalan jauh bahkan
setelah kelak pohon ini mati karena sudah tua dan ditebang, ia
tetap bermanfaat, yakni dari batang pohon dibuat perabot
rumah tangga, yang mampu bertahan puluhan tahun.
Nah, kalau sebatang pohon,bermanfaat baik semasa hidup,
maupun di kala sudah mati, masa iya kita manusia kalah dari
sebatang pohon? Nah, satu artikel sudah jadi dan siap untuk
dipostingkan.
Bagaimana Menyiasatinya
Selama seribu hari, apakah saya selalu sehat wallalfiat? Puji
syukur saya dan isteri jarang sakit, paling kalau kemalaman
pulang masuk angin, akibat kecapaian. Tetapi dalam kondisi
yang kurang fit dan kecapaian, gimana mau tetap menjaga
konsistensi menulis?
Maka setelah berbagai pengalaman selama bertahun tahun
menulis di Kompasiana, saya menyiasati dengan cara:
mempersiapkan artikel cadangan,setidaknya 3 artikel ,yang siap
tayang
In case of emergency, baik karena perjalanan jauh ataupun
kondisi kesehatan tindak dalam kondisi siap untuk menulis
artikel, maka artikel cadangan digunakan dan tinggal klik:
“tayang”, maka konsistensi “tiada hari tanpa menayangkan
artikel di Kompasiana terpenuhilah sudah”
Bila artikel cadangan sudah terpakai, maka begitu ada waktu,
saya langsung menulis artikel lain, untuk menggantikan artikel
cadangan yang sudah terpakai.
Dengan menyiasati semacam ini, maka saya mampu menjadikan
impian: “Seribu hari menulis tak terputus” dapat menjadi
kenyataan. Misalnya, sewaktu saya terpeleset di tanggga
pesawat dan mengalami luka dalam, serta harus rawat inap di
Wollongong Public Hospital, di mana tangan dan kaki saya sarat
dengan selang infus, maka cadangan artikel saya gunakan.
Karena kalau hanya menekan tombol tayang, yang ada di
Ponsel, tentu masih mampu saya lakukan.
Hal ini saya lakukan, bukan untuk pencitraan diri, karena saya
bukan pejabat, melainkan hanya seorang Opa yang hobbi
menulis. Juga bukan untuk pamer pencapaian, karena tulisan
saya, hanya satu dua yang masuk ke Headline dalam satu tahun,
jadi tidak ada yang dapat dipamerkan.
Yang ingin saya
sampaikan, adalah bahwa janji itu adalah utang dan utang
harus dibayar, walaupun berjanji pada diri sendiri.
Terima kasih kepada semua teman teman, tanpa ada yang
dikecualikan, yang selalu menyempatkan untuk membaca
tulisan saya, serta meninggalkan komentar yang menyemangati,
tanpa dukungan teman teman, mana mungkin saya mampu
menjadikan impian: “menulis seribu hari tanpa terputus”
menjadi kenyataan.
Nah, para Penulis Mileneal. jangan mau kalah dari Opa yang
pada 21 Mei yang akan datang, kalau Tuhan mengizinkan akan
berusia 79 tahun!
Tjiptadinata Effendi





