
dokumentasi pribadi
Lina bekerja di salah satu perusahaan gabungan nasional dan luar negeri di bidang finance. Dalam waktu singkat sudah termasuk dalam tiga besar di perusahaan tersebut, di bidang pencapaian target, yang diberikan perusahaan. Sebagai apresiasi dari perusahaan, Lina mendapatkan kehormatan sebagai Champion Honour of the Year selama berturut-turut tiga tahun. Hingga saat itu, belum ada seorang pun di perusahaan tersebut yang mampu menyamainya. Tentu saja hal ini merupakan kegembiraan bagi Lina.
Di Persimpangan Jalan Hidup
Namun, perjalanan hidup tidak selalu tenang dan datar. Ada kalanya suatu waktu manusia dihadapkan pada pilihan hidup. Saat-saat ini adalah merupakan sesuatu yang amat sangat menegangkan dan menguras energi karena berada di persimpangan jalan hidup
Sudah lewat tengah malam…. Tapi Lina masih duduk termangu di keheningan malam yang membisu. Dipandanginya satu per satu Piagam Penghargaan yang terpajang di dinding ruang tamu. Trophy beraneka ragam di atas rak buku. Semuanya diperoleh berkat hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Dan kini tiba saatnya ia harus meninggalkan semuanya itu.
Besok pagi ia sudah akan menyampaikan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang selama satu bulan. Walaupun Lina sudah menduga bahwa hari itu akan tiba, namun ketika suaminya menyampaikan harapan itu kepadanya bulan lalu, tak urung tetap membuatnya tergoncang.
“Sayang, sejak dulu impian kita adalah mengeliling Indonesia dan mengelilingi dunia. Kapan impian itu bisa kita wujudkan?” Itulah kalimat yang disampaikan oleh suaminya. Tak ada nada paksaan. Hanya sebuah pertanyaan saja. Namun, bagi Lina, ucapan tersebut bermakna mendalam.
Lina terdiam. Seakan tidak mampu menjawab. Walaupun keinginan ini sudah disampaikan oleh suaminya beberapa tahun lalu, kali ini dirasakannya sebagai suara yang mengingatkannya akan janji setianya kepada suami. Ia memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca dan berucap lirih, “Boleh beri saya waktu satu bulan untuk mempersiapkan diri?”
“Iyaa, nggak apa-apa Sayang…,” kata suaminya lembut.
Kini, hari ini waktu satu bulan itu sudah lewat. Ia sudah harus memberikan suatu keputusan…..
Sejak bergabung dengan perusahaan nasional yang bergerak dibidang finance, nama Lina semakin hari semakin bersinar. Setiap Senin pagi ada meeting seluruh karyawan. Lina selalu ditampilkan sebagai sosok yang memberikan motivasi. Seorang ibu rumah tangga yang sukses di bidangnya. Bahkan sudah 3 tahun berturut, Lina tampil sebagai Champion Honour. Belum ada yang bisa menggantikan posisi Lina hingga pada saat itu.
Sebagai penyandang gelar Champion Honour, boleh dikatakan Lina menjadi anak emas perusaahaan. Berbagai fasilitas tersedia untuk Lina: tiap tahun keluar negeri. Seluruh biaya perjalanan pulang-pergi dan penginapan ditanggung perusahaan. Salary puluhan juta setiap bulan. Bonus setiap 3 bulan. Undangan santap malam di sana-sini. Pokoknya seluruh pengeluaran ditanggung oleh perusahaan.
HIdup Adalah Sebuah Pilihan
Namun kini saatnya Lina harus memilih antara karier, popularitas, uang, kemudahan-kemudahan, jalan-jalan gratis keluar negeri atau menemani suami tercinta menggapai impiannya berkelana ke seluruh jagat raya. Pilihan yang tidak mudah. Bahkan bagi Lina merupakan pilihan yang teramat berat. Tetapi hidup terkadang berada di persimpangan jalan dan orang harus memilih jalan mana yang akan ditempuhnya.
Sekali lagi Lina memandang lapat-lapat semua piagam, throphy, dan foto-fotonya bersama banker nasional yang merupakan owner dari perusahaannya bekerja. Kalau ia mengundurkan diri berarti semuanya itu hanya akan tinggal menjadi kenangan. Bukan itu saja, semua atribut yang disandangnya akan pupus secara serta merta begitu ia mengundurkan diri. Ia hanya akan berstatus: Ibu Rumah Tangga atau dalam bahasa tempo dulu statusnya adalah: ikut suami. Ia bukan lagi wanita karier. Tidak akan ada lagi tepuk tangan yang meriah untuk kesuksesannya, apalagi undangan makan malam bersama Pemilik Perusahaan. Semuanya akan sirna bagaikan bayang-bayang yang tersapu teriknya sinar mentari.
Tetapi bila ia tetap bersikukuh melanjutkan kariernya….? Tidak tega ia melanjutkan pikiran ini.
Malam sudah bertambah larut dan udara dingin semakin terasa merasuk ke tulang sumsum…. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana… ia tidak tahu..
Perlahan-lahan Lina beranjak dari kursi dan berjalan ke kamar tidur di mana suaminya sudah terlelap. Dipandangnya wajah orang yang sudah mendampinginya dalam suka dan duka selama belasan tahun. Apakah akan tega ia melukai hatinya…?
Lina membaringkan tubuhnya. Pikirannya menerawang entah ke mana. Mungkin karena kecapaian dan beban hati yang dipikulnya, dalam waktu beberapa saat Lina tertidur….
Esok paginya,Lina sudah memiliki tekad ,akan meninggalkan karir demi cintanya kepada suami tercinta. Bagi dirinya, family is the first.Puji syukur kepada Tuhan, 58 tahun hidup pernikahan sudah dilalui dengan selamat
Kisah ini merupakan true story dari kehidupan pribadi kami berdua. Semoga bermanfaat bagi setiap orang yang membaca tulisan ini
Tjiptadinata Effendi





