
Lumayan pegel muter muter Alun alun kota Bandung, yup saatnya menuju Masjid Raya Bandung, mumpung masih ada waktu menjelang cek in hotel dan sekalian pula rehat dan menunggu waktu sholat.
Karena saat itu si Covid belum ada, alun alun yang memiliki alas berupa karpet warna hijau, di sesaki pengunjung tanpa masker. Memasuki areal dalammasjid, tertegun, nih masjid gede banget, Subhanallah, di dekat pintu masuk sedang ada kajian, mumpung waktu sholat Dhuzur belum dimulai ya duduk bersiladan mendengarkan tausiah pak Ustad yang sedang mengadakan taklim.
Jelang adzan mah ke basement karena tempat wudhlu dan juga toilet pria berada di areal bawah. Tempat wudhlu di masjid Raya Bandung itu tuh banyak krannya, mungkin menyesuaikan dengan kapasitas masjid yang bisa menampung jamaah hingga 10 ribu orang hingga 12 ribu orang.
Usai dari ruang wudhlu,menuju ruang utama masjid. Kalau dari luar, terlihat tiga kubah dari kejauhan, dua menara kembar yang mengapit masjid. Nah di ruang utama masjid nih bisa menampung jamaah dengan jumlah siginfikan, ancer ancer mah bisa sekitar lima hingga tujuh ribu jamaah, kalau ditambah ruang untuk taklim yang di dekat selasar masjid yang mampu menampung sekitar lima ribuan jamaah.
Tapi kalau untuk jumlah bilangan mah nggak bisa memastikan apa yang tulis angkanya sudah pasti, ya di kira kira deh.Bangunan masjid yang ikonik tuh tentang bangunan kubah yang super duper gede, kalau dari luar, kubahnya terlihat dari kejauhan.
Nah dari dalam kubah yang gede itu ditopang oleh sepuluh pilar penyangga, tampaknya arsitektur masjid sudah memperkirakan kekuatan topangan agar kubah mampu memayungi atap masjid namun tetap kokoh.
Ruang utama masjid Raya Bandung dilapisi karpet warna merah, seperti galibnya masjid, tentu ada mimbar juga, property yang dimiliki masjid dan diamati yakni tiga jam kayu, jumlah kipas angin ada empat yang di bagi bagi posisinya agar kesejukan udara lebih merata, masjid Raya Bandung di dukung empat penyejuk udara.
Kalau baru pertama kali mampir ke masjid Raya Bandung, seperti nih pasti kesan pertama yang muncul adalah luas masjid yang besar, beruntung bagi warga Bandung yang berada di sekitaran masjid dan bisa berjamaah di masjid yang megah ini.
Saat menapaki lantai demi lantai masjid, ada haru yang terasa, berterima kasih kepada pupuhu Jawa Barat yang berinisiatif membangun masjid ini, konon masjid Raya Bandung pernah dipakai oleh delegasi Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955.
Dahulu mah, tipikal bangunan masjid Raya Bandung mengacu pada arsitektur gaya Sunda, namun setelah mengalami renovasi, gaya bangunan mengadopsi caraTimur Tengah. menyinggahi sebuah kota untuk perjalanan, mampir ke masjid adalah pilihan yang menyenangkan.
Bisa mengamati arsitektur masjid itu sangat menyenangkan karena pasti ada cerita yang berbeda, begitu juga dengan masjid Raya Bandung yang berada di jantung ibu kota provinsi Jawa Barat.
Tetap pengen membaca ke khasan tempat ibadah ummat Islam? Insha Allah, kalau berkelana hehe, menyempatkan ke masjid karena disana banyak manfaat yang bisa dituliskan di blog terbitin.id
Tunggu saja ya, kalau di Bandung, sudah nih cerita cerita tentang masjid Raya Bandung, masih banyak banget deh masjid masjid keren di kota kembang Bandung, sabar ya yang rekuest cerita tentang masjid Salman di kampus ITB yang legend itu. Tunggu tanggal mainnya, nantikan keseruan jelajah masjid episode berikutnya.








