Terimakasih Tuhan Tung Widut Hari tanpa lelah Jemari mengukir nama Setiap pengumuman yang terbaca Malam mulai menyerang Dengan pasti jemari meraba lembut Tulbar mulai bercerita Dari membaca pikiran Menguak Selengkapnya
Puisi
Mentari Bersinar
Mentari Bersinar Tung Widut Hari telah terang Malam hilang perlahan Menampakan diri dengan sendu Mendung menghalagi tanpa tahu Dunia menunggunya setiap waktu Siang terang tiada penghalang Sinar garang menyerang Hawa Selengkapnya
Guru 3 T
Puisi Untuk Sahabatku Guru Kreasi Thamrin Dahlan Puisi ini khusus ditujukan kepada sahabat Guru di darah 3 T (terpencil, terluar dan terbelakang) di pedesaan, di daerah terpencil, di pedalaman, Selengkapnya
KABARKU HARI INI
KABARKU HARI INI Tung Widut Saat mata terbuka Matahari menyapa dengan redup Sisa hujan semalaman membuat mata enggan terbuka Kesibukan Minggu tak terelakkan Segudang kegiatan yang dianggap Selengkapnya
Selembar Daun Peneduh
Selembar Daun Peneduh Tung Widut Terik mulai menyengat Barisan berhadapan dengan para siswa Menghadap ke timur Seakan matahari berada di pelupuk Terasa hangat walau sebentar Gelisah mulai meradang Diam bukan Selengkapnya
Senja yang Tercipta
Senja yang Tercipta Tung Widut Langit jingga memandang pada alam Semburat sinar yang menerobos diantara awan sore Sungguh indah Allah memberi lukisan Membuat mata memandang tak berkedip Memuja sang pencipta Selengkapnya
Senja Itu Bersamaku
Senja Itu Bersamaku Tung Widut Langit jingga temaram Tanah basah bekas tesiram ait hujan menyapa Mengagumi dari lubuk hati Merayu agar tka ditunggalkan Rindu mendalam terhadap warna semburat Terlalu sulit Selengkapnya
Jejak Hujan
Jejak Hujan Tung Widut Mata mulai menggeliat Perlahan lerlihat tersenyum Alam menyapa Selamat pagi katanya Hawa sejuk terasa bersama terbukanya cendela kamar Terlihat tanah menghitam basah Rata alam bekas aliran Selengkapnya
Catatan Mimpi
Catatan Mimpi Tung Widut Melihatmu tanpa ragu Kekaguman atas kelebihan Tak tahu namanya Iri ataukah ketidakberdayaan atas diri Ku catat ketidakberdayaan sebagai mimpi Akan perjuangkan sampai tak ada kata Selengkapnya
Secangkir Kopi
Secangkir Kopi : Kharir Hatta Irama hujan tetap saja syahdu Menemaniku dalam lamunan masa lalu Meneguk kopi pahit bangkitkan asaku Yang dulu tergerus rindu kelabu Pagi ini Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- …
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- …
- 240
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
















