Apel Malang ditata menggugah selera Diletakkan di kios-kios pinggir jalan Ada yang hijau, ada yang semburat merah Rasanya asam manis segar Apel Malang jadi oleh-oleh sejak lama Tapi ia kemudian Selengkapnya
Puisi
Hujan Belum Memadamkan Gerah
Hawa gerah masih mengekang Sinar matahari terasa lebih panas Membuat enggan beraktivitas di luar Pagi pun sudah seperti pukul dua belas siang
Aku Meminta
Aku Meminta Tung Widut Bersujud pada Mu Menghiba meminta Hanya pada Mu Yang memberi takdir dan yang mengubahnya Datangkanlah kenikmatan Berilah ketenangan Kelancaran dan segala kehidupan Juga untuk anak-anakku
Rayuan Senja
Rayuan Senja Karya : Sim Chung Wei Memandang lembut wajahmu kala senja datang menyambut lembayung bertemu nyanyikan kidung yang hilang syair-syair lirih mendayu bagaikan liukan gelombang memikat hati untuk merayu Selengkapnya
Pedih
Pedih Tung Widut Rasa sesak tak terelak Menyumbat dada Salah memang salah Luka gores dari kata Aku menghiba Sedih mendera Bukan tak terima Rasa kasih tak tega Bulir air mata Selengkapnya
Kebun mungilku
Karya : Purwa Nur Alam Selepas shalat shubuh di masjid kakiku melangkah menapaki anak tangga menurun santai langkahku menikmati setiap hembusan angin pagi menyisir rerumputan yang basah berembun Kuhirup Selengkapnya
Sudah Selesai
Kusenandungkan kidung selamat pagi Menemani kerjap matamu yang membuka Menyambut fajar yang merekah Namun kicau burung membahana riang di telingamu Kuhembuskan sejuk udara di siang hari Menepiskan peluh yang menetes Selengkapnya
Bukan Sekedar Rindu
Bukan Sekedar Rindu Tung Widut Selalu merindumu Dalam setiap helaan nafas Bukan hanya itu Terlanjur erat Terpatri dalam jiwa Merasuk pada sukma Selalu teringat Setiap penggal kata Terucap menghipnotis Selengkapnya
Gengaman Terurai Sudah
Bertahun bersama tak ada makna Keriput di wajah yang dulu tiada kini sempurna banyaknya Zaman orok masih lengkap terasa Tapi itu tak menyatukan kita Kita terpisah bak terputus tali layangan Selengkapnya
Puisi 07. Mengecup Bayangan
Puisi 07. Mengecup Bayangan Theresia Martini, S.Ag., M.M Paras ayu hadir kini Setangkup rindu tertutupi Menggoda sepotong tubuh sepi Dalam dingin malam kian menguliti Ku telisik ruang kalbu Berjumpa indah Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- …
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- …
- 240
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.













