Pagi ini mentari masih malu menampakkan wajahnya, bahkan semilir anginpun tak mampir. Pepohonanpun tak menngoyangkan dedaunannya. Biasanya tiap pagi berserakan dedaunan. Hari ini kulihat semuanya bersih dan diam.
“Ada apakah gerangan?” batinku bertanya. Apakah alam sedang berduka? Atau alam sedang mengenang para pejuang bangsa yang menumpahkan darahnya dihamparan bumi yang mereka pijak, aku dan kami pijak? Atau apakah alam merasa sedih karena kami melupakan mereka? Ah…. Seribu tanya yang menari nari dalam benakku yang tidak dapat kutemui jawabannya. Biasanya aku selalu memperoleh jawaban dari setiap pertanyaanku sendiri.
Hmmm apakah alam sedang berpikir, jika manusia tidak mengerti makna perjuangan? Oh alam, tahukah kalian bahwa sesungguhnya kami hidup didunia ini berjuang lho. Kami berjuang untuk hidup bemakna bermartabat dan berjuang agar kelak bila tiba masanya untuk kembali pada Sang Khaliq, kembali dengan kebahagiaan.
Wahai alam, bagi kami mengenang para leluhur yang menumpahkan darah mereka yang mengorbankan jiwa mereka untuk keberlangsungan kami dimasa kini, kami berjuang dengan karya sebagaimana keinginan mereka. Wahai alam janganlah kamu bersedih ataupun murka kepada kami. Jadilah saksi bagi kami, atas hal-hal kebaikan kami sebagai ibadah kepada sang Khaliq
Wahai alam, lihatlah disana, anak-anak kecil yang berlarian, tanpa alas kaki, lihatlah disudut lain mereka duduk termenung memikirkan makan apa hari ini, lalu bagaimana dengan esok hari? Apakah anak-anak mereka bisa sekolah?
Wahai mentari munculah berikan sinar indahmu dengan kesejukan, agar para ibu yang mengais rezeki melalui sinarmu, bisa bekerja untuk sesuap nasi yang merka berikan kepada anak-anaknya. Agar para bapak yang bekerja melalui sinarmua, bisa mebayar sekolah anak-anaknya.
Hai mentari tersenyumlah untuk kami, agar kami semua bisa beribadah pada Sang Khaliq dengan kegembiraan bukan dengan kesedihan. Agar kami bisa mencucurkan air mata bahagia kami pada Sang Pemilik Alam ini.






