
Sang mentari kian meninggi. Yanto dan ketiga temannya justru masih asik berenang dan bercanda di sungai Dahromo. Dari kejauhan, tampak Saryanto yang melintas di jembatan gantung bambu di atas mereka dengan sepedanya. Saryanto kini sudah duduk di bangku SMP, tiga tahun lebih tua dibandingkan mereka.
“Mas! Dari mana?!” Teriak Yanto.
“Dari pasar Pleret. Kulakan !” Jawab Saryanto.
“Kulakan?” Ulang Tugino sambil memandangi bungkusan-bungkusan di keranjang sepedanya.
“Yanto! Suprih! Taufiq! Ayo mentas!” Teriaknya pada ketiga temannya. Mereka pun berkumpul sembari berjemur.
“Saryanto sudah mulai kulakan, kita juga jangan sampai kalah,” ujar Yanto penuh tekad.
“Aku mempunyai ide. Ayo kita urunan 200 rupiah. Sekarang kita pulang, sholat, lalu berkumpul lagi di sini,” Tugino menatap ketiga sahabatnya meminta persetujuan.
“Setuju!” Tegas Yanto segera berdiri.
“Aku minta uang simbok dulu,” sahut Suprih.
“Kalian yakin mau menjadi bakul ?” Taufiq ragu.
“Yakin. Kita harus bisa punya uang jajan sendiri. Ayo, mumpung belum adzan Dhuhur,” jelas Yanto.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Setelah mandi dan sholat, Yanto bergegas membongkar celengan dan menghitung hingga genap 200 rupiah.
“Untuk apa, Le?” Sapa ibunya.
“Untuk bakul jajan pasar , Mbok,” Yanto berdiri. “Doakan semoga laris ya, Mbok,” lanjutnya sambil mencium tangan simboknya yang tersenyum haru.
Sampai di pinggir sungai Dahromo, teman-teman Yanto sudah menunggu. Tugino mengumpulkan iuran mereka. Empat sekawan itu pun segera berjalan kaki menuju pasar. Jalan sepanjang satu kilometer itu mereka lalui dengan ceria. Sesampainya di pasar Pleret, mereka tampak ragu-ragu untuk mendekati para penjual jajanan yang penuh pembeli yang berdesak-desakan.
Akhirnya Yanto menunjuk pada salah satu penjual yang sudah tua dan sepi pembeli. “Ayo kita beli di sana, biar dagangannya laku dan tidak antri,” usul Yanto.
Ada banyak pilihan jajan pasar di sana. Taufiq takjub melihat onde-onde, dadar gulung, semar mendem, kue lumpur, putu ayu, kue pukis, dan makanan lain yang tampak lezat itu. Ia menyikut lengan Tugino, “Apa kita mau memborong semua itu?” Bisiknya.
“Hus! Ya tidak tho, uang kita hanya sedikit. Ingat, kita mau kulakan untuk dijual lagi,” jelasnya.
“Oh, mau kulakan ya, Le? Pinter tenan. Masih kecil sudah mau bantu orang tua,” ujar si Nenek tersenyum. “Sini Simbah beri harga murah. Kalian jualan gathot, ketan ireng, dan klepon saja. 200 rupiah sudah dapat 12 bungkus. Kalian bisa jual 25 rupiah per bungkus. Jadi uang kalian akan menjadi 300 rupiah,” jelas si Nenek.
“Aku setuju,” ujar Yanto dan Suprih.
“Nggih, ini ada 800 rupiah, Mbah,” Ucap Tugino.
Mereka pun keluar dari pasar dengan 4 besek penuh bungkusan jajan pasar di tangan mereka. Tugino mengusulkan agar mereka menjajakan makanan mulai dari ujung desa Dahromo. Mereka pun bersahutan meneriakkan nama makanan yang mereka bawa di besek mereka.
“GARENGPON! GARENGPON!” Ujar Yanto tiba-tiba. “Gathot, ketan ireng, klepon,” tambahnya tertawa.
“Bagus juga. GARENGPON! Gathot, ketan ireng, klepon!” Teriak Tugino disusul Suprih dan Taufiq.
Mereka menjajakan makanan dengan ceria. Satu per satu warga keluar dari rumah mereka dan membeli jajanan mereka. Rasa lelah tidak mereka rasakan.
Di tengah perjalanan Taufiq tak kuasa untuk menahan keinginannya. Ia pun mengambil satu bungkus dari besek yang dibawanya dan memakannya dengan lahab ketika ketiga temannya sedang sibuk melayani pembeli.
Setelah cukup banyak dagangan yang terbeli mereka kembali melanjutkan perjalanan. Menjelang waktu Ashar, barang dagangan mereka tersisa 3 bungkus saja. Akhirnya mereka memutuskan beristirahat di gardu.
“Ayo sekarang saja kita bagi hasil jualan kita!” Ajak Tugino yang disambut dengan semangat oleh yang lainnya.
Tugino mengeluarkan uang pecahan mereka di lantai. Masing-masing kemudian mengambil sebanyak 200 rupiah. Setelah dihitung, masing-masing mengambil lagi 75 rupiah. Di lantai pun masih tersisa 25 rupiah dan 3 bungkus jajan pasar. Hening, tampak mereka serius memikirkan solusinya. Tiba-tiba saja Taufiq berkata lirih.
“Teman-teman, Maaf, aku lupa mengatakan bahwa aku tadi makan satu bungkus karena lapar. Sekarang tiga bungkus ini untuk kalian saja. Dengan begitu sama-sama dapat satu bungkus. Lalu uang 25 rupiah ini untuk kulakan besok lagi saja,” jelas Taufiq menatap ketiga temannya.
Tugino, Yanto, dan Suprih tersenyum puas. Mereka bersyukur akhirnya mereka dapat berlaku adil berkat kejujuran Taufiq. Sejenak mereka beristirahat. Saat itulah, Saryanto melintas di depan mereka dengan sepedanya.
“Lihat! Kok dagangan Saryanto masih banyak di keranjangnya?” ujar Suprih heran.
“Meski kita berjualan dengan berjalan kaki, kita harus bersyukur dagangan kita hampir habis,” jelas Yanto.
“Alhamdulillah,” ucap mereka bersamaan
“Hai, para penjual Garengpon, besok, sepulang sekolah, kita urunan 200 rupiah lagi untuk berjualan ya?” Tanya Tugino sambil tersenyum lebar yang disambut acungan jempol oleh ketiga temannya. (Selesai)






