
Belajar Dari Rumah (BDR) adalah proses pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh, guru dan siswa terpisah, namun dipersatukan oleh dukungan teknologi pendidikan dalam mengakses sumber belajar. Sumber belajar bisa siswa peroleh dari internet, radio, televisi, modul dan lingkungan belajarnya. Kondisi belajar dalam mode Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) menuntut setiap guru untuk melakukan kreasi dalam memanfaatkan sumber belajar yang optimal di sekitar siswa. Tentunya selain memaksimalkan dukungan sumber daya yang ada di sekolah, guru dan bantuan pemerintah dalam bentuk paket data.
Pada jenjang SMA tentunya lebih mudah untuk mengarahkan siswa dalam belajar dibandingkan dengan jenjang SD dan SMP. Program BDR yang telah berlangsung sejauh ini, secara umum berlangsung secara daring menggunakan aplikasi WhatsApp dan Zoom. Tak ketinggalan pula menggunakan media sosial lainnya seperti YouTube, Messanger dan Facebook.
Proses Belajar Daring
Di SMA Negeri 5 Tana Toraja, saya mengajar dua bidang studi, yakni Bahasa Inggris dan Bahasa & Sastra Inggris (di Kurikulum 2013 dikenal sebagai Bahasa Inggris Peminatan). Bahasa Inggris saya ajarkan di kelas X Bahasa, XII Bahasa, XII IPS1, XII IPA1, XII IPA2, XII IPA3, dan XII IPA4 dengan durasi masing-masing 2×45 menit (2 JP) setiap minggu. Sementara bidang studi Bahasa & Sastra Inggris diajarkan di kelas X Bahasa (3 JP), XI Bahasa (4 JP) dan XII Bahasa (4 JP). Sehingga total jam mengajar BDR dalam satu minggu adalah 25 JP.
Proses pelaksanaan BDR mengikuti jadwal pelajaran yang telah disusun oleh pihak kurikulum sekolah. Adapun jadwal pelajaran ini tidak memiliki perbedaan dengan jadwal pelajaran pada masa normal (tatap muka). Artinya jadwal pelajaran di sekolah kami sama saja dengan jadwal yang telah berlaku di masa sebelum adanya pandemi. Jadi, hanya tempat pelaksanaan dan sarana belajarnya saja yang berbeda, namun durasi waktu tiap bidang studi tetap normal.
Bagaimana cara saya memaksimalkan layanan pembelajaran saya selama ini? Pertama saya mengumpulkan informasi terkait kemampuan sumber daya tiap siswa, termasuk letak geografis tempat tinggal mereka. Hal ini penting mengingat wilayah Tana Toraja adalah pegunungan yang tentu saja turut mempengaruhi ketersediaan dukungan tenaga listrik dan internet. Pada awal pertemuan dengan siswa, komunikasi dibangun lewat grup WhatsApp. WA menjadi sarana paling ideal untuk berkomunikasi oleh karena hampir di semua rumah siswa telah terdapat minimal satu orang pengguna smartphone. Walaupun kadang kala pula, pengguna smartphone ini harus berjuang mencari sinyal di tempat mereka untuk mengakses pelajaran.
Komunikasi selanjutnya dilanjutkan lewat tatap muka daring menggunakan aplikasi ZOOM. Saya memilih berlangganan licensed ZOOM (biaya pribadi) untuk menunjang komunikasi pembelajaran saya dengan kelas-kelas yang saya ajar. Sehingga sejak awal semester hingga saat ini saya masih setia mengajar menggunakan ZOOM dan video pembelajaran saya simpan di YouTube.
Proses Penilaian
Berbicara proses penilaian, mungkin saya sangat berbeda dalam pelaksanaannya. Cara yang saya lakukan adalah mengajak siswa untuk partisipatif (student centered) dalam pembelajaran online. Dengan kata lain, ketika siswa bisa memberikan respon terhadap pertanyaan dan materi pelajaran maka saat itulah saya memberikan nilai. Respon yang saya dokumentasikan sederhana, misalnya kesiapannya memimpin doa sebelum atau sesudah pelajaran dimulai. Bisa juga respon berbentuk jawaban atas pertanyaan, kuis (game), membaca paragraf/teks, memberikan coretan/tanda anotasi di layar ZOOM, atau mengetikkan respon di kolom komentar ZOOM dan YouTube. Seringkali pula saya mengajak siswa mengirim respon pelajaran melalui chat di WhatsApp. Ini menjadi solusi ketika listrik tiba-tiba padam, jaringan terganggu, atau paket data habis.
Sederhananya, penilaian pembelajaran saya adalah ada respon siswa pada setiap pembelajaran maka ada apresiasi dari saya. Bahkan saya sampaikan kepada siswa begini,
“Jika memungkinkan bapak akan memberikan buku penilaian untuk kalian isi sendiri, berapa nilai yang kalian inginkan. Sudah sangat luar biasa jika di masa pandemi ini, kalian bisa bertahan hidup, tetap sehat dan tidak terjangkit COVID-19.”
Bagi saya, nominal nilai adalah persoalan kedua. Paling utama adalah bagaimana saya bisa tetap membuat siswa bisa berpikir kritis dan kreatif selama BDR. Ini sudah termasuk kemampuan mereka untuk menanggulangi penyebaran COVID-19 di lingkungan mereka. Konten materi yang saya sajikan pun sering saya kaitkan dengan pandemi COVID-19 dan aktifitas mereka selama BDR. Sehingga jika dikatakan bahwa BDR siswa akan lebih mudah copy paste, maka di bidang studi saya, jawaban tidak ada di internet. Jawaban ada pada lingkungan mereka dan pengalaman mereka. Mungkin inilah yang disebut dengan penerapan Cyber Pedagogy dalam pembelajaran. Berikut ini adalah contoh respon siswa atas materi pembelajaran lewat karya mereka dari rumah.
Pengisian Presensi
Demikian pun halnya dengan kehadiran, saya tidak menggunakan daftar hadir. Kehadiran mereka berbanding lurus dengan respon yang diberikan. Tambahan pula bahwa ketika siswa berpartisipasi maka saat itu juga ia dianggap hadir dalam kelas virtual. Jadi, siswa tidak hanya sekedar hadir dalam kelas virtual mengetikkan nama, menutup speaker dan kamera. Begitupun siswa yang mengikuti pelajaran di YouTube, ia saya anggap hadir ketika ia bisa memberikan respon atas pelajaran.

Lalu, bagaimana jika tidak mampu hadir oleh karena beragam keterbatasan? Saya memberi mereka kesempatan untuk belajar secara tunda melalui akses video pembelajaran di YouTube. Batas waktunya, silahkan belajar selama buku laporan pendidikan belum selesai dibuat. Respon disampaikan lewat WhatsApp atau meninggalkan komentar di YouTube.

Salam Belajar Dari Rumah
#Menulis_di_Blog_Jadi_Buku
Yulius Roma Patandean
SMAN 5 Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
NPA. 20020400134







