Episode Kata Pengantar Buku Cernakku

Cerpen, KMAB, YPTD568 Dilihat
Cover buku oleh Ajinatha

Dahulu, aku pernah menyatakan kepada mas Rizal kalau aku berniat mencetak buku kumpulan cerita anak yang sudah kupublikasikan di Kompasiana. Niatku, buku yang tercetak akan kubagikan ke seluruh perpustakaan SD Muhammadiyah di Gunungkidul.

Untuk Kata Pengantar, sekali lagi kumintakan kepada mas Rizal. Alasanku karena dia sama-sama orang Muhammadiyah. Jadi kukira dia bisa membantuku.

Dia mengusulkan untuk mengumpulkan materi kumpulan cerita anak. Lalu akan dikurasi bareng-bareng.

Namun lama juga tak ada kabar. Padahal sering kali aku mengabarkan kepada mas Rizal untuk membuka email-nya. Karena kesibukannya di dunia nyata, email itu tak dibuka.

Sebenarnya oleh mas Rizal, buku kumpulan cerita anak itu akan diajukan ke Lazismu Pusat. Kebetulan mas Rizal kenal orang Lazismu Pusat.

Sebenarnya aku tak begitu berharap bukuku itu akan beredar di seluruh Indonesia. Maksudku di sekolah-sekolah Muhammadiyah dari Sabang sampai Merauke.

**

Lama tak ada kabar hasil kurasi, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada mas Rizal yang terhormat.

“Mas, mau tanya ya! Draft cernakku itu kira-kira lolos nggak ya? Kalau nggak, rencana mau kucetak sendiri. Tapi mas Rizal yg ngasih Kata Pengantarnya,” begitu chatku kepadanya.

“Wah. Iya. Belum tak tanyain lagi. Hadeeeuh. Lupa aku, Mbaaaaak. Maaaaaafkeun.” Balasnya.

Aku tersenyum membaca balasan itu. Sudah kuduga dari awal. Pasti dia lupa, saking pura-pura sibuk. Hihihi…

“Kalau misal nggak bisa ya aku cetak sendiri. Wong rencanaku awal kan minta Pengantar sama mas Rizal.”

“Pengantar? bisaaa … Aku tanyain dulu. Sayang draft itu.”

Dia melanjutkan chatnya, “Duh. Kenapa aku gak ingat, ya? Aku pura-pura sibuk urusan domestik, Mbak.”

Tuh kan, ngaku juga kalau pura-pura sibuk kan? Memang begitu orangnya.

“Wis… Kutunggu Kata Pengantarnya saja.”

**

Lama tak ada kabar, aku chat lagi mas bos Rizal. Kusorot chat yang memintanya untuk kurasi dan membuat Kata Pengantarnya.

“Yang ini gimana, mas? Kalau nggak lolos ya nggak apa-apa. Aku cetak seperti rencanaku yg awal saja.”

Aku tak tahu, chat barusan itu terkesan memaksa atau tidak. Aku hanya minta kejelasan dari mas Rizal.

“Maafkanlah Mbak. Ini aku lagi lost contact ama BB.Iya. Cetak aja dulu.” Sarannya.

“Berarti mas Zal yg tuliskan Kata Pengantar ya. Pleaseeeeee!!!”

“Laaaaaaaa?”

“Pokoke iki kudu. Oke ya!”

“Hiks..aku, ya? Gak ada pilihan lainkah?

Lalu kubalas dengan chat, “Nggak usah banyak-banyak. Yang penting mas Rizal tuliskan Kata Pengantarnya. Nggak ada pilihan lain. Mas Rizal sendiri yang sudah bilang bisa gitu kok. Sudah kulingkari di screenshot tadi.”

Kuingatkan kembali pada prinsip mas Rizal, kalau salah ketik, apapun yang tertulis, tak akan dihapusnya.

“Apa yg sudah tertulis, pantang dihapus kan?”

“Iyaaaaa..siap laksanakeun, Cekgu.”

“Okeee. Sip. Seminggu bisa kan?”

“Insyaaallah.”

Bagaimana dengan nasib Kata Pengantar? Aku tak yakin kalau mas Rizal mau membuatkannya. Tapi apa salahnya kalau aku menunggu. Toh dia sudah janji. Heee… .

 

Branjang, 23 Juli 2022

Tinggalkan Balasan