Episode Seteru Cover Buku

Cerpen, KMAB, YPTD276 Dilihat
Logo KMAB oleh Ajinatha

Kalau bicara tentang sahabat di seberang pulau sana, rasanya tak ada habisnya. Apalagi kalau berkaitan dengan proyek buku emak-emak.

Ada saja yang membuat dewan penasehat dan emak-emak sebagai penulis bersitegang. Mulai sulitnya minta Kata Pengantar dari mas Rizal sampai pembuatan cover buku.

Konsep cover buku kubuat. Ya ala-ala akulah. Cuma iseng-iseng. Rencananya mau aku minta mas Elang untuk menyempurnakan cover yang kubuat.

Kenapa cover harus dibuat mas Elang? Itu karena kabar dari mbak Daya. Mbak Daya bilang, semua cover buku pemenang event Widz dibuat mas Elang. Jadi, aku menghubunginya.

Konsep kukatakan kepada mas Elang. Lalu dibuatlah. Sayangnya cover yang dibuat terlalu norak dan kurang mewakili isi buku. Dirombaklah cover. Diganti dengan gambar lain. Belum cocok juga.

Akhirnya foto anak-anak mbak Ummu yang dipilih untuk gambar cover buku. Mas Elang berhasil membuat cover yang disepakati emak-emak dan mas Rizal. Ya, cover dari mas Elang aku share di grup Telur Ceplok. Semua setuju. Tak terkecuali mas Rizal.

Namun pada akhirnya keadaan berbalik arah. Mas Rizal keberatan kalau namanya tercantum di cover buku bagian depan. Jadi mas Rizal langsung menghubungi mas Elang. Dia meminta mas Elang untuk menghapus namanya dari cover.

Perdebatan soal nama Rizal di bagian cover sempat memanas. Emak-emak tetap menginginkan nama mas Rizal tetap berada di cover buku. Sementara mas Rizal tidak mau. Entahlah ada apa dengannya.

Ributlah emak-emak melawan mas Rizal. Mas Elang sendiri bingung karena antara mbak Ummu dan mas Rizal punya keinginan yang beda.

“Iya bingung yang satu pengen gini, yang satunya pengen gitu.” Ungkap mas Elang.

“Satu itu siapa. Satu lagi siapa?” Tanyaku penasaran.

“Kalau aku tahunya, Emak-emak kompak lho,” lanjutku.

“Mbak Ummu sama uda Rizal”.

“Hmmm… Begitu rupanya. Padahal aku sudah tanya lewat grup loh sebenarnya. Ke semua anggota. Ada masukan atau nggak. Nah mas Rizal bilang manut. Eh ternyata berbalik. Ya wis. Sampai kelabakan juga. Mosok namanya nggak dicantumkan di cover buku.”

**

“Ternyata mas Rizal langsung komunikasi sama mas Elang ya?” Aku mencecar informasi dari mas Elang.

Mas Elang mengiyakan untuk menjawab pertanyaanku. Lalu mas Elang membuatkan cover lagi yang kira-kira disepakati mas Rizal dan emak-emak.

“Coba rembug lagi, mbak,” usul mas Elang.

“Sampai capek rembugan. Aku sampai gemes loh sebenarnya”.

“Makanya. Apalagi aku yang buatnya. Hahahah…”

“Ya yang sabar ya. Sabar itu subur. Percayalah.”

**

Akhirnya cover disepakati penulis dan sang penasehat plus editornya. Sebelumnya aku sempat protes sama mas Rizal.

“InsyaAllah itu nggak ada komplain lagi. Mas Rizal aku marahi. Ahahah.” Ujarku pada mas Elang.

 

Branjang, 9 Juli 2022

 

Tinggalkan Balasan