
Lama tak menyapa sahabat di WAG para penulis, aku terpaksa nimbrung. Gara-gara seorang teman yang tinggal di Klaten mau menulis tentang pantai selatan di sepanjang wilayah selatan Gunungkidul.
“Pinarak gubuk kula menawi dhateng Gunungkidul, mbak,” sambutku pada chat mbak Yuli. (Mampir gubuk saya kalau ke Gunungkidul, mbak).
“Injih, Insyaa Allah, Mbak.” Balasnya.
Ya terkadang dari chat grup bisa saling mengenal satu sama lain. Biasanya yang dikenal adalah tulisannya. Di grup WA, bisa saling menyapa, bercanda. Benar kata orang kalau HP bisa mendekatkan yang jauh dan bisa menjauhkan yang dekat.
“Dekat pantai ya, Mbak?” Tanya mbak Yuli lagi.
“Lumayan dekat, mbak. Cuma se-jam dari rumah untuk ke pantai. Hehehe.” Candaku. Tapi tentunya rumahku memang lebih dekat untuk ke pantai selatan ketimbang mbak Yuli.
“Aku di kecamatan Karangmojo. Kalau pas hari libur, perempatan Karangmojo sampai macet. Kebanyakan bus-bus atau mobil memang dari arah Utara. Nah kalau orang Gunungkidul sukanya malah ke Semarang. Hahaha.”
“Kebalik ya, mbak? Hehehe.”
“Iya, mbak. Padahal belum tentu orang Gunungkidul sudah menjelajahi seluruh pantai yg ada di Gunungkidul. Contohnya aku. Ahahah.”
Terus terang, aku memang jarang ke pantai. Padahal wisata pantai selatan sangat banyak dan pengunjung menjamur dan membludak saat weekend atau hari-hari libur. Sementara orang-orang Gunungkidul malah senang plesir ke daerah Utara, seperti Semarang dan sekitarnya.
***
Chat grup memang seru. Bahan pembicaraan bisa bermacam-macam. Yang jelas, aku belum tentu bergabung dalam chat.
Tiba-tiba saja mbak Mira mengomentari obrolan seru antara aku dan Mbak Yuli. Mengejutkan dan mengundang tawaku.
“Selama ini aku kira Mbak Ida sekampung dengan pujangga Curup,” tulis mbak Mira.
Bagaimana tidak tertawa, wong ya aku orang Gunungkidul kluthuk, mas Rizal dari Curup, Bengkulu, sana.
“Ya Allah. Kula saget tukaran terus kalih pujangga Curup nek sekampung, mbak. Hahaha.” (Saya bisa bertengkar sama pujangga Curup kalau sekampung, mbak).
Kuketikkan lagi chat yang menjelaskan kalau aku dan mas Rizal jelas dari daerah yang berbeda. Tapi ya wajar sih sebenarnya kalau mbak Mira kurang tahu. Hanya Bu Siti yang kuberitahu, saat ada chat grup.
Aku japri Bu Siti. Kuceritakan kalau aku dan mas Rizal kelihatan dekat karena kebetulan satu persyarikatan. Cuma karena itu.
Eh…satu lagi. Dulu kami saling kerjasama dalam melahirkan buku Trio Emak. Berbeda pendapat, ada konflik sedikit, kesal jelas ada. Itulah yang menjadikan aku dan mas Rizal seperti orang sekampung halaman.
“Aku sama pujangga Curup cuma setanah air, seperti yang lainnya, mbak Mira.” Terangku.
“Iyah… Bisa ada kade erte. Heheh.” Komentar mbak Mira.
“Saya yang kena KDRT apa dia yang kena ya? Hahaha.”
“Aku cuman ngarang Bu Guru. Takut ah yang bersangkutan nggak suka dicandain. Hihihi.”
Bu Muth terbahak membacanya. “Pujangga Curup dengan pujangga satunya yang merangkap juragan emas. Hahaha,” komentar Bu Muth.
“Nah…nek kalih pujangga emas malah adem ayem, Bu.” (Kalau sama pujangga emas malah adem ayem, Bu.”
Kembali lagi Bu Muth tertawa.
***
Kuberitahukan perihal anggapan mbak Mira, kalau aku dan mas Rizal sekampung halaman, di grup Telur Ceplok. Mbak Ummu dan mbak Lina juga tertawa. Hehehe. Ada-ada saja.
“Bisa sekampung, mbak. Kalau SK njenengan nyasar sampai sana.” Mbak Ummu bercanda. Waktu itu aku memang tengah menunggu SK Guru PPPK setelah bulan Desember 2021 dinyatakan lulus seleksi ASN PPPK.
“Setuju, Bu.” Mbak Lina ikut mengamini candaan mbak Ummu. Hadehhh.
Melikan, 3 Agustus 2022








