Belajar dari Film The Miracle Worker

Film The Miracle Worker sangat apik untuk dilihat dan dinikmati. Film ini mengisahkan seorang anak yang tunanetra, tuli dan bisu. Kisah Helen Keller beserta keluarga Keller dan Annie Sullivan, gurunya.

Dari film ini, setiap anak dapat belajar dari kisah dan tekat Helen Keller. Helen Keller kecil pada awalnya seorang anak tunanetra, tuli dan bisu yang sangat frustasi, emosional, kejam dan tak terkendali.

Hal tersebut dikarenakan Helen Keller yang tidak mampu untuk berkomunikasi. Dan hanya memberikan “kode” untuk meminta sesuatu. Atau marah dan mengamuk jika orang-orang sekitarnya tak memahaminya.

Dengan kegigihannya Helen Keller yang tak mampu berbicara, pada akhirnya ia mau belajar berkomunikasi dengan bahasa isyarat jari bersama gurunya. Dan sekaligus sebagai tunanetra, ia tentu saja menyentuh benda-benda di sekitarnya untuk mengetahui nama dan sebagainya.

Kita juga dapat belajar dari sosok orang tua yang mau berusaha mendukung anak tunanetra untuk menjadi “orang”. Orang tua yang pada awalnya hanya memanjakan anak yang “berbeda” ini dengan dalih keterbatasannya. Selalu memberikan apapun permintaan si anak agar anak diam.

Selayaknya orang tua memberikan keleluasaan dan kepercayaan kepada guru untuk mendidim anaknya. Dan lebih pentingnya ikut menerapkan dan mengembangkan apa yang telah diajarkan sang guru kepada anaknya. Sehingga ilmu tidak menguap begitu saja.

Di sana pula ada peran sang pendidik, Annie Sullivan. Pendidik yang ulet dan totalitas. Pendidik yang pantang menyerah kepada kondisi dan keadaan si anak yang frustasi, emosional, kejam dan tidak terkendali.

Maka, sebagai pendidik, kita dapat belajar dari cara sang guru Helen Keller ini. Kesulitan dalam menemani belajar tentu ada. Tetapi jadikan hal tersebut sebagai tantangan.

Pendidik harus dapat menemukan cara agar si anak didiknya tertarik untuk selalu belajar. Memberikan reward and punishment.

Reward yang tak harus berupa hadiah, tetapi cukup dengan mengatakan, “kamu hebat” atau memberikan tepuk tangan. Kata sederhana yang akan memberikan dampak bagi si anak didik.

Sementara punishment yang diberikan bukan hukuman fisik. Tetapi lebih membentuk karakter si anak didik. Misalkan jika anak bersalah kepada teman, maka meminta si anak tersebut meminta maaf kepada temannya.

Jika anak belum mengerjakan tugas yang diberikan, maka guru dapat memotivasi anak untuk mengerjakan tugasnya. Dan guru dapat mendampingi si anak jika perlu.

Tinggalkan Balasan