Dunia yang Luar Biasa, Dunia Anak Berkebutuhan Khusus

Cover by Ajinatha

Sebagai lulusan Pendidikan Agama Islam dari sebuah Universitas swasta ternama di Yogyakarta, saya tak pernah membayangkan pada akhirnya akan terjun di dunia anak yang luar biasa. Meski ibu saya telah mengabdi di SLB di Karangmojo Gunungkidul.

Seiring berjalannya waktu, setelah beberapa bulan lulus, akhirnya saya mendengarkan pendapat ibu agar saya mengabdi di sekolah yang sama dengan ibu. Pertimbangan ibu saat itu karena kakak saya sudah mengabdi di Sekolah Dasar. Akhirnya saya terjun di dunia yang sama dengan ibu.

Saya tak pernah menganggap remeh dunia yang ku geluti sekarang ini. Meski anak-anak yang saya ajar bukanlah anak yang normal, tetapi ada tantangan ketika belajar bersama mereka.

Saya belajar banyak hal sejak awal mengabdi. Belajar berkomunikasi dengan anak-anak tunarungu. Saya tidak malu bertanya dengan Rahmadi, salah satu siswa tunarungu yang lebih cerdas dibanding teman-temannya.

Saya belajar bahasa isyarat dengan anak tersebut. Dan anak ini juga tidak sungkan mengajari saya yang benar-benar nol bahasa isyarat.

Sebenarnya banyak guru SLB yang tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat karena memang bidangnya di ketunaan lain. Tunanetra, tunagrahita atau tunadaksa. Jadi tidak mempelajari bahasa isyarat ini.

Selain itu, saya juga mempelajari baca tulis braille kepada salah satu guru. Beliau kebetulan menyandang tunanetra. Saya belajar bertahap. Sepuluh huruf pertama saya pelajari. Kemudian sepuluh huruf selanjutnya, hingga huruf z. Tentu saja saya belajar menulis masih dalam tulisan huruf kecil semua.

Kemudian saya belajar menulis kalimat dengan memperhatikan huruf besar dan huruf kecil. Dan juga memperhatikan tanda-tanda bacanya.

Saya juga belajar banyak bagaimana mendampingi anak berjalan dengan pendamping awas. Posisi pendamping dan si anak tunanetra ketika berjalan. Dan sebagainya.

Di dunia anak luar biasa ini saya juga belajar banyak hal dari anak tunagrahita. Bagaimana mereka belajar bertahap dan disesuaikan dengan kemampuannya, bukan disesuaikan dengan usianya.

Belajar dengan anak tunagrahita lebih dengan benda konkrit. Bukan mempelajari yang abstrak. Contoh saja, menghitung ya dengan benda yang ada di lingkungan sekolah. Kerikil misalnya.

Menghitung sisa belanja, juga dengan berbelanja langsung. Selain tahu harga barang-barang yang dibelinya, anak akan dapat menghitung sisa belanja dari uang yang dimiliki dikurangi jumlah total belanja.

Selain itu saya juga belajar banyak bagaimana bersikap dan melayani setiap siswa. Karena pelayanan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak. Tak bisa disamakan antara anak satu dengan lainnya. Karena memang seperti inilah Dunia yang Luar Biasa, Dunia Anak Berkebutuhan Khusus.

Tinggalkan Balasan