DAUN SEMBUKAN RASANYA TAK SESERAM NAMANYA

Terbaru792 Dilihat

Sekitar jam 06.00 utusan segera dikirim ke rumah penjual sumpil yang memakai nama tempat berjualannya Warung “Sumpil Pawon”, untuk memesan sarapan lebih dulu.

Pawon dalam bahasa Jawa berarti dapur, karena memang jualannya di dapur. Pelanggan dilayani dan menikmati makanan langsung di dapur yang punya rumah.

Pasalnya jika terlambat sedikit saja datang ke warung sarapan “Sumpil Pawon” dijamin tidak kebagian. Pedagang makanan yang disebut sumpil yaitu lontong atau ketupat dicampur sayur lodeh, kecambah pendek, seebuk yang disebut bubuk disantap dengan kerupuk atau rempeyek, memang menu sarapan khas daerah Tulungagung.

Tapi disamping sumpil yang terkenal di Warung “Sumpil Pawon” ini, ada satu makanan berupa pepes daun sembukan. Pepes ini cukup laris karena banyak penggemarnya.

Orang Jawa menyebutnya daun sembukan, di Sunda daun kahitutan atau dalam bahasa Indonesia daun ketut. Daun sembukan ini memiliki aroma khas yang tajam sedikit menyengat, mirip-mirip bau gas yang dikeluarkan dari perut manusia.

tanaman ini bahasa asingnya “Paederia Foetida” tercatat berasal dari Asia Tropic. Menyebar ke Polinesia, Melanesia dan kepulauan Hawaii.

Seperti umumnya tanaman yang dapat dijadikan dayuran, sembukan mengandung zat-zat gizi antara lain karbohidrat, vitamin C, alkaloid yang dipercaya memiliki berbagai manfaat, termasuk sebagai obat batuk, pereda kejang, dan pengobatan beberapa penyakit kulit. Juga
sitosterol, yang memiliki aktivitas antioksidan dan dapat membantu menurunkan kadar kolesterol. Ada flavonoid yang memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan, serta dapat membantu mencegah dan mengobati penyakit radang usus. Minyak atsiri dalam daun sembukan memiliki efek penekan batuk dan dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan hati.

Meski daun mentahnya berbau menyengat tetapi ketika sudah diolah menjadi pepes, rasanya cukup sedap, lunak dan renyah.

Tanaman ini babyak ditemukan di derah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Madura, dan Bali. Biasanya tumbuh liar di semak belukar, lapangan terbuka, atau pinggiran sungai.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom).

Tinggalkan Balasan