BAKIAK ALAS KAKI ANDALAN TRADISIONAL

Terbaru536 Dilihat

Hujan rintik-rintik sore itu menambah lincinnya pematang sawah. Tidak mudah ternyata menelusur jalan setapak pembatas antar petak sawah itu di waktu hujan. Tetapi untungnya tertolong oleh alas kaki tradisional yang disebut bakiak. Sehingga tidak tergelincir.

Bahan dasarnya memang berupa kayu dengan tali dari karet ban. Ketika sandal karet belum dikenal bakiak atau kelom serapan dari bahasa Belanda “Klompen” jadi andalan alas kaki. Dalam bahasa Jawa kuno disebut ” Terompah”.

Kuat dugaan, bakiak ini sudah dipakai sejak dari Dinasti Han di China atau Tiongkok sekitar abad ke-2 SM. Dipakai oleh bangsawan wanita yang dinamakan “Mu-ju” dalam dialek Hokkian, dilafalkan dengan “ba’kia” kemudian menjadi “bakiak” di Indonesia.

Bentuknya ada yang menyerupai sandal jepit dengan bagian seperti tiang pendek tempat yang dijepit antara ibu jari dan jari tengah kaki. Model seperti ini banyak dipakai oleh bangsa Jepang yang disebut “geta”.

Daerah Tasik Malaya di Jawa Barat terkenal dengan kerajinan khasnya berupa Kelom geulis. Diukir indah dengan warna-warni yang menarik. Kini Kelom geulis sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah yaitu bagian dari warisan budaya suatu komunitas atau kelompok, atau ada juga dalam perseorangan.  Warisan ini diteruskan dari generasi ke generasi. Seringkali sebagai apresiasi terhadap lingkungan dan interaksi dengan alam dan sejarah yang memberikan identitas budaya secara berkesinambungan tirun temurun.

Bakiak terus dipakai oleh pekerja di perkebunan-perkebunan dan pertanian zaman Belanda hingga abad ke-20, karena kekokohannya melindungi telapak kaki dari cedera.

Bakiak juga dikembangkan dalam permainan yang sering dilombakan. Bahkan digunakan sebagai sarana untuk membangun kerjasama tim karena penggunaan bakiak panjang membutuhkan kekompakan dan kerjasama antar pemain agar dapat bergerak maju tanpa terjatuh.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan