Oleh: Dr. Nani Kusmiyati, S.Pd., M.M., CTMP

Menulis buku ini ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Ketika pertama kali muncul keinginan untuk menuliskan perjalanan hidup dan pengabdian selama 38 tahun, saya berpikir bahwa semuanya akan mengalir begitu saja. Ternyata tidak.
Saya harus kembali membuka lembaran-lembaran masa lalu yang sebagian sudah tersimpan begitu lama dalam ingatan. Saya harus mengumpulkan foto-foto lama, sejak saya masih berpangkat Sersan Dua hingga akhirnya mencapai pangkat Letnan Kolonel. Foto-foto yang dahulu mungkin hanya saya anggap sebagai dokumentasi perjalanan, ternyata menjadi bagian penting untuk menghidupkan kembali kenangan yang telah berlalu puluhan tahun.
Ada foto yang masih tersimpan dengan baik, ada pula yang harus saya cari kembali kepada sahabat dan rekan seperjalanan. Dari satu foto, muncul sebuah kenangan. Dari sebuah kenangan, muncul cerita. Namun, tidak semua peristiwa dapat saya ingat dengan sempurna. Ada bagian-bagian yang mungkin sedikit miss, baik mengenai waktu, tempat, maupun detail suatu kejadian. Karena itu, saya berusaha menulis berdasarkan apa yang saya ingat, apa yang saya alami, dan apa yang masih dapat saya telusuri kembali melalui dokumentasi yang ada.
Menulis buku ini pada akhirnya menjadi perjalanan kembali ke masa lalu.
Saya seolah-olah kembali menjadi seorang prajurit muda yang dahulu memulai pengabdian dari bawah. Dari perjalanan sebagai Sersan Dua, mengikuti berbagai pendidikan dan penugasan, mendapatkan kesempatan belajar, bertemu banyak orang, menjalankan tugas di dalam maupun luar negeri, hingga akhirnya menyelesaikan pengabdian selama 38 tahun di lingkungan TNI Angkatan Laut.
Namun, semakin jauh saya menulis, semakin saya menyadari bahwa buku ini tidak boleh hanya menjadi cerita tentang pangkat, jabatan, pendidikan, atau penugasan.
Saya ingin buku ini berbicara tentang perjalanan manusia.
Tentang bagaimana seseorang belajar dari keadaan. Tentang bagaimana menghadapi kesulitan. Tentang bagaimana menjaga amanah ketika diberi tanggung jawab. Tentang bagaimana tetap berusaha ketika jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. Dan tentang bagaimana pengalaman hidup dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.
Mencari Cover yang Tepat
Salah satu hal yang cukup menguras pikiran adalah menentukan sampul buku.
Saya tidak ingin cover buku ini bertentangan dengan ketentuan, nilai, maupun citra institusi TNI Angkatan Laut. Saya sangat memahami bahwa ada identitas dan kehormatan institusi yang harus tetap dijaga.
Karena itu, pemilihan cover bukan sekadar persoalan estetika. Saya harus mempertimbangkan bagaimana sebuah perjalanan pribadi dapat dituangkan dalam bentuk visual tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap institusi tempat saya mengabdi selama puluhan tahun.
Demikian pula dengan isi buku.
Saya tidak ingin buku ini menjadi tempat untuk membanggakan diri. Saya ingin menceritakan perjalanan sebagaimana adanya, dengan segala tantangan, kesempatan, kegembiraan, kesedihan, keberhasilan, dan kekurangannya.
Jika ada sesuatu yang baik dalam perjalanan saya, semoga dapat menjadi inspirasi. Jika ada kekurangan atau kesalahan, semoga dapat menjadi pelajaran.
Bagi saya, itulah makna sebuah refleksi.
Tidak Mudah Mendapatkan Dukungan dari Sesama Seragam
Ada satu hal yang juga menjadi pengalaman tersendiri selama proses penulisan.
Saya menyadari bahwa dukungan terhadap buku ini tidak selalu datang dari tempat yang saya bayangkan. Dari lingkungan sesama baju seragam, apresiasi yang saya harapkan ternyata tidak sebanyak yang saya kira.
Sebaliknya, saya justru mendapatkan perhatian dan apresiasi dari sahabat-sahabat di luar lingkungan militer. Beberapa di antaranya adalah sahabat penulis dan sahabat yang saya kenal selama menempuh pendidikan S3 di Universitas Negeri Jakarta.
Memang jumlahnya tidak banyak. Tetapi bagi saya, dukungan yang sedikit namun tulus memiliki arti yang besar.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa sebuah karya tidak selalu harus mendapatkan apresiasi dari lingkungan terdekatnya. Kadang-kadang, justru orang lain yang melihat nilai dari sebuah cerita yang kita tuliskan.
Saya bersyukur kepada sahabat-sahabat yang memberikan dorongan, masukan, membaca tulisan, membantu mencari dokumentasi, maupun sekadar mengatakan, “Teruskan, Bu. Buku ini harus selesai.”
Kalimat sederhana seperti itu ternyata sangat berarti.
Satu Tahun yang Panjang
Buku ini akhirnya selesai setelah melalui proses yang cukup panjang—kurang lebih satu tahun.
Bagi saya, satu tahun terasa sangat lama.
Ada saat ketika semangat menulis begitu tinggi. Namun ada pula masa ketika saya berhenti karena harus kembali mencari foto, mengingat sebuah peristiwa, membuka kembali dokumen lama, atau sekadar merenungkan apakah cerita yang saya tuliskan memang layak untuk dibagikan.
Menulis tentang diri sendiri ternyata membutuhkan keberanian.
Bukan keberanian untuk menceritakan keberhasilan, tetapi keberanian untuk melihat diri sendiri secara jujur.
Saya harus bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya ingin saya tinggalkan melalui buku ini?
Jawabannya kemudian semakin jelas.
Saya tidak ingin meninggalkan sekadar daftar perjalanan karier. Saya ingin meninggalkan nilai dan pelajaran hidup.
Bukan untuk Menyombongkan Diri
Saya menulis buku ini bukan untuk mengatakan bahwa perjalanan saya adalah perjalanan yang paling hebat.
Sama sekali bukan.
Saya hanya ingin merefleksikan perjalanan hidup dan karier yang telah saya jalani selama 38 tahun.
Ada begitu banyak orang yang berperan dalam perjalanan tersebut. Ada atasan yang memberikan kesempatan, senior yang memberikan arahan, rekan kerja yang mendampingi, sahabat yang menguatkan, keluarga yang menjadi tempat kembali, serta berbagai pengalaman yang tanpa saya sadari telah membentuk diri saya menjadi seperti sekarang.
Karena itu, ketika saya melihat kembali perjalanan tersebut, saya semakin menyadari bahwa tidak ada keberhasilan yang benar-benar berdiri sendiri.
Di balik satu langkah, selalu ada banyak tangan yang pernah membantu.
Di balik satu pencapaian, ada doa dan pengorbanan yang mungkin tidak terlihat.
Dan di balik sebuah perjalanan panjang, selalu ada pelajaran yang layak dikenang.
Dari Seorang Sersan Dua hingga Menjadi Letnan Kolonel
Ketika saya mengingat kembali perjalanan dari seorang Sersan Dua hingga Letnan Kolonel, saya sendiri terkadang merasa seperti sedang membaca cerita kehidupan orang lain.
Waktu berjalan begitu cepat.
Dulu saya hanya seorang prajurit muda yang menjalankan tugas sebaik mungkin. Saya tidak pernah tahu ke mana perjalanan itu akan membawa saya.
Ternyata perjalanan tersebut mempertemukan saya dengan berbagai pengalaman, pendidikan, penugasan, perjalanan ke berbagai tempat, serta orang-orang yang memberikan warna dalam kehidupan saya.
Ada masa-masa yang mudah.
Ada pula masa-masa yang sangat sulit.
Tetapi semuanya memiliki makna.
Dari sanalah saya belajar bahwa karier bukan hanya tentang naiknya pangkat atau bertambahnya jabatan. Karier adalah proses pembentukan diri.
Semakin tinggi tanggung jawab yang diberikan, semakin besar pula amanah yang harus dijaga.
Mengapa Buku Ini Saya Tulis?
Pada akhirnya, saya menulis buku ini dengan satu harapan sederhana.
Semoga buku ini memiliki manfaat.
Pertama, bagi diri saya sendiri, sebagai catatan dan refleksi perjalanan hidup yang telah saya lalui.
Kedua, bagi anak cucu saya, agar suatu hari mereka dapat mengetahui bagaimana perjalanan kehidupan orang tua atau neneknya. Mereka dapat melihat bahwa setiap pencapaian membutuhkan proses, perjuangan, kesabaran, dan doa.
Ketiga, bagi siapa pun yang membaca, semoga ada satu atau dua hal yang dapat dipetik sebagai pelajaran.
Mungkin bukan kisah besar yang mereka cari.
Mungkin hanya satu kalimat.
Satu pengalaman.
Satu keputusan.
Atau satu cerita tentang bagaimana seseorang pernah menghadapi kesulitan dan memilih untuk tetap melangkah.
Jika satu bagian kecil dari buku ini dapat memberikan semangat kepada seseorang untuk tidak mudah menyerah, maka bagi saya buku ini sudah memiliki arti.
Terima Kasih kepada Mereka yang Membantu
Saya bersyukur bahwa perjalanan panjang penulisan ini akhirnya dapat membawa buku Meniti Waktu, Menjaga Amanah: Pelajaran Hidup dari Sebuah Pengabdian sampai ke tahap penerbitan dan memperoleh ISBN melalui Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD).
Saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada keluarga besar YPTD yang telah memberikan dukungan dalam proses lahirnya buku ini.
Terima kasih kepada Bapak Thamrin Dahlan, Ibu Enida Busri, Mbak Amalia, Ibu Sri Sugiastuti, Mas Yassin, serta para sahabat penulis lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu.
Setiap bantuan, perhatian, masukan, dan dukungan yang diberikan menjadi bagian dari perjalanan buku ini.
Buku ini mungkin saya yang menulis, tetapi sesungguhnya banyak orang yang ikut membantu menghadirkannya.
Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai
Kini, ketika buku ini akhirnya terlahir, saya melihatnya bukan sebagai akhir perjalanan.
Justru sebaliknya.
Buku ini menjadi pengingat bahwa setelah 38 tahun mengabdi, masih banyak hal yang dapat dipelajari, dibagikan, dan dilakukan.
Saya percaya bahwa setiap manusia memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Tidak semua perjalanan harus sama. Tidak semua keberhasilan harus diukur dengan pangkat, jabatan, atau penghargaan.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani amanah yang diberikan kepada kita.
Apakah kita telah memberikan yang terbaik?
Apakah kita telah memberikan manfaat?
Apakah setelah kita meninggalkan suatu tempat, ada sesuatu yang masih dapat dikenang oleh orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus saya bawa dalam perjalanan berikutnya.
Saya menyadari bahwa waktu tidak dapat diulang. Tetapi pengalaman dapat dikenang, dituliskan, dan diwariskan.
Karena itu saya memilih untuk menuliskan perjalanan ini.
Bukan untuk membanggakan masa lalu.
Bukan pula untuk menunjukkan bahwa saya telah mencapai sesuatu yang luar biasa.
Saya hanya ingin berkata kepada diri saya sendiri, kepada anak cucu, kepada sahabat, dan kepada siapa pun yang membaca buku ini:
“Inilah perjalanan yang pernah saya jalani. Inilah pelajaran yang saya dapatkan. Semoga apa yang baik dapat diteruskan, dan apa yang kurang dapat menjadi pembelajaran.”
Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang berapa lama kita menjalani perjalanan, tetapi tentang apa yang kita tinggalkan sepanjang perjalanan tersebut.
Meniti waktu, menjaga amanah, dan terus memberikan manfaat.
Jakarta, 2 Oktober 2026
Dr. Nani Kusmiyati, S.Pd., M.M., CTMP






