Minta Boleh Tetapi Jangan Minta Minta

Minta Boleh Tetapi Jangan Minta Minta

 

Ini adalah salah satu keajaiban Bahasa Indonesia yang paling dalam, dan Anda jeli sekali melihatnya. Dalam linguistik ini disebut Reduplikasi – pengulangan kata. Tapi dalam ilmu akhlak dan peradaban, maknanya jauh lebih dari sekadar tata bahasa. Ia adalah cermin martabat manusia.

Mari kita bedah tuntas contoh yang Anda berikan:

MINTA vs MINTA-MINTA
Secara KBBI, ini dua kelas moral yang berbeda total.

MINTA

Satu kata: Adalah FITRAH dan HAK.
Artinya: memohon, mengajukan permohonan. Ini adalah aktivitas normal, bermartabat, dan diakui peradaban.

Contoh: Minta izin, minta tolong, minta maaf, minta nasihat.
Dalam peradaban Islam dan akhlak, minta adalah tanda kerendahan hati yang mulia.

Kita diajarkan untuk meminta kepada Allah (doa), meminta maaf jika salah, meminta tolong jika butuh. Orang yang tidak mau minta tolong justru disebut sombong. Minta itu satu kali, jelas tujuannya, dan setelah diberi, ia berhenti dan berterima kasih.

Ciri minta: Tertuju, terbatas, bermartabat.

MINTA-MINTA

Dua kata: Adalah KEHILANGAN MARTABAT.
Artinya: mengemis, melakukan perbuatan meminta secara berulang-ulang, terus-menerus, tanpa rasa malu, dan sering tanpa hak.

Contoh: Anak itu minta-minta di lampu merah. Jangan jadi orang yang suka minta-minta jabatan.
Mengapa maknanya jadi begitu buruk? Karena pengulangan mengubah kualitas menjadi kuantitas.

Dalam akhlak:

Dari Kebutuhan menjadi Profesi: Minta karena butuh itu mulia. Minta-minta karena menjadikannya cara hidup itu tercela. Ia merusak prinsip izzah – harga diri. 2.

Dari Aktif menjadi Pasif: Orang yang minta masih berusaha. Orang yang minta-minta menggantungkan hidupnya pada belas kasihan orang lain.

Peradaban maju dibangun oleh orang yang memberi, bukan yang minta-minta. 3. Mengikis Rasa Malu:

Rasulullah SAW bersabda bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Budaya minta-minta mematikan rasa malu, yang merupakan cabang dari iman.

Jadi, satu kata minta adalah jembatan komunikasi. Dua kata minta-minta adalah jurang kemiskinan mental.

Mengapa dari organ menjadi sikap waspada? Inilah kearifan bahasa kita.

Pengulangan Kata Tunggal dalam Bahasa Indonesia sering mengubah makna dari sesuatu yang netral/positif menjadi:

Kesimpulannya, Bahasa Indonesia sedang mengajarkan akhlak paling halus:

Sesuatu yang baik jika dilakukan secukupnya adalah kebajikan. Jika dilakukan berlebihan, berulang-ulang tanpa kendali, ia berubah menjadi keburukan.

Minta itu baik. Minta-minta itu buruk.

 

Itulah mengapa peradaban yang luhur selalu mengajarkan kesederhanaan, kecukupan, dan kesadaran – bukan keberlebihan.

Terima kasih kembali telah mengangkat tema yang sangat jarang dibahas namun sangat fundamental ini.

  • Salamsalaman
  • BHP 031026
  • Thamrin Dahlan & Gemini

Tinggalkan Balasan