“ Amit – amit cabang bayi, aku masih normal Andi hanya saja belum ada wanita yang membuatku terpesona itu saja.”
Sebentar tadi aku menwhatsaap andi mengatakan bahwa ada wanita yang menarik hatiku, setelah beberapa kali menelepon Cahaya tapi tidak ada respon darinya.
“ Seperti apa orangnya sampai membuat temanku yang ini tergila – gila.”
Aku tersenyum mendengar celotehnya Andi.
“ Melihatmu tadi fokus dengan handphonemu sehingga tidak mendengar bawahanmu mengetok pintu, pasti luar biasa pesonanya.” Aku hanya tersenyum mendengar kata – kata Andi. Andi memilih duduk dikursi tamu diruanganku, mau tidak mau akupun berdiri dan duduk dikursi tamu ruanganku. Tok , tok bunyi pintuku di ketok, bawahanku membawakan kopi yang tadi aku pesan.
“ Permisi pak, silakan di minum kopinya.”
“ Terima kasih”
Andi mengambil cangkir kopi dari meja dan menyeruputnya, sambil memandangku meletakkan lagi cangkir kopi di meja.
“ Bagaiman sudah ada perkembangan dari cewek yang ditaksir”
“ Belum, dia tidak mengangkat telephoneku.”
“ Telephone lagi, kejar terus. Atau kita kekantornya sekarang?”
“ Gila, nanti malah kabur lagi karena dikiranya aku mau menerornya.”
“ Indra kau selalu begitu terlalu bertele – tele nanti di ambil orang baru tahu”
Aku hanya tersenyum mendengar penuturan Andi.
“ Biarkan aku dengan caraku, aku janji dia akan menjadi milikku.”
Andi tertawa mendengar perkataanku
“ Itu baru temanku.”
***
Merebahkan badan yang penat seharian bekerja, tapi pikiranku tidak lepas dari Cahaya. Besok aku akan mengirim bouqet bunga kekantor Cahaya saja hanya itu ide yang terlintas di kepalaku saat ini, mengambil foto Cahaya yang aku letakkan dimeja kecil disamping tempat tiduku. Menatap fotonya sambil berkata
“ Kau harus menjadi milikku.” Meletakkan fotonya di dadaku dibagian hati seperti malam kemaren membuat aku terasa dekat dengan Cahaya. Perlahan – lahan mataku tertutup lelah membuatku mengantuk.
Azan subuh sepertinya belum berkumandang, tapi aku terbangun dari tidurku. Melihat jam dinding dikamar, baru pukul 3 pagi. terlintas di benakku lebih baik aku berhajat kepadanya supaya Cahaya menjadi milikku. Kulangkahkan kaki ke kamar mandi untuk berwudhu.
“ Allahuakbar” memulai sholat hajatku meminta Cahaya kepadanya biar menjadi milikku. Kembali merebahkan badanku pada kasur, tidak berniat untuk tidur lagi hanya menunggu azan subuh berkumandang sambil memikirkan Cahayaku.
***
Hari ini aku akan mengirimkan bouqet bunga untuk Cahaya, memanggil office boy lewat intercom diruangku.
“ Pagi pak, bapak memanggil saya?”
“ Din belikan saya bouqet bunga mawar berwarna merah, kirimkan kealamat ini” kata ku sambil menyerahkan sejumlah uang dan alamat kepada office boy kantorku.
“ Kembalianya untuk kamu saja, terima kasih”
Jam menujukkan pukul 10 pagi, aku memperkirakan sebelum jam makan siang Cahaya pasti sudah menerima bouqet bungaku. Semoga ini menjadi awal yang baik buat hubungan kami berdua, amin. Aku melanjutkan tugasku memeriksa sejumlah laporan yang masih belum sempat selesaikan, sambil tersenyum – senyum sendiri. Untung saja aksiku ini tidak ada yang melihatnya, apalagi sampai Andi melihatnya pasti aku habis dijadikan bahan bulianya sepanjang hari. (bersambung)
***






