Tidurku lelap, suara merdu menyebut namaku. Sudah mau subuh bang, bangunlah. Aku membuka mataku, melihat wajah cantik istriku. Rambutnya basah, tersipu malu memandangku. Terahim sudah terdengar sebentar lagi azan subuh pasti akan terdengar, aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Mandi wajib dan mengambil wudhu, keluar kamar mandi aku melihat istriku sudah membentangkan sejadah buatku sementara dirinya sudah duduk menanti aku selesai mandi. Mengambil baju sarung di atas kasur yang sudah disediakannya. Mengenakan kopiah, sambil memandang kearahnya
“ sudah siap menjadi makmum?” aku melihat istriku menganggukan kepalanya atas pertanyaanku.
“Allahuakbar”
“ Asssalamualikumwarahmatullah… Asssalamualikumwarahmatullah.” Salam penutup sholat aku ucapkan. Selesai berdoa aku membalikkan badan menghadap istriku, meraih tanganku menciumnya, aku mencium pucuk kepala istriku. Mengangkat kepalanya duduk bersimpuh didepanku.
“ Terima kasih sudah menjadi Imamku” suara lembutnya membuatku bahagia
“ Maafkan abang karena membuat Cahaya menderita” aku menantap istriku dengan mata penuh penyesalan.
“ Allah menguji cinta kita, Cahaya ikhlas.” Sekali lagi aku dibuat terharu oleh istriku
“ Terima kasih sudah menunggu dan menerima abang sebagai imammu.” Menangkup wajah istriku memberikan kecupan mesra di dahinya. Senyum itu, tersipu malunya membuat aku bertambah sayang dan cinta kepadanya.
“ Terima kasih Ya Allah atas karuniamu yang terindah dan biarkan kami menua bersama dalam suka dan duka.”
“ Amin, “ doaku dijawab istriku, ya Cahaya sekarang istriku setelah aku membuatnya menderita 1 tahun lamanya. Tapi sekarang aku sudah menemukan tulang rusukku yang hilang satu.***
Tamat






