Tinggal Kenangan (Part akhir)

Sejak saat itu kami sering bertemu, kadang ada Ira, kadang hanya aku sendiri saja. tak ada yang istimewa pada awalnya, karena aku menganggap Bang Akmal hanya berbasa – basi saja. seperti teman – teman cowok lainnya mendekati hanya untuk lebih dekat dengan Ira. Ya Ira sahabatku, cantik bagaikan bidadari dengan semua yang diinginkan seorang gadis ada padanya. Badan tinggi semampai, mata bulat dengan bulu mata lentik dan bibir seksi serta pipi bak pauh putih melepak.

Hari ini aku bertemu dengan Bang Akmal sendiri, Ira sudah keluar dengan seseorang yang baru pendekatan dengannya.

“Assalamualaikum.” Salam seseorang akhirnya memaksaku keluar dari kamar kos. Maklum malam minggu semua anak kos pergi bersama seseorang yang special hanya aku yang kayaknya betah di kos. Bukan betah tapi membetahkan diri karena tidak ada mengajakku pergi lebih tepatnya tertarik dengan diriku.

“Walaikumsallam.” Menjawab salam sambil membuka pintu depan rumah kos.

“Bang Akmal?”  Tanyaku heran melihat kehadirannya di malam minggu seperti ini.

Biasanya Bang Akmal datang tidak pada malam minggu, itu karena ada titipan atau apalah yang berhubungan dengan Ira. Jika Ira tidak ada hanya sekedar basa – basi Aku menemaninya karena Bang Akmal selalu membawa makanan sehingga tidak mungkin aku mengusirnya pulang setelah mendapatkan makanan, sungguh terlalu.

“Iranya pergi Bang.” Sebelum Bang Akmal bertanya aku sudah terlebih dahulu berbicara.

“Abang tidak mencari Ira.” Ucap Bang Akmal, membuatku bingung mendengar perkataannya.

“Bolehkan Bang Akmal mencari Ais?” ucapnya lagi

“Ada perlu apa ya Bang?” Tanyaku bingung

Bukanya menjawab pertanyanku, Bang Akmal malah balik bertanya

“Memangnya harus ada alasan ya untuk mencari Ais?” ucapanya membuatku bertambah bingung dibuatnya.

“Nih ada makanan, disalin dulu. Abang mau makan bersama Ais.” Aku mengambil bungkusan yang diberikan Bang Akmal dengan perasaan masih bercampur aduk. Tapi aku tetap menyalin Mie goreng yang dibawa Bang Akmal dan menyajikannya. Bang Akmal langung menyantap mie yang aku sodorkan kepadanya.

“Kok mienya belum di makan?” pertanyaan Bang Akmal membuatku gagap karena dari tadi aku hanya memandang Bang Akmal makan dengan perasaan aneh, kenapa malam minggu begini mencariku ada perlu apa?

Akhirnya aku memaksakan diri menyuap mie ke dalam mulutku dan ikut makan bersama Bang Akmal dengan perasaan heran tentunya.

Setelah selesai makan, aku ingin membawa piring bekas kami makan kebelakang.

“Ais nanti saja antar piringnya.” Sambil berkata Itu tangan Bang Akmal menarik leganku untuk duduk kembali, malam minggu begini kos selalu sepi hanya Aku penghuni setianya.

“Ada apa Bang?” Tanyaku setelah duduk kembali

Lama Bang Akmal menatapku, tapi tidak sepatahpun kata yang keluar dari mulutnya

“Ada apa sich Bang?” Tanyaku sekali lagi.

“Ais sudah punya seseorang yang istimewa? Jika belum izinkan abang menjadi yang istimewa buat Ais.” Pernyataan Bang Akmal membuat jantung berhenti sejenak, hatiku jadi tidak menentu karena perkataannya. Aku bingung, apa yang harus aku jawab.

“Ais tidak mengerti maksud Abang.” Akhir hanya kata itu yang keluar dari mulutku.

“Ais pasti tahu apa maksud Abang, berarti Ais sudah ada yang lain. Maafkan jika Abang terlangcang bertanya.” Nada bicara Bang Akmal langsung berubah, aku jadi tidak enak mendengarnya.

“Ais hanya merasa mendadak saja Abang mengatakannya, berikan Ais waktu.” Akhirnya aku bisa mengatur kata agar Bang Akmal tidak tersinggung.

Rasa canggung tak dapat dielakkan lagi, tapi itulah yang terjadi. Sesekali pandangan netra kami bertemu hanya senyum yang bisa saling kami berikan. Pukul 21.30 akhirnya Bang Akmal pamit

“Abang tunggu jawaban Ais secepatnya. Assalamualikum.” Aku hanya bisa begong melihat punggung Bang Akmal setelah motornya meninggalkan rumah kosku.

***

Semua sudah terlambat, ketika aku melabuhkan hatiku dan menetapkan pilihan hatiku, tapi yang ku terima malah pengkhianatan yang memporakperandakan hidupku.

“Ais sebaiknya ais tidak usah menerima Bang Akmal.” aku sempat kesal ketika Ira memberikan pendapatnya ketika aku bercerita masalahku dengan Bang Akmal.

“Ira tidak mau Ais menjadi korban yang kesekian dari Bang Akmal, Ira sayang sama Ais.” Aku tidak mengindahkan ucapan Ira saat itu.

Sudah beberapa kali aku mendail nomor gawai Bang Akmal tapi tidak ada jawaban. Aku tidak bisa ditipu lagi sudah beberapa kali aku melihat kebersamaan Bang Akmal bersama perempuan yang sama, tapi jika aku bertanya Bang Akmal mengelak dan berkata hanya teman kantor saja.

Hari ini tanpa sengaja aku melihatnya lagi, ciuman di kening wanita itu dari Bang Akmal pasti bukan ciuman biasa belum lagi pelukan mesra yang tidak bisa menipu siapapun yang melihatnya. Dan Aku yakin Bang Akmal tahu aku melihatnya, aku berusaha mengejar mereka tapi karena ramainya orang di Mall ini membuat aku kehilangan jejak mereka.

***

Dret …dret…dret gawaiku bergetar, aku melihat dengan malas layarnya ada chat yang masuk.

“Maaf, sepertinya hubungan kita harus sampai disini saja.” chat Bang Akmal yang baru saja masuk tidak lagi membuat luka dihatiku berdarah.

Aku hanya memandang chat itu, niat hati untuk menghapusnya belum sempat aku menghapusnya

“Ais terlalu polos, tidak cocok dengan Abang.” Masuk lagi chat Bang Akmal

“Abang harap kita masih bisa seperti dulu, Ais menjadi adek buat Abang seperti Ira.” Membaca chat ini membuat netraku akhirnya mengeluarkan air yang mengalir bagaikan air sungai.

Setelah aku membuka hati dan menerima Bang Akmal, dengan teganya dia mengatakan Aku tidak cocok untuk dirinya.

Aku menangis sejadi – jadinya, tak terhitung airmata yang keluar dari netra ini. Menangisi kebodohanku kenapa aku tidak mendengarkan perkataan Ira sahabatku. Untung saja aku masih bisa menjaga diriku, salah satu sebab mengapa Bang Akmal selalu merasa aku tidak mencintainya. Mencintai bukan berarti bisa berbuat sesuka hati, sebelum halal itu yang aku jaga. Lelah aku mengatakan aku mencintainya dan menyerahkan semuanya ketika kami sudah halal. Ternyata bukan jodohku.***

Tinggalkan Balasan