Lomba Mendaki Bukit

            Beberapa hari menjelang 17 Agustus, pemuda-pemudi di kampung Chayra sibuk sekali. Mereka sedang menyiapkan berbagai perlombaan untuk merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Ada lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang, lomba kukur kelapa, lomba balap karung dan masih banyak pertandingan seru lainnya. Kantor-kantor desa dan fasilitas umum lainnya dihias dengan berbagai pernak pernik merah putih. Masyarakat desa bersuka ria menyambut perayaan kemerdekaan.

Acara yang paling dinanti Chayra adalah lomba mendaki bukit. Di dekat balai desa, terdapat sebuah bukit yang tidak terlalu terjal dan tidak begitu tinggi. Bukit ini menjadi medan yang sering dijadikan arena hiking anak pramuka SD hingga SMA. Pemandangannya indah. Ilalang berbaris-baris di sepanjang kiri kanan jalan yang dilewati pendaki. Ditambah lagi, pendakian yang bermula dari kaki bukit dekat balai desa, nantinya akan tembus ke danau yang indah.

Tahun lalu, Chayra gagal menjadi pemenang. Chayra jarang olahraga sehingga tubuhnya tidak terlalu kuat untuk mendaki. Chayra sering berhenti untuk makan dan minum atau hanya untuk sekedar istirahat. Padahal ayah bunda sudah berpesan untuk rajin berolahraga agar kuat berjalan jauh. Namun Chayra tidak terlalu mendengarkan.

Sekarang, Chayra bertekad untuk menjadi peserta pertama yang sampai di garis finish. Dia sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari dengan olahraga teratur dan makan makanan dengan gizi seimbang. Dengan begitu, dia tidak akan mudah lelah dan tetap segar sampai di titik akhir.

Tak lama kemudian, hari yang dinantikan pun tiba. Berbagai perlombaan berlangsung meriah dan menyenangkan. Semua orang bersuka ria. Begitupun dengan Chayra. Ia bersama teman-temannya mengikuti lomba mendaki bukit. Banyak anak-anak yang mengikuti lomba ini. Para peserta memakai pakaian dan sepatu olahraga. Semuanya membawa tas ransel berisi minuman dan bekal yang cukup selama perjalanan.

“Tuuut….” Peluit pertanda lomba dimulai berbunyi. Anak-anak berjalan mengikuti petunjuk arah yang ditancapkan di arena lomba. Sebagai permulaan, Chayra hanya berjalan santai. Dia harus menghemat tenaganya agar tidak kehabisan sebelum sampai di garis finish. Selain untuk menghemat energi, Chayra juga ingin menikmati lukisan alam ciptaan Tuhan yang indah. Merasakan angin semilir yang memain-mainkan ujung jilbabnya.

“Apa kamu belum lelah Chayra?” tanya Decin dengan nafas tersengal-sengal.

“Lumayan sih. Kamu mau istirahat dulu?” tanya Chayra.

“Iya nih, aku mau minum dan makan dulu. Kamu boleh lanjut terus kok. Semangat!” ujar Decin sembari duduk menepi dan membuka ranselnya.

“Oke.” Chayra melanjutkan perjalanan.

Sudah sampai di puncak, Chayra beristirahat sejenak. Ia minum dan makan bekal untuk mengumpulkan tenaga. Setelah ini, ia berencana untuk mempercepat langkahnya. Beberapa peserta sudah mulai turun dan berada jauh di depannya. Namun banyak juga yang masih istirahat di belakang karena kelelahan.

Tak lama kemudian Chayra mulai turun bukit. Ia berjalan dengan cepat mendahului yang lain. Semangatnya untuk menang berapi-api. Banyak peserta yang dia lewati. Namun masih ada satu orang yang berada di depannya. Juga ada peserta di belakangnya yang juga berusaha mendahuluinya. Chayra melesat cepat demi menjadi juara pertama. Garis finish sudah semakin dekat. Panitia, orang tua dan masyarakat kampung menunggu di sana sambil bersorak sorai. “Aku  pasti bisa menang,” ucap Chayra di dalam hati.

“Ahrg…” terdengar teriakan dari belakang Chayra.

“Tolong aku, kakiku terkilir.” Ternyata itu adalah suara Noni yang berada di belakang Chayra. Dia terduduk sambil memegangi kakinya. Noni meringis kesakitan. Chayra kasihan melihatnya, namun dia ingin terus berjalan dan menjadi juara. Tiba-tiba hatinya bimbang. Kalau dia berhenti membantu Noni, otomatis dia akan kalah. Namun kalau dia terus melaju, hatinya tidak tega melihat Noni yang sedang kesakitan.

Pada akhirnya Chayra memutuskan berhenti. Ia segera memegangi kaki Noni dan memijitnya agar terasa lebih baik. Selagi Chayra membantu Noni, beberapa orang sudah berlari mendahuluinya. Hingga terdengar suara peluit panjang pertanda tiga pemenang sudah melewati garis finish.

“Maafkan aku ya Chayra. Kamu kalah gara-gara aku,” ucap Noni setelah kakinya terasa lebih baik.

“Tidak apa-apa kok Non. Dapat membantumu jauh lebih melegakan,” ujar Chayra.

Ayah bunda yang menyaksikan hal itu segera menghampiri Chayra. Mereka memeluk anaknya bangga. Mereka bahagia memiliki anak berhati baik seperti Chayra. Walau tidak menang lomba kali ini, namun Chayra memenangkan hati ayah bunda.

Tinggalkan Balasan