Menuju Takdir

Literasi575 Dilihat

Tiap pagi debu atau apapun bentuk kotoran yang bertengger di penutup aurat insan keluarga harus sudah sirna. Penutup aurat siap dikeringkan pada mesin cuci yang sudah setia selama hampir 11 tahun menemani hari hariku.

Tugas lain yang rutin ku jalani mempertemukan air dengan tanaman-tanaman bunga kesayangan. Mereka harus sedap dan segar dipandang setiap optik insan yang memandangnya. Kubuka kran air untuk mengisi timba yang istikomah setiap hari ku pakai. Ku angkat timba menuju depan rumah tempat tanaman-tanaman menunggu tuannya.

Sebelum kusiramkan air ke tanaman, teringat waktunya memeriksa ketersediaan minuman di sangkar burung perkutut. Kebetulan aku mempunyai dua burung perkutut pemberian teman dan tetangga.

Kubuka sangkar satunya, kubersihkan wadah minuman dan diisi air sampai penuh. Wadah minum kukembalikan pada posisi yang pas. Giliran membuka sangkar satunya. Kebetulan burung perkutut di sangkar yang satu bersuara merdu dan kencang sekali. Saat kubuka, perkutut sepertinya kaget dan ia mencoba menerobos sangkar yang saat itu ada bagian yang berlubang.

Konsentrasiku tertuju pada wadah minuman yang ada di sangkar. Si burung perkutut dengan tenangnya keluar lewat celah kecil yang ada. Kucoba menangkapnya, tapi ia mengelak dan terbang sekencang-kencangnya.

Dalam hati ada ketidakrelaan atas kepergiaannya. Sudah hampir 4 tahun si burung setiap menemani keluarga. Tapi hati mencoba rela terhadap kebebasannya menuju alam raya. Kadang aku kasihan melihatnya di dalam sangkar yang kecil. Sangkar yang sangat tidak ia harapkan untuk tempat hidup.

Suara merdu dan kencang yang keluar dari mulutnya membuatku senang. Mungkin itu rasa egoisku terhadapnya yang sangat diharapkan. Rasa egois yang muncul karena aktifitasku dalam merawatnya. Mungkin itu suara protes sang burung, tapi aku tidak paham arti suaranya pertanda protes.

Selamat menuju alam kebebasan wahai perkutut. Mungkin hari itu merupakan takdir baikmu untuk bebas menghirup udara normal. Lingkungan yang seharusnya engkau huni. Engkau tidak pantas berada di dalam sangkar kecil yang mengekangmu dalam berekspresi.

Ada pelajaran yang sangat indah dari peristiwa itu. Apa itu….?

Pelajaran yang mungkin terlupakan selama ini. Kebebasan berekspresi dan berkarya setiap insan. Kebebasan yang tanpa melupakan norma yang ada. Begitulah Si perkutut mungkin di alam sana lebih bisa mengekpresikan suara merdunya lebih sempurna. Ia bebas makan dan minum tanpa menunggu si tuannya.

Itulah sebabnya, setiap insan yang terkekang oleh aturan yang seharusnya tidak perlu akan tumpul dan mungkin mati bakat dan minatnya. Bakat dan minat yang mungkin nanti bisa membuatnya menuju kesuksesan. Semoga kita bisa.

Salam Literasi,

Kang Ahsan

 

Tinggalkan Balasan