
Curhat Pras
Aku dan Pras lebih sering dikirim ayah ke lapangan. Tapi tak ada lagi kisah seru antara kami. Percayalah. Yang ada paling Pras curhat tentang Rindu, perempuan ayu dari kampung. Ternyata mereka saling mengenal dan memiliki hubungan spesial sudah lama.
“Mas Pras segera nikahi dia. Biar nggak mikir macem- macem…”
Pras tertawa.
“Saya belum beranilah, mbak. Penghasilan saya pas-pasan…”
“Lho setahuku gaji mas Pras sudah lumayan…”
“Hahaaa… iya, mbak. Tapi saya masih punya satu adik yang harus dibantu biayanya…”
Aku terhenyak. Ternyata lelaki itu masih membantu kedua orangtuanya. Membiayai kuliah adik bungsunya.
“Bapak sudah lama tiada, mbak. Warisan hanya kesusahan saja. Dulu bapak punya perusahaan tapi hampir gulung tikar. Beruntung ada teman bapak yang membantu kami. Bahkan sampai saat ini masih ada transferan masuk untuk kami…”
“Kalau begitu kan mas Pras tidak perlu membiayai kuliahnya kan…”
Lagi-lagi Pras tertawa.
“Harus dihemat, mbak. Buat jaga-jaga ibu juga…”
“Waaah…keren, mas! Pasti ibunya baik banget sampai anak- anak selalu mikir beliau…”
“Iya, mbak. Luar biasa…”
“Jadi pingin ketemu beliau…”
“Ah… nggak usah, mbak. Mbak nanti bisa tertawakan kehidupan kami. Tapi bolehlah kapan- kapan mbak Ajeng saya ajak ke rumah kalau ada waktu…”
Aku tertawa.
“Kenapa, mbak?”
Kugelengkan kepalaku.
“Nanti aku ke sana kalau mas Pras menikah dengan mbak Rindu sajalah, mas…”
“Kenapa?”
“Ya nggak lucu juga kan. Kalau mas Pras sudah sering mengajak calonnya ke rumah trus saya juga diajak ke rumah. Nanti bisa runyam…”







