Ending Novel Novelis (17)

Cover by Ajinatha

Permintaan Rindu 

Dadaku terasa sesak, membayangkan bagaimana Pras menyikapi kekasihnya yang akan hidup dengan lelaki lain.

“Mbak Ajeng, mungkin yang cocok dengan Pras…”

Aku yang akan minum teh di depanku menjadi tersedak. Kugelengkan kepalaku. Bagaimanapun aku bukan siapa-siapa. Aku hanya rekan kerja di kantor. 

“Mungkin hanya mbak Ajeng yang bisa membangkitkan jiwa Pras nanti…”

“Nggak, mbak Rindu. Aku sudah lelah kerja kantoran seperti itu. Bukan jiwaku di sana. Aku akan mundur dan tidak mengurusi urusan perusahaan…”

“Mbak, dengerin saya dulu…”

Aku diam. Menyimak ucapan Rindu.

“Sejak saya melihat mbak Ajeng, saya merasa yakin kalau Pras bisa bersama mbak. Waktu itu ayah sudah ngasih warning untuk kami agar segera berpisah. Pras sedang down, mbak. Hampir setiap saat dia menghubungi saya untuk diberi kesempatan membuktikan dia bisa berhasil. Itu tak saya gubris, mbak…”

Rindu menghentikan ceritanya.

“Bukan karena saya matre, mbak. Bukan. Tetapi semata orangtua dan sayang saya ke Pras. Tanpa restu mungkin bisa hidup berdua tapi bisa jadi Pras akan dihina terus nantinya. Saya nggak tega membayangkan, mbak…”

Aku terus menyimak cerita Rindu.

“Di saat down itu, mbak Ajeng muncul di hidup Pras. Meski hanya cerita kalau menemani mbak, saya yakin nanti nama mbak akan sering keluar dari mulut Pras… dan benar, mbak. Dia lebih sering menyebut nama mbak Ajeng. Mulai dari pertama bertemu mbak yang menurutnya aneh dalam berkostum sampai perubahan cara berpakaian…”

” Dia sangat kagum dengan mbak. Saya jadi ikut senang, mbak. Dia menemukan perempuan yang memberinya semangat lagi. Kalau dia ke sini, saya bilang bapak ibu kalau dia nggak apel. Dia menemani calon pendampingnya, mbak. Ternyata sikap ibu dan ayah menjadi lebih baik…”

“Nanti kalau saya menikah, mbak datang bersama Pras ya…”

Tinggalkan Balasan