
Galau
“Kalau bapak sih terserah Ajeng saja, nak Pras. Tapi kalau benar nanti Ajeng mau dilamar nak Pras, nak Pras datang ke rumah kami bersama keluarga…”
Pras membuktikan ucapannya. Namun aku masih meragukannya. Tepatnya meragukan hatiku sendiri. Bagaimanapun aku pernah mencintai lelaki yang wajahnya mirip dengan Pras. Aku khawatir kalau Pras menjadi cinta semu atau sekadar pelarianku saja. Sungguh tak adil kalau aku sampai melakukannya.
Ayah memandangku. Aku sangat bingung.
“Bagaimana, Ajeng?”
Aku gugup sekali. Kuingat dulu ketika Tyo bersimpuh, dan menyerahkan kotak cincin padaku di tepi pantai. Aku tak segugup ini. Aku begitu mudah mengiyakan lamarannya. Tapi kini, aku begitu sulit untuk mengiyakan lamaran Pras.
“Mmmm… saya… Saya minta waktu, yah…”
Pras mengangguk dan mohon diri. Aku masih terpaku di ruang kerja ayah.
“Kamu istikharah dulu, Ajeng. Memutuskan tentang jodoh itu tak mudah. Serahkan pada Allah…” nasehat ayah.
Aku mengangguk dan pamit untuk ke ruang kerjaku.
“Ajeng… ”
Aku menghentikan langkahku.
“Ikuti kata hatimu, nak. Ayah tahu, kamu memendam perasaanmu…”
**
Jam istirahat tiba. Aku menuju kantin. Kupesan bakso kuah dan jus alpukat untuk mengisi perutku siang ini.
Aku menunggu pesananku di meja dekat jendela. Sambil memandang lalu lalang orang lewat di lantai dasar.
“Hai, mbak. Sendirian ya. Kutemani ya…”
“Astaghfirullah, Mas Pras. Kaget aku…”
Pras tertawa kecil.
“Mbak Ajeng sih ngelamun saja…”
“Ah…aku? Nggaklah!”
“Hahaha… jujur sajalah. Pasti mikirin lamaran saya tadi kan, mbak?”
Tak kujawab pertanyaan Pras. Aku lebih memilih mengotak-atik HPku.
“Tadi saya WA atau video call, mbak Ajeng nggak bales. Sekarang saya di sini, mbak Ajeng tetep cuek. Kenapa sih, mbak?”
Pras meraih HPku. Aku mau merebutnya namun HP sudah masuk kantong bajunya. Sementara makan dan minumanku sudah diantar ke mejaku. Pras mempersilakanku makan terlebih dulu. Biar aku nggak sakit katanya.
“Tanpa HP itu lebih asyik ya, mbak. Bisa bicara dari hati ke hati…”
“Uhukkk…” aku tersedak mendengar ucapan Pras. Pras menyodorkan jus.








Waoo keren