Aku Risda. Aku belajar di salah satu SLB di kabupaten Gunungkidul. Aku kelas enam SDLB. Sekelasku ada empat orang, termasuk aku.
Jangan dibayangkan seperti sekolah di sekolah umum. Jumlah siswa yang empat orang ini tentu mungkin sudah seperti mengajar dua puluh siswa di SD umum. Hehe..
Karena kami memang harus diajari secara individual. Kesulitan yang kami hadapi berbeda-beda.
Hari ini aku masih belajar di rumah. Sudah satu tahun tujuh bulan kira-kira rutinitas ini ku jalani. Jenuh terus-terusan di rumah jelas ku rasakan.
Aku yang tunanetra ini jelas merasa kesulitan dengan gaya belajar seperti ini. Kesulitan terbesarku adalah kurang mampuku dalam menulis kata demi kata dalam huruf braille. Contohnya saja penulisan bilangan tertentu dalan tulisan braille.
Mamak dan bapak yang selalu mendampingiku juga merasa kesulitan. Mamak dan bapak yang kesehariannya hanya berjualan, tentu saja tak menguasai tulis menulis braille.
Mamak selalu mengeluh karena ketidakmampuannya itu. Ya, aku maklum dengan keadaan mamak. Memang dunia sepertiku masih awam bagi orang-orang sekitarku.
Aku sudah bersekolah saja sudah alhamdulillah. Aku tidak lagi dibully atau diejek teman-teman dekat rumah saja juga sudah alhamdulillah.
“Sesuk aku ta matur bu gurumu agar mau mengajari mamak sinau nulis braille, Da. Biar mamak bisa mengecek tulisan-tulisanmu..”, kata mamak suatu kali saat aku ditemani belajar.
Benar. Begitu besar harapan mamak agar bisa menguasai ilmu di duniaku. Dunia yang serba gelap.
***
Kesulitan yang kurasakan lainnya yaitu keadaan rumah yang bising. Selalu ramai karena ada kakak dan adikku. Mereka selalu gojeg atau bercengkerama. Tawa tangis jelas juga membuyarkan semuanya.
Sementara aku yang tunanetra butuh suasana yang tenang. Karena memang aku lebih banyak mempergunakan telingaku untuk mendapatkan informasi ataupun mendengarkan materi pelajaran dari guru kelasku. Aku butuh konsentrasi. Benar-benar konsentrasi.
“Pak, tolong dibacakan lagi ya.. Biar aku lebih paham..”, pintaku kepada bapak.
Ya, materipun sering dibacakan ulang oleh bapak atau mamak. Tentu saja membacakan menjadi suatu hal yang mungkin melelahkan untuk mereka. Tetapi ya tetap dilakukan.
Dan kalaupun bu guruku mengirim rekaman suara atau video ya pasti ku meminta diputar berulang-ulang.
Alhamdulillah bu Nara, guru kelasku, selalu meluangkan waktu untuk aku dan teman-temanku bertanya dan berdiskusi.
“Bu, maksudnya ini apa ya?”, sering tulisku di WA.
Pesan ku kirim kepada guru kelasku. Dan seperti biasanya bu Nara akan menjelaskan dengan rekaman suara atau tulisan.
Inilah kisahku, seorang anak tunanetra, yang selalu ingin belajar di tengah keterbatasan penglihatanku dan ketidakmampuanku. Semoga aku dapat belajar seperti teman-temanku di sekolah umum.
(Telah diposting di Kompasiana)








Cerita inspiratif