Langit masih biru dikala bulan berbentuk sabit muncul di antara arakan awan. Ia menampakkan rupanya dalam putih pucat. Seolah tak sabar berganti peran dengan matahari. Menyinari pekat malam lewat temaram cahayanya.

Aku memandangi benda langit yang tampak kecil dari  jendela kamar tempatku berdiri saat ini. Lihatlah, bulan itu tak bercahaya. Ia hanya memantulkan sinar matahari. Dahulu orang percaya bulan memiliki cahaya sendiri. Namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terkuaklah kebenaran bahwa sinar bulan berasal dari matahari. Wah, canggih sekali Iptek ini. Bulan yang jauh dan tinggi di atas sana sudah pernah dijangkau manusia. Neils Amstrong nama astronot itu. Ia menjadi orang pertama yang melangkahkan kaki di bulan. Betapa kerennya ia. Betapa luar biasanya orang-orang disekelilingnya yang ikut menyokong tercapainya pendaratan di bulan tersebut.

Sambil menyongsong maghrib ayah, bunda dan Arsyad, adikku berkumpul di ruang keluarga. Aku sengaja tidak bergabung karena beberapa hari ini aku kesal dengan ayah. Aku ingin dibelikan play station seperti teman-temanku namun ayah menolak. Ayah tidak sayang denganku. Ketika teman-temanku bercerita tentang permainan itu, aku jadi tambah kesal dengan ayah.

Tak lama, azan maghrib menggema. Ayah, Arsyad dan aku berangkat ke masjid. Jingga perak keemasan menguasai langit. Sebuah lukisan alam maha indah ciptaan sang pemilik alam semesta. Di jalan aku hanya diam. Aku masih kesal dengan ayah. Ayah pun hanya diam. Hanya Arsyad yang bernyanyi lagu mars TK nya sebagai pemecah keheningan.

Kini, bulan dan bintang gemintang bertaburan di langit hitam. Malam telah memangsa sinar kuning keemasan senja. Alunan suara jangkrik menyemarakkan gulita.

“Yah, kenapa bulan dan bintang-bintang itu berjalan mengikutiku?” Arsyad bertanya polos. Sambil berjalan, kepalanya tengadah ke langit malam.

“Seolah-olah mengikutimu Syad, tampaknya begitu.”

“Maksudnya Yah?” Arsyad mengerjap-ngerjapkan matanya tanda tak mengerti.

“Syad, jarak bumi tempat kita tinggal ini tiga ratusan kilo meter lebih ke bulan. Sangat jauh. Dengan jarak sejauh itu, sudut pandang matamu terhadap bulan akan tetap sama. Sehingga saat kamu berjalan, bulan dan benda langit lainnya seolah-olah mengikutimu.”

“Arsyad tambah bingung Yah.”

“Yo wis, gak usah dipikirkan sekarang. Besar nanti kau akan mengerti sendiri. Makanya sekolah yang tinggi. Pelajari ilmu pengetahuan itu dengan sungguh-sungguh. Kau bahkan bisa ke sana kalau kau mau.” Arsyad berjalan terus. Tak mau banyak bertanya lagi. Perutnya sudah lapar. Sayur lodeh dan telur ceplok ayam kampung bunda sudah menunggu.

Aku ingin tidur cepat malam ini. Selesai makan dan salat aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur. Rasa kantuk belum menyerang namun aku ingin secepatnya bisa tidur. Kubaca buku koleksiku yang belum selesai. Baru beberapa halaman membaca, rasa nyeri tiba-tiba datang menusuk perutku. Kurasakan tarikan dan dorongan dari bagian dalam perut yang amat menyakitkan. Bunda yang kebetulan masuk ke kamarku kaget melihatku meringis kesakitan sambil menekan-nekan perut.

“Yah, Arsyad sakit Yah,” Bunda berteriak memanggil ayah. Kudengar dentuman langkah kaki ayah setengah berlari ke arahku.

“Bagian mana yang sakit Di? Seperti apa rasanya?” Ayah meraba-raba perutku.

“Dari bagian dalam perutku Yah. Nyeri dan seperti ditekan-tekan.” Jawabku sambil meringis kesakitan.

“Kamu sanggup duduk Di?”

“Sanggup Yah.”

“Siapkan kain panjang dan uang Bun. Malam ini Ayah bawa Adi ke Bu Ratna, bidan desa.”

Dengan sigap bunda menyiapkan apa yang diperintahkan ayah. Sementara ia memakaikanku jaket dan memapahku ke arah sepeda motornya. Ia mendudukkanku di jok belakang motor. Mengikatkan badanku ke tubuhnya dengan kain panjang. Bersegera ayah menuju puskesmas berharap aku lekas diobati.

Kala itu, jalan menuju rumah bidan masih dalam tahap membangun. Sekira 500 meter badan jalan, masih berupa kerikil dan bebatuan. Ditambah lagi, rumah kami berada di lereng perbukitan. Ayah hati-hati sekali memboncengku di pendakian dan jalanan rusak itu. Sementara perutku terus saja melilit kesakitan.

Setiba di rumah bidan, ayah langsung menurunkanku. Memanggil Bu Bidan lalu membawaku masuk ke ruang perawatan. Demi melihat ayah, tergopoh-gopoh Bu Ratna menyalami ayah takzim. Dengan penuh hormat Bu Ratna menanyai kabar ayah.

“Perutnya sakit, Rat. Coba kamu periksa.” Bu Ratna memeriksa denyut nadi dan jantungku. Menanyai bagaimana rasa sakitnya, di bagian apa, sebelumnya makan apa, apa pernah menderita sakit serupa dan lain sebagainya. Bu Ratna memeriksaku dengan sopan dan ramah.

“Jangan khawatir Pak. Adi hanya kram perut biasa. Belum parah. Penyebabnya karena kekurangan cairan. Ia sedikit minum air putih.” Ucap Bu Ratna dengan nada rendah. Ia meresepkan beberapa obat dan memintaku banyak minum air putih. Kalau tidak, aku bisa sakit batu ginjal. Sakitnya akan lebih tak tertahankan. Pada kasus batu ginjal yang sudah parah, operasi bisa jadi jalan yang harus ditempuh.

“Ingat ya Di. Idealnya kita sebaiknya minum air putih delapan gelas sehari. Totalnya sekitar dua liter. Namun itu bukan jumlah yang mutlak lo ya. Kalau aktivitasmu berat, yang membuatmu banyak mengeluarkan keringat maka dianjurkan untuk minum lebih banyak dari itu. Agar kebutuhan cairan dalam tubuhmu terpenuhi.” Bu Ratna menambah penjelasannya.

“Ya Bu,” jawabku sambil mengangguk.

Kemudian ayah dan Bu Ratna terlibat percakapan yang akrab. Ternyata Bu Ratna dulunya adalah murid ayah di SMA. Ketika kami mau pulang, Bu Ratna menolak untuk dibayar ayah. Namun ayah bersiteguh membayar sesuai dengan pelayanan dan obat yang diberikan. Awalnya terjadi tolak menolak yang cukup alot hingga akhirnya Bu Ratna mengalah. Dia hanya mau dibayar sesuai harga obat saja.

Setelah membayar, kami pamit pulang. Kram perutku juga sudah mendingan. Ayah memboncengku pulang. Aku kikuk karena kekesalanku pada ayah beberapa hari ini. Aku masih malu mengajak ayah bicara. Aku pun hanya melihat-lihat ke segala arah. Ketika mataku memandang ke bawah baru kusadari ternyata ayah salah memakai sandal. Corak kiri dan kanannya berbeda. Ukurannya pun berbeda. Satu sandal ayah dan sebelahnya sandal bunda. Pasti karena ayah tadi sangat terburu-buru. Ingin kupeluk tubuh ayah dan kubisikkan “Maafkan Adi Yah.” Aku tidak tertarik dengan play station lagi.

Tinggalkan Balasan