
Saya orang Batak. Lahir dan besar di pulau Jawa. Tepatnya, Kabupaten Jepara, salah satu daerah pesisir di pantai utara. Tempat kelahiran pahlawan emansipasi wanita, R.A. Kartini. Daerah yang tersohor dengan kerajinan ukiran kayu.
Selama belajar di sana, saya mendapat mata pelajaran muatan lokal berupa Bahasa Jawa. Saya dahulu lancar menulis huruf Jawa. Bicara berbahasa Jawa sampai sekarang masih mampu dengan logat kental.
Bahkan, beberapa teman Batak heran, mengapa saya gampang berbaur dan bercakap dengan teman dari Pulau Jawa. Lingkungan sekitarlah yang membentuk saya.
Sepanjang belajar bahasa Jawa dari SD, SMP, hingga SMA, saya terpukau dengan satu peribahasa yang hingga kini menjadi pedoman hidup saya. Tidak sembarang alasan saya mendasarinya.
Peribahasa merupakan kata-kata pilihan penuh filosofi
Betapa saya mengerti bahwa seluruh peribahasa dalam berbagai bahasa adalah kata-kata bijak penuh makna yang tercetus dari seseorang — biasanya tanpa nama karena terlalu lampau sehingga sulit dicari — yang teracik dari pahit manisnya pengalaman hidup.
Ia sudah melewati berbagai rintangan dan belajar sebuah pelajaran dari setiapnya. Ia tidak ingin kesalahan dan penderitaan sama terjadi pada generasi selanjutnya. Ia meninggalkan pesan baik tersurat maupun tersirat lewat peribahasa.
Urip Kaya Cakra Manggilingan
Apa peribahasa kesukaan Anda? Mengapa pula Anda memilih dan menjadikannya sebagai salah satu bahan renungan, yang kerap membuat Anda bertahan dan mengerti tentang kehidupan?
Saya punya satu, dalam bahasa Jawa:
Urip Kaya Cakra Manggilingan
“Urip” berarti hidup. “Kaya” bermakna seperti. “Cakra” merupakan kata dari bahasa Sanskerta, yang dipahami sebagai roda atau lingkaran. Sementara manggilingan berasal dari bahasa Jawa, dengan kata dasar “giling”, yang berarti berputar atau menggerus.
Kalau dialihbahasakan ke Indonesia, peribahasa itu berarti: Hidup Seperti Roda Berputar.
Hidup selalu berputar
Ya, hidup selalu berputar. Hari saja terus maju ke depan. Kemarin disudahi dengan adanya hari ini. Hari ini belum berakhir karena masih ada besok. Hidup terus berlanjut ke arah yang boleh kita tentukan, tetapi dengan realitas yang masih misteri.
Kita tidak bisa menduga, sedetik ke depan terjadi apa. Ada perubahan-perubahan yang terjadi, baik pada diri, orang di sekitar, maupun lingkungan, yang mana kita dituntut menyikapinya secara bijak.
Jika berhasil, kita menjadi lebih baik. Jika gagal, kita kerap terpuruk. Oleh sebab itu, otak dengan penuh hikmat wajib diberdayagunakan secara maksimal.
Tidak selamanya orang berjaya
Ketika kita berada pada satu bagian roda tepatnya di atas, itu merupakan hasil terbaik dari segala jerih payah. Prestasi kita dulang dengan sempurna. Harta dan kekayaan berlimpah. Status dan derajat sosial naik. Kenalan kerap berdatangan — biasanya orang terkenal, tiba-tiba banyak yang mengaku kenal, hahaha….
Kita menjadi inspirasi orang banyak. Kita memberi pengaruh dalam setiap perkataan. Bila menjabat suatu posisi, kita punya kuasa untuk menentukan hajat hidup khalayak umum.
Kita ada dalam fase kejayaan. Kejayaan yang tidak selamanya bertahan. Roda itu akan berputar. Sekali waktu, semua akan ditinggalkan. Tidak ada yang dibawa saat masuk liang kubur nanti.
Orang susah selalu ada harapan
Waktu kita berada pada bagian lain di bawah roda, itu merupakan kejadian pahit. Ada derita dan keterbatasan yang menyakitkan di sana. Tidak punya apa-apa, bahkan sesekali berutang sekadar mencukupi kebutuhan perut.
Kita menjadi orang yang menyusahkan, sebab kerap meminta bantuan. Kita tidak dipandang sekitar, karena dianggap tidak berguna. Masa itu pasti ada, sekali waktu dalam hidup kita.
Sebagai orang susah, kita harus memandang ke atas. Roda itu akan berputar, bukan? Kita tidak boleh diam. Hanya kita sendiri yang bisa mengubah keadaan.
Pada setiap keadaan…
Pada setiap keadaan dalam hidup, pintar-pintarlah menyikapinya. Ini agar kita tidak mudah putus asa waktu tidak punya apa-apa atau terlalu sedih karena menggantungkan sepenuhnya hidup pada apa yang kita miliki.
Jika punya dan berada, tetaplah sederhana dalam segala perilaku. Belajar tidak menyombongkan ini dan itu. Semua jika tidak seizin Yang Kuasa, juga tidak akan pernah terjadi. Usaha kita adalah sebagian kecil dari pengaturan hidup yang sebagian besar ada di tangan-Nya.
Posisi kita yang ditentukan-Nya ada di atas adalah masa penting untuk lebih banyak berkontribusi membantu sekitar. Orang-orang di sekeliling yang butuh bantuan, sangat boleh didermakan. Apa yang kita miliki adalah begitu baik untuk dibagikan.
Saat sedang susah, tengoklah ke atas. Ada Yang Kuasa sebagai tempat berharap. Banyak orang sukses yang boleh menjadi inspirasi. Teruslah berjuang dan berusaha dengan jerih lelah maksimal guna mengubah hidup. Tirulah kiat-kiat sukses dari mereka.
Roda itu pasti berputar. Orang tidak selalu susah. Masa depan yang hendak dicapainya, tergantung bagaimana caranya mengubahnya.
Akhir kata…
“Urip Kaya Cakra Manggilingan” selalu relevan bagi siapa saja. Terus terjadi selama hidup masih ada. Semua ada di tangan kita. Apa yang hendak dicapai, bagaimana cara mencapainya, dan bagaimana menyikapinya pada setiap keadaan, tiap-tiap kita yang paling tahu.
Jangan sia-siakan kemampuan pikir yang Yang Kuasa telah beri dengan begitu dahsyat itu. Jangan butakan kepekaan rasa yang Yang Kuasa telah bentuk dengan sebaik-baiknya itu.
…
Jakarta, 9 Juni 2021
Y. Edward Horas S.







