Ketika mendapat tantangan menulis apa saja alias tema bebas, saya malah suka kebingungan. Wah enaknya menulis apa ya? Saya malah merasa tak ada ide sama sekali.
Benarkah menulis dengan tema bebas lebih susah? Jawabannya ya dan tidak.
Ketika diberikan tantangan menulis bebas maka topiknya luas. Bisa apa saja. Kalian bisa menulis tentang langit biru di Jakarta (ada nggak ya?), sudut-sudut di kota Jakarta yang seperti berada di pedesaan, atau tentang hal yang serius seperti membedakan gejala penyakit Gerd dan penyakit jantung.
Biasanya orang-orang kesulitan ketika diberikan tantangan topik bebas karena ia terlalu muluk-muluk. Bayangannya adalah menulis sesuatu yang kompleks. Padahal menuliskan kegiatan sehari-hari juga cukup. Merangkum pengalamannya bekerja misalkan dalam mendeteksi seseorang ini sombong atau terlalu bersemangat saat wawancara kerja juga bisa jadi sebuah tulisan.
Ada kalanya seseorang ragu dan was-was apakah tulisannya tentang kehidupannya sehari-hari itu menarik atau malah nanti ditertawakan. Padahal membaca kisah kehidupan seseorang itu unik. Tak ada yang sama persis.
Menulis dengan topik tertentu juga kadang-kadang malah bikin pusing jika kita tidak paham dengan topik tersebut. Misalkan saya diminta menulis tentang bahasa pemrograman yang tak pernah saya gunakan. Jika dipaksa menulis maka saya bakal hanya bisa menulis kulit-kulitnya saja.
Menulis dengan tema bebas atau yang temanya ditentukan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalian tulis saja apa yang ada di pikiran, kemudian dibenahi setelahnya. Karena jika kelamaan memikirkannya malah tidak ditulis-tulis, seperti yang sering saya alami.
Sebagian tulisan pernah diunggah di blpg dewipuspasari.net
Kredit gambar: Marvel/Disney






