Ketika Dahlan Iskan Menyapa Jejak Literasi Thamrin Dahlan

Di sebuah ruang digital bernama waktu, Ketika layar menyala dan kata-kata mengalir, Seorang tokoh bangsa berbicara seperti biasa—
tenang, lugas, tanpa pretensi.
Dialah Dahlan Iskan. Namun pagi itu berbeda. Bukan sekadar membahas isu, bukan hanya menyentuh peristiwa, melainkan menyapa— sebuah jejak panjang bernama literasi.
Jejak itu adalah milik seorang penulis yang menempuh jalan sunyi,
tetapi tak pernah berhenti: Thamrin Dahlan.
Lima puluh buku bukan angka biasa. Ia adalah saksi dari waktu yang ditaklukkan, dari malam-malam yang dipeluk kesunyian,
dan dari keyakinan bahwa kata-kata akan selalu menemukan jalannya.
- Burung nuri terbang ke seberang,
Hinggap sebentar di dahan tua,
Jika karya terus dikenang,
Itulah hidup yang sesungguhnya.
Ketika buku ke-50 itu lahir:
“Thamrin Dahlan 70 Tahun Rekam Jejak Literasi YPTD”
Maka sesungguhnya yang hadir bukan sekadar buku— tetapi sejarah hidup yang dituliskan.
- Pergi ke hulu mencari rotan,
Rotan dipintal jadi anyaman,
Jika menulis jadi kebiasaan, - Peristiwa lebih dari tayangan.
Di beranda Disway, tempat di mana pikiran bertemu publik, apresiasi itu terucap. Sederhana. Namun dalam maknanya. Karena dari seorang Dahlan Iskan, kita tahu— pengakuan bukan mudah diberikan.
Ia lahir dari pengamatan, Ddari penghormatan pada konsistensi,
dan dari kesadaran bahwa Mmenulis adalah kerja panjang yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.
Ini adalah:
- pengakuan diam-diam
- jabat tangan tanpa bersentuhan
- pertemuan dua arus besar literasi
Yang satu menulis setiap hari, yang satu menulis sepanjang hayat. umur panjang dalam ingatan.
Hari itu, video mungkin akan selesai diputar, layar akan kembali gelap, dan dunia akan berjalan seperti biasa. Namun tidak dengan jejaknya.
Ia akan tinggal—
di hati pembaca,
di rak buku,
dan di sejarah kecil yang kelak menjadi besar.
Berikut beberapa kutipan Literasi
“Menulis bukan soal waktu luang,
tetapi soal kesetiaan pada makna.”
“Lima puluh buku bukan jumlah,
melainkan perjalanan jiwa.”
“Apresiasi seorang penulis besar,
adalah penguat bagi penulis yang tekun.”
“Literasi sejati tidak berisik,
tetapi jejaknya abadi.”
- Salam Literasi
- BHP 7 April 2026
- TD






