Kepada Pagi yang Sunyi
Pagi ini mataku terlambat untuk terbuka
Kulihat jarum jam di dindung menunjuk angka lima
aku berusaha menyadarkan diri dan lelap semalam
mengerjap-ngerjapkan mata berusaha mengingat tentang sebuah hari
Ada yang hilang
Di halaman takada suara gesekan sapu. Bukan tersebab tanah lembab. Guguran daun-daun kering. Rumput-rumput sudah dua minggu tak disiangi
“Ke mana Ibu yang setiap pagi di halaman ini?” seseorang bertanya. Suara itu tak berjawab. Angin pun takingin bercerita tentang sebab, tentang lingkaran mata masih terlihat sembab
Pintu masih tertutup. Suara-suara: denting piring yang dicuci, desis air yang dimasak; ke mana? “Hey, salat Subuhmu kembali dipanggang matahari!” Suara pengingat itu pun takada
Kemanakah?
aku beringsut menatap pekarangan dari jendela
masih kuingat suara yang kerap kali memanggil namaku
lalu mengajak bercerita sepanjang hari
Kini tak kutemui
Duduk membisu
Hanya memegangi gelas berisi teh panas dengan kedua telapak tanganku
sesekali memejamkan mata dan melukiskan dirimu ada di hadapanku
dan kuceritakan lagi tentang hari yang kulalui tanpa hangatmu bersama untaian embun yang mulai luruh
Beranda Rindu, 12 Desember 2020
Ketika aku kehilangan
(Kolab bersama Ayah Tuah)
*puisi ke 8 KMAA









Puisi yang bagus mba Azet