Waktuku (2)

Ingin sekali semua cerpen yang ku tulis menjadi kenyataan, tapi itu hanya  fiksi yang membuatku jadi bahagia. Senyum mengembang di bibirku setelah membaca ulang cerpen yang ku tulis. Tunggu mempublishnya saja di FB bersama, tidak banyak tapi sudah ada yang memberikan komen bagus kepada cerpenku sudah membuatku bahagia.

Ketukkan di pintu membuat semua hayalku buyar, dengan berat hati aku meninggalkan laptopku dan berjalan menuju pintu kamar.

“Ada apa Umi.” Ucapku malas, umi selalu saja menganggu ketenanganku

“Ada yang mencari.” Dahiku berkerut, siapa yang mencariku. Ku turutkan langkah kaki menuju ruang tamu, sambil berfikir siapa yang mencariku malam minggu begini.

Mataku bertabrakan dengan mata yang kini tengah menatapku lekat, aku terus meneliti siapa gerakan sosok di depanku, tapi semakin aku berfikir tidak ada jawaban siapa dia sebenarnya. Akhiranya aku meletakkan badanku pada salah satu sofa di ruang tamu.

“Maaf Anda mencari saya?” ucapku setelah lama tidak ada ucapan yang keluar dari sosok di depanku hanya tatapan matanya yang tidak lepas dariku. Senyum hanya senyum manis yang menampilkan lesung pipi di wajahnya yang membuat penampilannya semakin menarik hatiku.

“Maaf Anda mencari saya?” sekali lagi aku ajukan pertanyaan kepadanya, karena tidak melihat reaksi darinya, dengan kesal aku membangunkan badan untuk meninggalkannya

“Ya, Saya Hanan. Hanakan.” Ucapnya, membuatku membatalkan langkahku dan duduk kembali.

“Apakah saya mengenal Anda.” Ucapku setelah aku duduk kembali.

“Saya yang mengenal Hana, tapi mungkin Hana belum mengenal saya.” Aku semakin mengerutkan keningku tanda bingung.

“Senja Di Batas Penantian.” Ucapannya membuatku mengingat satu judul dari cerpenku yang sudah di posting di FB bersama.

“Yang memberikan komentar dan tanda cinta kepada Hana.” Aku mengingat sejenak, tapi karena banyak memberikan  komentar aku tidak bisa mengingatnya satu persatu.

“Maaf Hana lupa.” Ucapku jujur

“Tidak apa – apa, karena itu Hanan datang untuk berkenalan kepada Hana.” Ucapanya tentu saja membuatku tambah bingung dan sedikit tersanjung. Seperti penulis besar saja diriku saat ini, bagaimana tidak ada pengemar yang datang mencariku, walaupun hanya satu berarti tulisanku sudah menyentuh hati pembacanya, aku boleh banggakan.

“Hana.” Lamunanku terhenti ketika sosok didepanku menyebut namaku, tersipu senyum aku melihat kepadanya.

“Terima kasih sudah mau membaca tulisan yang tidak seberapa, hanya menuangkan rasa yang ada di dada saja.” ucapku lancar.

“Berarti Hana sekarang belum mendapatkan pendamping, jika diizinkan Hanan mau menjadi orang yang Hana tunggu.” Sungguh aku malu ketika mengatakan isi hatiku yang menjadi insprirasi dari cerpenku dan tambah malu lagi ternyata sosok di depanku menawarkan hatinya untuk menjadi pelabuhan dari apa yang aku tunggu selama ini. Apakah sekarang waktuku untuk tidak lagi memilih – milih lagi, karena sosok yang kini berada di depanku sungguh semua kreteria ada padanya. Aku malu dengan diriku sendiri dan malu dengan waktuku sekarang ini***

 

Tinggalkan Balasan