Halo teman-teman semua saya Nindyansyah Argadini mahasiswa Akademi Keperawatan Polri Angkatan 28 TK 1A. Di tulisan ini saya akan memaparkan jalan cerita tentang apa yang saya cita-citakan di mulai dari sekolah dasar sampai sekarang. Saya harap tulisan ini dapat menginspirasi kalian semua dan semoga kalian tidak menyerah terhadap apa yang kalian cita-citakan selama ini.
Dimulai saat sekolah dasar. Ketika guru SD saya menanyakan mengenai cita-cita, dengan mantap dan bangganya saya akan menjawab “menjadi seorang dokter bu”. Itulah jawaban saya saat itu. Dengan cita-cita seperti itu tentunya bukan sekedar ucapan saja, saya membuktikannya ke semua orang bahwa itu bukan omong kosong belaka yaitu dengan selalu masuknya saya ke peringkat 5 besar ketika sekolah dasar, menjadi peringkat pertama ketika mengikuti try out kelas 6 , dan lulus dari sekolah dasar dengan NEM yang memuaskan.
Selanjutnya ketika memasuki bangku sekolah menengah pertama, cita-cita saya tetap tidak berubah yaitu menjadi seorang dokter. Saya juga membuktikannya dengan prestasi saya di sekolah, yaitu selalu masuk peringkat 3 besar dan juga mengikuti olimpiade matematika. Dengan semangatnya saya memberitahukan ke semua orang bahwa di masa depan saya pantas menjadi seorang dokter.
Nah masa saya kehilangan cita-cita saya adalah ketika saya masuki bangku SMA. Dengan sikap memberontak yang saya miliki yang tentunya sama dengan anak-anak SMA pada umumnya, saya perlahan meninggalkan tujuan utama saya. Saya mulai kehilangan semangat untuk belajar, saya mudah marah akan sesuatu sehingga saya malas untuk melakukan segala hal, juga saya pernah marah besar kepada keluarga saya yang menyebabkan saya sempat ingin pergi dari rumah.
Ketika masa pubertas saya sudah berlalu saya selalu menyesali apa yang telah saya perbuat. Kemudian saya mulai mempertanyakan lagi tujuan hidup saya. “Apakah saya mampu menjadi dokter?”, “apakah menjadi dokter itu hal yang mudah?”, “saya menyesal telah membuang waktu saya untuk belajar” perlahan saya kehilangan cita-cita saya di SMA. Prestasi saya pun menurun di sekolah, tapi saya tidak pernah keluar dari peringkat 10 besar. Ditambah lagi ketika SMA sudah di berlakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang merupakan masalah utama karena saya belajar secara mandiri tanpa bantuan guru les atau orang lain.
Saya berusaha keras untuk tidak tertinggal karena masa pubertas saya dan PJJ yang diberlakukan. Dan akhirnya saya pun dapat lulus dengan nilai yang memuaskan yaitu 8,7. Orangtua saya juga selalu menyemangati saya dan selalu berkata bahwa saya telah melakukan yang terbaik.
Ketika menjelang kelulusan Alhamdulillah saya mendapatkan kuota SNMPTN namun belum rezeki saya untuk lolos SNMPTN. Setelah pengumuman tidak lolosnya saya di SNMPTN saya kembali mempertanyakan diri saya, “mau jadi apa saya sekarang?” saya tidak punya arah dan tujuan. Dan kembali orang tua saya dengan tulusnya mengarahkan saya ke akper polri. Saya pun setuju dan berterimakasih kepada orang tua saya karena selalu ada di masa-masa sulit saya.
Dan sekarang cita-cita saya adalah lulus di akper polri dengan nilai yang terbaik, mendapat beasiswa agar mengurangi sedikit beban keluarga saya. Menjadi seorang professional di bidang keperawatan, dan menjadi sukses membuat orang tua saya bangga. aamiin
Semoga pesan yang saya sampaikan dalam tulisan ini dapat di pahami oleh kalian semua. Bahwa ketika kita kehilangan hal yang kita cita-citakan atau impikan boleh bersedih dan mempertanyakan pada diri kita “akan jadi apa diri kita selanjutnya?” akan tetapi bangkitlah jangan terus terpuruk, carilah cita-cita baru dan semangat dalam menjalani hidup. Dan satu hal lagi jangan tinggalkan keluarga karena ketika kita terjatuh hanya keluarga terutama orangtua lah yang akan membantu kita untuk bangkit kembali, buat orangtua kita bangga karena kita bisa menggapai cita-cita kita. Terimakasih Salam Pejuang Cita-Cita







