KMAA#4
Alhamdulillah rapat komite dan orang tua siswa menyetujui dan mendukung kami untuk pindah menempati gedung SMP Negeri 42 meski proses pembangunan belum selesai. Tentu saja konsekuensi dan segala dampak dari pindahnya kami, sudah kami pikirkan dan kami berusaha meminimalkan akibat dari tindakan kami. Bismillah dengan mengucap penuh keyakinan dan tekad semoga ini diridloiNya dan menjadikan ini yang terbaik buat kami dan siswa kami.
Seminggu sebelumnya kami guru dan siswa bergotong royong membersihkan ruang-ruang yang akan kami tempati, memindahkan ratusan kursi dan meja yang berbulan di titipkan di TK Sendangmulyo. Tak lupa kami juga bersilaturahmi ke TK dan SD tetangga yaitu TK NBI Sendangmulyo dan SDN Sendangmulyo 04, untuk ‘kulonuwun” meminta ijin dan memperkenalkan diri kami pada warga TK dan SD. Tanpa mngenal lelah, ratusan meja dan kursi juga almari milik sekolah dari Dinas Pendidikan yang dititipkan di TK yang kebetulan satu lokasi dengan kampus kami, kami angkat dan kami bawa. Memang rencana pemerintah Kota Semarang menjadikan kampus terpadu dari TK, SD dan SMP berstandar internasional di kompleks tersebut, namun karena kebijakannya berubah, TK dan SD yang semula RSBI (Sekolah Rintisan Berstandar Internasional ) berubah menjadi sekolah negeri.
Memindahkan meja kursi guru dan siswa juga almari lalu menata ruangan, membersihkan kelas-kelas, memasang whiteboard, semua kami lakukan dengan senang hati. Meski lelah namun cukup puas saat minggu berikutnya kami sudah bisa memulai KBM di sana. Hari yang bersejarah kami pilih, saat itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, hari Kamis legi tanggal 24 September 2015. Hari itu merupakan tonggak sejarah berdirinya SMP Negeri 42 Semarang. Tidak ada perayaan pembukaan, yang ada hanya kita, 7 guru dan 192 siswa melakukan Sholat Id bersama dilanjutkan dengan memotong hewan qurban, satu ekor kambing, dimasak lalu dimakan bersama. Acara sederhana tapi penuh doa dan makna, membekas, yang menandai kita mulai menempati gedung yang selama dua tahun pembangunannya sempat terhenti, mangkrak. Tapi Bismillah dengan harapan dan tujuan yang mulia, kami memulai menyosong masa depan, berjuang, bekerja dan berkarya, mencerdaskan anak-anak generasi penerus bangsa.
Momen kebersamaan dan satu tekad inilah yang menggelorakan semangat kami untuk mewujudkan cita-cita kami. Tidak ada yang saling menonjolkan diri atau saling menjegal, kami bertujuh bertekad menjadikan SMP Negeri 42 sejajar dengan SMP negeri yang lain, meski tidak ada kepala sekolah, tapi di bawah pimpinan Pak Amin, sebagai wakil kepala sekolah dan ibu Sri Muryani, bagian kurikulum, berusaha mengejar ketertinggalan kami baik sarana prasarana KBM yang pokok maupun sarana fisik yang lain harus terpenuhi.
Kami saling iuran untuk menyediakan ATK seperti kertas, spidol whiteboard, penghapus, alat-alat kebersihan, dan obat-obatan untuk menujang UKS kecil. Karena belum ada kantin, anak-anak diijinkan membawa bekal makanan dari rumah. Karena tenaga pengajar masih kurang maka guru-guru mengajar rangkap dua mapel dan ketua komite Bapak Soni Sendu rela mengajar tanpa dibayar. Sungguh luar biasa dedikasi dan loyalitas kami demi memperjuangkan SMP Negeri 42 tetap eksis.








