Aku Pergi (part 1)

Memandang jauh ke depan, roda mobil terus berputar sejak 1 jam lalu aku meninggalkan rumah. Entahlah aku tidak tahu, tempat yang selama ini aku diami bisa di sebut dengan rumah. Jika rumah tentu membuat yang tinggal di dalamnya menjadi betah dan bahagia.

Bahagia, apakah aku bahagia selama ini, jika melihat penampilannya yang kokoh berdiri dengan pilar depanya megah berdiri. Taman yang menghiasinya akan membuat orang iri ingin memilikinya itu baru penampilan luarnya jika masuk di dalamnya orang akan berfikir yang tinggal di dalamnya pasti betah. Bagimana tidak, kursi jati dengan ukiran yang tidak semua orang bisa  membelinya karena harga yang selangit di tambah dengan lambu Kristal serta semua yang melengkapinya membuat orang akan berdecak kagum. Tapi apakah penghuninya merasakan hal yang sama dengan yang hanya memandangnya dari luarannya saja.

Aku tidak butuh semua yang gemerlap dari luar, yang aku butuhkan hanya ke damaian dalam rumah yang ku tempati. Buat apa semua terbuat dari jati dan Kristal dengan harga selangit jika di dalamnya hanya memberikan kesepian yang berpanjangan serta membuat penghuninya merasakan gersang dan kering kerontang.

“Apalagi yang kurang sayang? Semuanya sudah ada, tidak semua istri dapat merasakan apa yang kamu miliki sekarang ini honey.” Semua kata manis akan keluar dari mulut lelaki yang bergelar suami buat diriku. Entahlah aku seperti tidak mengenalnya, padahal sudah 10 tahun kami menikah. Tidak ada lagi rasa yang selalu membuatku merasa bahagia di dekatnya. Semua sekarang di nilainya dengan materi, tidak ada sentuhan yang membuatku melambung merasakan menjadi wanita seutuhnya.

Limpahan materi tidak membuatku bahagia, aku merasa hanya sebagai hiasan rumahnya saja bagaimana tidak, tidak pernah sekalipun setelah sepuluh tahun ini laki – laki yang menjadi suamiku bertanya kepadaku apa mauku atau paling tidak bertanya apakah aku bahagia. Tidak itu tidak pernah lagi di lakukannya hanya materi yang kadang – kadang aku tidak tahu apa gunanya buat diriku atau buat perkahwinan kami.

Ayah Ibuku memberikan nama Delisha,  dengan maksud aku Delisha dalam bahasa arab yang berarti membawa bahagia. Doa mereka Ayah Ibuku semoga aku selalu membawa bahagia untuk orang – orang yang berada dikehidupanku.  Tapi bahagia itu jauh dari hidupku, bagaimana tidak aku bagaikan arca batu dalam rumahku sendiri yang tidak bisa merasakan bahagia walaupun semuany serba ada bahkan terbilang mewah buat sebagian orang.

Laju mobil masih terus menemaiku, aku kehilangan arah mau kemana aku. Kabut air mata tidak bisa lagi aku rasakan sudah terlalu kering airmata ini. Aku selalu menangis sendiri mencari jati rumah tanggaku, mencari dimana silapku sebagai seorang istri. Aku terus mencari dan mencari untuk membuat rumah tanggaku kembali pada fase awal kami menikah.

“Del, hanya ini saja yang bisa Abang berikan.” Aku tersenyum menerima sejumlah uang yang harus aku bagi supaya cukup untuk keperluan kami selama 1 bulan. Tapi itu dulu, di awal kami membina rumah tangga.

“Bang terima kasih ini sudah cukup buatku, Abang jangan terlalu capek nanti sakit.” Kata – kataku selalu membuatnya luluh. Meletakkan kepalanya di pahaku hanya sekedar melepaskan lelah karena penat bekerja. Tapi itu hanya tinggal kenangan saja.

“Bang berapa lama Abang pergi ka….” Belum selesai ucapanku sudah dipotong dengan

“Aku pergi untuk bekerja jangan di tanya berapa lama. Yang penting aku masih ingat pulang. Tak ada lagi kata yang membuatku merasa dihargai sebagai istrinya bertanya saja aku sudah tidak boleh.

Rafa anak tertua kami sekarang sedang mengambil master diluar negeri, sementara Qurratul dibontot baru masuk kuliah yang mengharuskannya tinggal di apertemen yang dibelikan Ayahnya dengan alasan tidak terlalu capek di jalan. Tinggal aku tinggal di Istana yang seperti penjara, ya penjara karena aku hanya sendiri sementara orang – orang yang aku sayangi jauh dariku.

Mobilku terus melaju, semakin jauh dari rumah tapi aku tidak tahu mau kemana? Aku benar – benar kehilangan arah. Kedatangan seseorang yang tak ku duga sungguh membuatku mati rasa. Bel rumah mewahku berbunyi, aku tidak perlu repot – repot membuka pintu ada pembantu yang akan membukaannya.

“Nyonya ada yang cari nyonya.” Bibik dengan tergesa masuk ke kamar dengan terlebih dahulu mengetuk pintu tentunya.

“Siapa bik?” saya tidak kenal tapi katanya mencari Nyonya

“Hm, buatkan minum sebentar lagi saya datang.” Kataku kepada pembantuku.

Berjalan santai ke ruang tamu, aku tidak merasa menunggu kedatangan seseorang. Siapa agaknya yang datang mencariku, tidak mungkin orang yang menawarkan asuransi pikirku. Sambil menuju ke ruang tamu aku terus bertanya siapa gerangan yang mencariku.(bersambung)

Tinggalkan Balasan