Aku Pergi (part 4)

Ku buka mataku, cahaya yang menyilaukan membuat aku menutup kembali mataku

“Sayang Kamu sudah sadar?” aku mendengar suara Bang Rifai dan sentuhan tangannya mengelus kepalaku

“Apanya yang sakit? Bang Rifai masih terus mengelus kepalaku dan berusaha mengurangi rasa sakit kepalaku dengan mencoba memecitnya.

Sewaktu aku membuka mata aku tidak hanya melihat Bang Rifai, disitu ada Ayah, Ibu dan adikku Shakila.

“Del, jangan tutup terus matamu. Ayah tahu kamu sudah sadar. Bicarakan masalah kalian Ayah Ibu akan keluar.” Aku mendengar suara Ayah dan bunyi pintu terbuka dan tertutup kembali.

“Sayang buka matanya, dengarkan Abang. Abang mohon, dengarkan Abang.” Mau tidak mau aku membuka dan memandang Bang Rifai yang duduk samping pembaringanku.

Aku memandang lekat ke arah Bang Rifai, tapi kemudian aku memalingkan mukaku darinya aku tidak sanggup untuk menatap wajah yang sudah membuatku terluka. Bang Rifai memegang wajahku dengan kedua tangannya  berusaha membuat aku memandang kearahnya.

“Sayang, Itu bukan anakku. Aku masih memegang janjiku padmu. Hanya sayang yang menjadi ratu hatiku. Maafkan aku yang terlalu mementingakan materi sehingga aku lupa bahwa aku sudah jauh berubah, aku fikir dengan memberikan semua yang bisa dibeli dengan uang tapi aku lupa ada yang tidak bisa dibeli dengan uang, kurang perhatian dan jarang di rumah ternyata membuatmu tidak bahagia. Ibu sudah menceritakan semuanya padaku, aku salah, hanya berfikir materi bisa membuat kita bahagia. Maafkan aku.” Suara Bang Rifai membuatku luluh dan meneteskan airmata.

“Terus sekretarismu?” belum sempat aku melanjutkan kalimatku,

“Itu Sekretaris kantor Cabang perusahaan kita, aku tidak pernah ke kantor Cabang. Ingat pak Ismail? Orang kepercayaanku yang mengelola perusahaan kita disana. Itu anakknya.

“Pak Ismail, Lia masuk.” aku mendengar suara suamiku memanggil Pak Ismail dan wanita yang datang kerumah kami, aku melihat Pak Ismail dan Lia memasuki kamar tidurku.

“Maafkan Saya bu, Saya salah. Saya fikir Pak Ismail adalah suami Ibu.” Aku melihat wanita itu berbicara dengan kepala tertunduk

“Maaf bu, ini salah Saya. Ini calon istri Saya. Bapak dan Saya akhir – akhir ini sibuk ke kantor cabang baru di Kalimantan sehingga terjadi kesalah fahaman ini.” Kata – kata Pak Ismail membuatku menghembuskan napas lega.

“Terima kasih pak Ismail,Lia. Tinggalkan Saya  berdua dengan istri saya.”perintah suamiku kepada bawahannya.

“Bang”

“Sayang, Abang yang seharusnya minta maaf. Maafkan Abang.” Aku malu dengan diriku sendiri. Airmataku mengalir membasahi pipiku, Ya Allah betapa aku takut, aku takut aku harus pergi dari kehidupan Bang Rifai.

“Maafkan Delisha bang, Delisha sudah menuduh abang yang macam – macam .” Dalam isak aku meraih tangan bang Rifai dan menciumnya berkali – kali. Bang Rifai berusaha menghentikan ciumanku pada tangannya, dibawanya tanganku kemulutnya dan gantian mencium tanganku sambil berkata

“Abang sudah berfikir Kamu pergi meninggalkan Abang, untung saja Ayah menelepon dan mengatakan apa yang terjadi. Abang pulang kerumah, rumah kosong hanya ada bibik, bibik bilang Sayang pergi makan diluar, lama abang menunggu tapi Sayang tidak pulang. Abang pergi mencari ke beberapa restoran di mana kita selalu makan dan lupa bawa handphone saking cemasnya. Pulang tengah malam kerumah, abang mencari handphone abang melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Sayang dan Ayah. Belum sempat Abang menelepon Sayang. Ayah sudah menelepon Abang, setelah ayah selesai menelepon Abang. Abang langsung kerumah Ayah.” Aku mendengarkan cerita Bang Rifai seketika kepalaku menjadi ringan, airmata bahagia menetes lagi. Tapi sekarang aku tidak akan pergi kemana – mana, tempatku adalah di sisi Abang Rifai dan anak – anakku.

“Jangan pernah pergi lagi, Abang tidak akan sanggup kehilangan Sayang. Mulai sekarang Sayang harus bicara apapun yang membuat sayang tidak nyaman. Kita akan ke Jannah  bersama – sama. “ aku menangis terisak mendengar penuturan Bang Rifai.

Tidak, aku tidak akan pergi lagi, tempatku disisi suami dan anak – anakku, janjiku dalam hati. Meraih tubuh Bang Rifai dan memeluknya. Bang Rifai membalas pelukkanku. Ya Allah terima kasih telah mengirim Bang Rifai untukku dan aku tidak salah memilihnya menjadi Iman dalam biduk bahtera rumah tanggaku walaupun gelombang serta riak rumah tangga tidak lepas dari rumah tanggaku. Aku harus belajar lagi menjadi istri yang tidak boleh merasa bahwa hanya aku yang berkorban untuk rumah tangga kami.***

Tinggalkan Balasan