
Usia Lanjut Masih Trekking, Kok Bisa?
“Tua-tua begini masih trekking?” Ungkap seorang anak perempuan, umur sekitar 10 tahun ketika kami berpapasan dengan dia dan teman-temannya, mungkin teman satu sekolah, waktu saya baru beberapa meter turun dari Curug Mariuk bulan yang lalu.
Hmmm, sambil memesan kopi, duduk istirahat di pondok yang sama, saya hanya tersenyum, tidak menjawab apa-apa, hanya hati saya saja yang berbisik sedih, “anak masih seumur dia sudah punya konsep yang kurang tepat mengenai orang tua.” Saya tidak menyalahkannya, barangkali dia dapat masukan salah dari lingkungannya, di rumah atau di sekolah. Saya juga tidak heran, barangkali dia mempunyai orang tua, kakek atau orang-orang terdekat yang dianggapnya sudah tua, sama dengan saya, tapi sudah terbaring lemas di rumah.
Dilhatnya juga teman-teman kakeknya atau tetangganya tidak jauh berbeda, jangankan trekking di jalan yang mendaki, berjalan di tempat yang datar saja sudah harus dibimbing atau memerlukan tongkat. Jadi, anak yang kelihatan cerdas dan jujur ini barangkali heran, kok saya masih bisa trekking di medan dengan jalan yang cukup sulit.
Memang, sebagian besar kita punya persepsi yang salah tentang usia tua. Kebanyakan kita berpikir tua itu identik dengan badan yang lemah, mudah lelah, rapuh, lambat, otot yang kaku, mengecil, nyeri, sakit pinggang, sakit lutut, gangguan keseimbangan, penurunan penglihatan, pendengaran, pelupa, dan banyak keterbatasan lain. Dan, bahkan kalau sudah tua, aktifitas, kerja yang selama ini biasa dilakukan dibatasi, bahkan dilarang.
Tidak boleh lari, jalan jauh, mengangkat barang, menggendong cucu, tidak boleh bersepeda, membawa mobil sendiri, dan banyak larangan-larangan tidak boleh lainnya. Karena banyak larangan dengan alasan takut, khawatir jatuh misalnya, para orang tua usia lanjut lebih banyak duduk, tidur di rumah, aktifitasnya fisiknya jadi jauh menurun.
Nah, sayapun ketika memberitahu keluarga dan anak-anak saya untuk ikut trekking, mereka juga keberatan. Khawatir kepleset, jatuh, tidak kuat, serangan jantung menjadi alasan keberatan mereka. Tetapi ketika saya katakan, saya yang lebih tahu dengan tubuh, kekuatan saya, dan alasan lain, mereka akhirnya dapat menerima.
Lalu, “kok saya berani trekking dengan tiga orang adik alumni satu SMA yang usianya lebih dari 15 tahun di bawah saya?” …Apa saya bisa mengikutinya, apalagi mereka sudah terlatih dan sudah biasa trekking ke banyak tempat. …….Awalnya saya agak ragu, tapi karena saya sudah terbiasa jogging, kadang-kadang bahkan berlari pelan paling tidak lima kali dalam seminggu, dan kalau lagi di Rumah Sakit kebiasaan yang hampir selalu saya jalani adalah memjauhi lift. Saya lebih memilih tangga untuk naik ke lantai atas ruang perawatan dan itu ada empat lantai di atas lantai poli. Dengan kebiasaan selama ini yang jalani, saya percaya diri bahwa saya akan mampu mengikutinya.
Tua tidak bisa ditolak, fungsi organ tubuh kita semakin tua juga semakin menurun. Masa otot mulai usia 40 tahun juga semakin berkurang, otot semakin mengecil. Tapi, kalau anda berusia 70 misalnya, mengadakan reuni dengan teman-teman sebaya atau satu angkatan di SMA, anda akan melihat secara kasat mata penampilannya sangat heterogen. Ada yang datang dengan tongkat, dibimbing anaknya, yang pakai kursi roda, ada yang lumpuh sebelah karena stroke, yang pakai kaki palsu karena komplikasi diabetes, tapi banyak juga yang sehat-sehat saja, masih ok, masih lincah berjalan, bahkan ketika ada acara berjoget, gayanya tidak kalah dengan anak muda.
Kemudian, “apa yang membuat perbedaan penampilan fisik, atau kesehatan mereka yang sebaya itu?”
Jawabannya, “banyak faktor, mulai dari faktor genetik, obesitas, diet, stress, merokok, lingkungan, dan aktifitas fisik mereka. Tapi, yang utama menurut referensi yang saya baca adalah aktifitas fisik yang kurang, dikenal juga dengan “physical disuse.” Aktifitas fisik kurang, anda malas berolahraga secara teratur, langkah anda sangat terbatas, banyak duduk, maka risiko anda untuk mengalami penyakit-penyakit kronis degeneratif seperti hipertensi, stroke, diabetes, penyakit jantung, gangguan ( radang) sendi) menjadi lebih besar.
Andaikan anda menderita salah satu saja dari penyakit yang sering dikaitkan dengan usia tua ini, misalnya radang sendi, atau arthritis, kebanyakan adalah osteoarhritis pada lutut, sendi panggul, maka dari berjalan saja anda sudah berbeda dengan orang lain. Trekking dengan medan yang menantang, turun-naik, berbatu dan kadang-kadang licin akan sulit diikuti.
Karena itu, agar anda dapat berjalan jauh, berlari, trekking dengan jalan menurun dan mendaki, di usia lanjut tidak mungkin bisa tiba-tiba. Bangun pagi, ingat waktu usia 17 tahun pernah bersama teman- teman sekolah naik gunung, kemudian sekarang di usia 70 tahun serta-merta anda ingin naik gunung juga, adalah mustahil. Anda harus memperisiapkan fisik, maupun mental anda. Persiapannya tidak sulit, gunakan tubuh anda sebagaimana seharusnya.
Perbanyak langkah anda setiap hari dengan mengurangi duduk, banyak berjalan, jogging, berlari, olahraga peregangan, dengan beban, dan membiasakan naik tangga. Kalau kebiasaan ini sudah anda jalani cukup lama, apalagi sejak usia muda, maka di usia 70 tahun-pun tidak musatahil anda akan melenggang di jalan menurun dan mendaki, trekking-pun ok-ok saja. #irsyalrusad #healthylifestyle.
Salam Sehat








Terimakasih tipsnya, memang benar memasuki kepala 5 , keluhan mulai banyak muncul , obat menjadi konsumsi sehari hari, terimakasih tipsnya , berusaha menjalankan olahraga teratur…