Butir-butir Kenangan Bersama Emak, Wanita Terhebatku

Terbaru1071 Dilihat


Emak, perempuan desa yang tangguh itu tidak banyak bicara, mirip dengan karakter Corry adekku. Sangat berbeda denganku yang selalu berkicau, sejak bangun tidur hingga jelang keperaduan.

Ketika kami beranjak remaja, maka masing-masing mendapat tugas khusus. Rumondang, kakak sulungku diberi kepercayan untuk mengolah bahan makanan yang hampir bisa kuhafal jenis masakannya, ikan goreng dan tumisan.

Kakakku Anne kebagian tugas bersih-bersih rumah, aku bertugas mencuci pakaian. Setiap minggu pagi ketika rerumputan masih berembun, aku bergegas menjunjung ember berisi pakaian kotor kepancuran dibelakang rumah. Tanpa belajar ilmu manajemen tentang organizing, emak mampu mengelola rumah tangga dengan baik.

Untuk urusan pendidikan, emak menyerahkan sepenuhnya kepada kami. Beliau jarang bertanya tentang PR, ujian, dan sebagainya. Selain karena emak sudah lelah seharian bekerja diladang, aku yakini, beliau mengerti bahwa kami anak-anaknya mandiri, belajar tanpa disuruh.

Usai makan malam, biasanya kami akan menuju meja panjang yang mampu memuat 12 orang dengan bangku-bangku panjang disekelingnya. Hanya dengan melihat koran ayah terletak diatas meja, itu sudah merupakan kode keras bahwa sudah waktunya untuk belajar bersama.

Sekadar motivasi, meski kami dibesarkan dengan asupan ubi rebus dan ikan asin bakar dipagi hari, prestasi mampu diraih. Fakta ini mementahkan bahwa faktor gizi bukanlah prioritas dalam meraih prestasi. Maka, aku paling nggak sependapat ketika ada siswa mengeluh semata karena minimnya dukungan finansial orang tua.

Jarak kelahiran kami yang hanya dua tahun antara kakak adik, membuatku tak habis pikir bagaimana emak merawat kami. Bahkan emak pernah mengisahkan, berjuang sendirian melahirkan adek kami.

Kondisi dikampung yang sangat memprihatinkan, bidan atau perawat samasekali tidak ada, hanya mengandalkan kemampuan seorang paraji (Dukun bayi).

Ketika itu sang paraji tidak berada dikampung, maka emak mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari air hangat di termos untuk memandikan si bayi, gunting dan sembilu (Peralatan dari bambu, untuk memotong pusar, konon katanya supaya tidak terkena tetanus). Maka, emak kami yang super duper women itu melahirkan hanya ditemani kakakku Rumondang.

Ketika menulis kisah ini, aku tertegun. Sekuat itukah emakku?. Barangkali jauh lebih kuat lahir bathin dari yang aku tahu, sebab kedekatan anak dan orang tua dizaman itu belum seperti yang aku lakukan dengan putra putriku saat ini. Ya, zaman sudah berubah, namun kenangan tentang emak tetap terpatri abadi.

Dulu, aku bahkan tidak pernah bercerita kepada emak bahwa aku menyukai si Ucok misalnya. Hampir tidak ada ruang untuk mencurahkan sejuta rasa dimasa remaja. Barangkali, hal itu kualihkan dengan cara berkunjung kerumah teman-teman SMP, hingga aku tahu dimana kampung Marihat, Ladang Jambu, Saribu Jawa, Parit Ganjang, dan seterusnya.

Sekali waktu, anak-anak perempuan emak beramai-ramai mengeritingkan rambut tanpa permisi kepada orang tua. Yang bereaksi adalah ayah, langsung komentar bahwa apa yang kami lakukan itu tidak baik. Rambut lurus malah dirusak, tidak mensyukuri pemberian Tuhan, begitu kata ayah. Emak kami diam saja, tidak beri komentar. Andai emak ikut bereaksi dan memarahi kami berempat (Anne, aku, Corry, dan Nora), bisa jadi kami akan kebingungan.

Siang hari usai sekolah, emak mengajak aku dan abangku Rio mencari kayur bakar kehutan. Kegiatan ini dilakukan ketika stok kayu bakar menipis. Emak membawa parang yang digunakan untuk menebas ranting-ranting pohon yang tumbang, kemudian memotong sama rata, diikat untuk kemudian dibawa pulang kerumah dengan cara menjunjung diatas kepala.

Tak jarang kami harus berjuang keras melewati bongkahan kayu besar, namun tubuh kurusku dengan mudah mampu menapakinya. Dihutan tempat kami mencari kayu bakar, sering kami temukan patung berwujud manusia yang sedang duduk bersila, jika bertemu yang seperti itu, maka kami berucap perlahan,”Tabik Oppung, kami hanya mencari kayu bakar”.

Maka ketika beberapa waktu yang lalu, viral tentang penemuan patung di Maranti Omas, Labura, aku teringat “Gana-ganaan”, demikian kami menyebutnya.

Terlahir sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, tidak serta merta membuat emak menjadi sosok manja. Hubungan yang harmonis terjalin dengan Maktua dan Tulang, yaitu kakak perempuan dan saudara laki-laki emak.

Kami sering diajak kerumah Maktua di kampung Dolok Sagala , salah seorang kakak emak yang paling baik hatinya. Sebab, ketika kami berkunjung, maka baik Maktua dan Paktua selalu menanak nasi dalam jumlah banyak, dan kami makan sekenyang-kenyangnya. Maktua memiliki sawah dengan panen melimpah, tak urung kami selalu dibekali beras pulen ketika kembali kerumah.

Tulang Kutacane, demikian kami menyebutnya, karena bermukim di Kutacane. Dengan kondisi yang tidak memungkinkan, tak sekalipun kami mengunjunginya. Sebagai pengobat hati, maka Tulang Kutacane yang selalu mampir kerumah, sekaligus menjenguk Oppung dikampung Naga Sipinggan. Satu-satunya saudara emak yang telah memiliki kendaraan roda empat ketika itu (Tahun 1970-an), membuatku bangga memiliki Tulang yang sangat perduli pada kami.

Ketika Tulang pamitan, maka kami diberi uang jajan yang jumlahnya bisa 10 kali lipat dari uang jajan harian (Rp.100,.). Setelah Tulang hilang dari pandangan mata, maka kami segera berlomba-lomba mendatangi emak, melaporkan berapa uang yang diberi Tulang.

Nasehat ayah dan emak, ketika sanak saudara memberi sesuatu, maka harus mengucapkan terimakasih dan wajib memberitahu apa yang didapat. Filosofi yang ditanamkan orang tua ternyata benar, jangan sampai kita lupa berterimakasih kepada siapapun, terutama kepada saudara sendiri.

Uang pemberian kami simpan dalam tabungan bambu yang dirakit sendiri. Tabungan bambu tersebut dipakukan kedinding, diberi nama pemilik sehingga masing-masing bertanggungjawab dengan barang miliknya. Yang pasti tujuannya adalah jangan sampai salah memasukkan uang kedalam tabungan orang lain.

Setahun sekali, tabungan bambu kami belah, digunakan untuk membeli peralatan sekolah sesuai selera. Tentu saja aku memilih alat tulis berupa pinsil atau pulpen, sebab isinya juga tidak seberapa.

Jelang tahun baru, emak memasak lemang. Beras ketan dicuci bersih, direndam dengan rempah-rempah berwarna kuning. Kemudian emak mengisi satu demi satu bambu lemang dengan beras ketan serta santan kuning. Berjam-jam kami menunggu lemang yang dibakar diperapian. Terkadang kami tertidur menemani emak, dan tetiba lemang sudah matang.

Tentang lemang, aku, kakak, abang, serta adik-adikku pernah “Disidang”. Karena euphoria, lemang yang kami potong tersisa banyak. Ayah marah, memaksa kami harus menghabiskan seluruh lemang yang telah dibuka. Akhirnya kami ambil jalan pintas yang sangat tak pantas, potongan-potongan lemang tak berdosa itu kami lempar kebawah kolong balai-balai tempat kami disidang. Tentu saja dengan kerjasama yang baik, agar ayah dan emak tidak memergoki perbuatan kami.

Tragedi lemang menyadarkan kami, bahwa kerja keras emak harus dihargai, sebab tak mudah untuk memasak lemang diperapian. Salah satu bukti kasih sayang ayah kepada emak, meski tak pernah dilukiskan dengan kata-kata, namun si emak perkasa harus mendapat penghormatan dari kami anak-anaknya. Maka, ketika ada anak yang berlaku kurang adab kepada orang tua, nuraniku tersentuh.

Butir-butir kenangan bersama emak masih berlanjut pada episode berikutnya.
Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat, babontuk elok.

Tinggalkan Balasan