Cerita Anak | Maaf Saya Lupa, Bu

Fiksiana480 Dilihat

Cerita Anak

Kamila melangkah keluar kelas. Dia sedang menyapu kelasnya. Hari ini adalah gilirannya piket kelas. Tidak seperti biasanya. Hari ini dia tidak datang lebih awal.

Kamila merasa hari ini ada yang berbeda. Dia terlihat tergesa-gesa menyelesaikan tugasnya. Terlebih ketika Kristin tiba-tiba menemuinya.

“Kamila. Antar saya ayo!”

Kamila mendengar teriakan Kristin. Dia pun segera meletakkan sapu. Setelah itu dia berlari kecil ke arah Kristin yang menunggunya di halaman. Dia tidak mau temannya menunggu terlalu lama.

“Ada apa, Kristin?” tanya Kamila menatap Kristin.

Kristin menjawab, “Temani aku ke perpustakaan, dong!”

Kamila menggeleng-gelengkan kepala. Dia tahu betul sifat teman karibnya ini. Dia yakin pasti Kristin punya alasan khusus.

“Tapi ini, kan, masih pagi, Kristin. Perpustakaan belum buka juga,” kata Kamila sambil membalikkan badan.

Kristin pun menarik tangan Kamila dan berkata, “Itu sudah buka!”

Kamila mengikuti arah tangan Kristin. Dia pun menganggukkan kepala. Dia melihat pintu perpustakaan telah dibuka.

Kamila akhirnya mengikuti Kristin. Kakinya melangkah menyusul Kristin yang sudah duluan. Di depan perpustakaan mereka berhenti.

Perpustakaan masih sepi. Ini yang menjadi alasan Kristin ke perpustakaan lebih pagi. Menurutnya saat sepi lebih enak mencari buku.

Kamila lantas meminta izin masuk kepada penjaga. Mereka pun akhirnya berkeliling. Mereka mencari buku cerita.

“Ini dia!” seru Kristin.

Kamila terkejut mendengarnya. Dia pun melangkah mendekati Kristin. Di depan rak buku cerita Kristin terlihat bahagia.

Kamila menyapanya, “Buku apa, sih?”

Kamila berusaha merebut buku dari tangan Kristin. Dia tidak berhasil. Kamila pura-pura ngambek.

Kamila tersenyum ketika Kristin memberitahu judulnya.

“Kan, bisa kita baca sama-sama di rumah,” kata Kristin menenangkan Kamila.

Kamila pun menyahut sambil mencari buku, “Iya. Tapi aku mau cari buku lain dulu, nih.”

Tanpa terasa hampir waktunya masuk. Kamila masih belum menemukan buku. Dia mengincar buku pengetahuan populer.

Kamila tidak menemukan yang sesuai keinginannya. Akhirnya dia menyerah. Dia memutuskan membaca bersama Kristin saja.

Bel masuk pun berbunyi. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke kelasnya. Di depan kelas mereka terkejut.

Guru kelas mereka sudah berada di dalam kelas. Ibu Guru bertanya kepada teman kelasnya siapa yang piket hari ini. Kamila pun mengajak Kristin untuk masuk.

Setelah mengucapkan salam, Kamila menghadap guru kelasnya. Dia mengakui bahwa hari ini gilirannya. Dia juga minta maaf karena lupa membersihkan meja dan perpustakaan kelas.

“Kalian berdua silakan duduk,” kata Ibu Guru sambil merapikan bukunya.

Pelajaran pun berlangsung seperti biasa. Kamila dan teman-temannya merasa bahagia saat belajar IPA. Ibu Guru sering mengajak mereka belajar di luar kelas.

Bel pulang pun berbunyi. Teman-teman Kamila membubarkan diri. Kamila belum beranjak dari kursinya.

Kamila masih asyik berbincang dengan Kristin. Mereka mengobrol tentang buku yang dipinjam. Buku itu berjudul ‘Tim Pencari Pesawat Sederhana’.

Tanpa mereka sadari, Ibu Guru berdiri di dekatnya. Mereka mengangkat kepala. Mereka melihat Ibu Guru tersenyum.

Tak lama kemudian Kristin izin pulang duluan karena sudah dijemput. Kamila pun hanya tinggal berdua dengan gurunya di kelas.

“Kamila… Kalau boleh Ibu tahu apa ini alasan kamu lupa membersihkan meja guru di kelas?” tanya Ibu Guru.

Kamila menjawab, “Iya, Bu Guru. Tadi tiba-tiba Kristin minta diantar ke perpustakaan. Jadinya selesai menyapu saya langsung pergi sama Kristin.”

“Kalau boleh tahu, nih. Apa yang akan kamu lakukan agar tidak ada kejadian seperti tadi?” tanya Ibu  Guru sambil duduk di salah satu kursi murid.

Kamila mengerutkan kening. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya tahu kalau dia tidak akan mengulanginya lagi.

“Maaf, Bu Guru. Tadi saya tidak datang lebih awal karena terlambat bangun,” jawab Kamila.

Ibu Guru menanggapi perkataan Kamila dengan sabar, “Apa yang akan Kamila lakukan agar tidak terlambat bangun?”

Kamila pun menjawab. Setelah itu dia meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kemudian Kamila pun pamit pulang setelah mengucapkan salam dan cium tangan.

Di depan gerbang, ibunya telah menunggunya. Dalam senyuman, Kamila menceritakan pelajaran yang didapatnya hari ini sepanjang perjalanan.

mo

Tinggalkan Balasan