Azan subuh berkumandang, kebiasan dari kecil membuatku tidak bisa bermalas – malasan di tempat tidur, walaupun kantuk masih berat menyerang. Merenggangkan otot yang masih terasa kaku, setengah nyawaku masih di alam mimpi, menyebut asmanya untuk mengumpulkan semua dan menyemput hari untuk mencari rezeki.
Melirik sepintas dengan sosok yang sudah tiga tahun ini menemani hidupku setelah dirinya dengan lantang mengucapkan ijab qabul atas namaku. Masih seperti biasa harus dibangunkan untuk menjemput hari, sepertinya aku yang menjadi imam bukan dirinya yang bergelar suami bagiku.
Menggoyang dirinya pelan, jangan sampai emosinya tersulut sehingga merusak suasana pagi yang seharusnya nyaman sehingga rezeki tidak lari.
Sekali dua kali aku meggoyang badannya pelan, tapi sepertinya dirinya tetap hanyut dalam mimpi yang jelas menerbitkan senyum yang terus tersungging walaupun dirinya masih tidur. Akhirnya aku menyerah sebelum subuh lebih jauh meninggalkan diri aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan mempasrahkan diri kepada sang pencipta sambal berdoa semoga suamiku berubah menjadi lebih baik lagi.
Sebelum keluar kamar untuk melakukan rutinitas pagi sebagai seorang istri, aku menggoyang Kembali badan suamiku.
“Bang bangun sudah hampir habis waktu subuh, jangan sampai ayam dulu yang mematok rezeki kita Bang.” Ucapku kesal.
Netra merah tanda nyawanya baru terkumpul di tambah rasa kesal karena aku menganggu tidurnya jelas terlihat ketika tatapan kami bertemu. Aku memberikan senyum terbaikku untuk melembutkan hatinya, alhamdulillah akhirnya wajah kesalnya berubah menjadi biasa dan melangkahkan kakinya sambal menowel pipiku sebelum ke kamar mandi.
Sambal tersenyum aku berlalu menuju dapur tempatku berjibaku sebelum aku juga harus mengais rezeki membantu perekonomian rumah tangga kami.
***
Bersambung







