Unik Berkemah di Musim Dingin

Terbaru360 Dilihat

Menuju desa Jingellic/dok pribadi

Sejak kemarin sore,kami sudah memeriksa kelengkapan mobil,mulai dari ban ,air radiator dan segala sesuatunya. Karena kami akan melakukan perjalanan yang cukup jauh ke Jingellic,yang berjarak tempuh sekitar 9 jam dari desa Mount Saint Thomas.Jaket,jas hujan, tenda dan segala macam kelengkapan untuk camping sudah berada di mobil.

Jam 5.00 pagi kami sudah bangun ,mandi dan mengisi perut dengan secangkir kopi hangat dan sepotong sandwich. Suami  tidak berani makan kenjang,karena kuatir akan menyebabkan rasa kantuk dijalan.5 menit sebelum jam 6.00 kami semua sudah berada di mobil. Suami  mengendarai Yarris,berdua dengan  saya . Sedangkan putri kami nyetir Camry,bersama  kedua cucu kami Kerisha dan Allan

Perjalanan Jauh di Mulai

Sebelum berangkat singgah dulu menjemput  teman kami James dan istrinya Lorainne ,yang juga membawa putra dan putri mereka.Keluarga ini berasal dari Colorado ,Amerika Serikat, Dari sini masih menjemput Paul ,asal Canada,yang beristrikan Ilen ,asal Malaysia,yang membawa serta kedua putra mereka. Jadi kami semuanya 4 kendaraan.

Di sini jalan raya ,istilahnya highway,mirip dengan jalan toll di negara kita, tapi tidak perlu membayar apapun. Kami melaju sesuai ketentuan,maksimal kecepatan 110 km per jam. Dijalan ini tidak boleh melambatkan kendaraan,kecuali emergency. Kalau kecepatan 110 km,maka paling lambat kita boleh mengendarai 100 km perjam.

 Peristirahatan

 Setelah berkendaraam 3 jam kami stop ditempat peristirahatan yang kusus disediakan pemerintah .Disini disediakan kopi dan teh  hangat,makanan kecil,secara gratis. Ada puluhan mobil yang berhenti.Menikmati secangkir kopi  dialam terbuka yang dingin,terasa sangat nikmat.Setelah melepas lelah beberapa menit,kami kembali melanjutkan perjalanan..menuju ke Jingellic

Memasuki Jalan Perdesaan

Tanpa terasa,kami sudah menempuh 8 jam perjalanan. Kini mulai memasuki perdesaan . Kabut mulai turun.sehingga jarak pandang kedepan hanya sekitar 10 meter,walaupun kami sudah menyalakan lampu . Di pintu gerbang desa,kami sudah ditunggu oleh John dan keluarga,yang bertindak sebagai tuan rumah,karena kami akan berkemah dilokasi milik keluarganya

Diperdesaan jalanan tidak diaspal  sehingga kecepatan hanya 20 km per jam.  Hampir satu jam perjalanan menuju ke pinggiran sungai. Dan ketika menapaki jalanan berpasir,mobil mulai berjalan zigzag. Suami kebagian yang paling repot,karena mobil Yarris kecil dan rendah. Tapi syukurlah,berkat pengalaman nyetir selama setengah abad, suami  dapat melalui jalanan yang penuh tanjakan dan pasir dan dengan selamat sampai di pinggiran sungai..

Akhirnya Tiba  Jua

 Kemah di pipingir sungai./dok pribadi

 Begitu sampai.kami segera bekerja keras mendirikan tenda,karena kabut semakin tebal dan udara dingin semakin terasa merasuk kesumsum tulang.Tidak ada fasilitas apapun disini. Tidak ada listrik,toilet umum,tidak ada jaringan komunikasi dalam bentuk apapun. Hp sama sekali tidak berfungsi. Dalam radius sekitar 10 kilometer tidak kelihatan satupun rumah penduduk. Saat ini kami benar benar terputus dari dunia luar.

Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh tenda tenda sudah rampung terpasang. Sementara itu kabut semakin tebal. Kami sudah harus mempersiapkan makan malam. Maka kami berbagi tugas. Kaum wanita mempersiapkan bahan bahan untuk dimasak. Anak anak bertugas mengumpulkan ranting ranting dan dedaunan kering. Sebagian pria masuk ke hutan untuk mengumpulkan kayu kayu kering.

Suami ,Paul dan James ,bertugas membuat api unggun,yang sekaligus akan jadi tunggu masak kami.  Paul dan James mulai mematahkan kayu kayu kering dengan menggunakan tangan dan lututnya. Terkadang mereka meringis,mungkin pas dapat kayunya yang keras. Suami  datangi mereka dan bilang:” Excuse me,Paul, James, ,let me show you the easy way to break the woods.”

Suami  memegang ujung kayu ,kemudian dengan lambat suami  pukulkan ke batu besar yang ada disana,. ” Kraak” kayunya patah dua. Suami  ulangi lagi ,sehingga satu potong kayu tadi,kini menjadi 4 potongan kecil,siap untuk dibakar. Mudah dan tidak memerlukan tenaga. Mereka mencoba dan berhasil. “Thank you Effendi”,kata Paul dan James hampir serempak.

duduk diperapian.sambil menikmati kopi hangat”/dok pribadi

Kebersamaan.

Kami sama sekali tidak merasakan perbedaan itu. Bersantap kentang bakar ,di udara terbuka dan dingin,terasa amat nikmat.Apalagi ditambah dengan kehangatan secangkir cappucino. Ketika hati dipenuhi oleh rasa damai ,makanan sesederhana apapun terasa menjadi sesuatu yang luar biasa.

menikmati kebersamaan ?dok pribadi

Toilet Hand Make

 Sekitar jam 2.00 dini hari, saya tiba tiba ingin ke toilet. Satu satunya jalan adalah membuat toilet emergency. Suami  mencari sekop di tenda peralatan,sambil sebelah tangan memegang sebuah lampu baterai. Kami harus berjalan sekitar 100 meter menuju ke hutan yang ada disana, Suami mulai menggali tanah. Ternyata dalam kedinginan dan keletihan yang amat sangat,menggali tanah sedalam lebih kurang 75 cm cukup melelahkan.

Hutan disini tidak sama dengan hutan di Indonesia,apalagi dibanding hutan di Pulau Sumatera. Tidak ada harimau atau binatang buas lainnya. Tetapi ada binatang kecil yang cukup menakutkan yaitu labah labah beracun,yang sekali digigit,maka tidak ada harapan lagi untuk selamat.

Tetapi ketika kami ke hutan tadi ,karena masih dikuasai rasa kantuk yang sangat, kami lupa menutup tenda dan tetap tersingkap hingga kami kembali. Udara dingin yang membeku telah mengubah selimut penghangat menjadi lembab dan dingin bagaikan selimut salju. Kami membuka koper dan menambah jaket satu lapis lagi dan mencoba melanjutkan tanpa selimut..Mungkin saking letihnya,kami kembali tertidur dengan nyenyak.

Dimana ada pertemuan ,disana pasti akan ada perpisahan

Setelah empar hari malam terachir, sesaat sebelum masuk kedalam kemah masing masing untuk beristirahat, seluruh anggota rombongan berdiri dan menyanyikan lagu :

Should auld acquaintance be forgot

And never brought to mind?

Should auld acquaintance be forgot

And auld lang syne!

For auld lang syne, my dear

For auld lang syne

We’ll take a cup o’ kindness yet

For auld lang syne

Bagi saya pribadi ,sungguh merupakan suatu kenangan yang tak terlupakan.Ternyata,beda bangsa ,beda budaya ,beda bahasa dan agama,bukanlah alasan untuk menjalin suatu persahabatan.

19 Maret 2023.

Salam saya,

Roselina

Tinggalkan Balasan