Netra dengan tatapan teduh itu selalu memukauku, bukan karena penampilannya yang sexy menarik perhatianku tapi
Mungkin ini yang katanya, jodoh setiap ada dirinya maka ada diriku. Warna baju yang kontrak dengan warna kulitnya, padahal hanya bagian wajah serta sebatas tangan yang dapat aku nikmati tapi sungguh sedikit tapi aku tahu ada kecantikan di dalam balutan baju longgar yang menutupinya.
Tak ada tatapan mengoda hanya sekali pandangan kami beradu, dengan cepat dirinya mengalihkan pandangan, senyum malu terlihat jelas oleh netraku, semu merah jambu terlihat sekilas di pipi yang alami tidak ada tebal dempul yang menutupinya.
Mungkin karena takut air wudhu tidak menembus maka tidak ada dempul yang mempercantik penampilannya, subhanallah aku tergoda.
“Han, anak gadis orang jangan dipandang terus, nanti timbul dosa.” Aku terganggu dengan suara Bunda yang mengusik kesenanganku memandangnya.
Tangan tua yang sudah dua puluh tujuh tahun mengasuhku, menarik paksa diriku menuju sudut ruangan ditengah rumah besar yang menjadikan kami tamu dirumahnya siang ini. Acara pernikahan yang memaksaku hadir setelah dengan susah payah Bunda memujukku untuk ikut karena malas pergi sendiri, itu alasan Bunda.
Bunda sedikit manja kepadaku setelah dua tahun kepergian Ayah karena dipanggil yang Maha Kuasa. Sementara adikku tidak bisa menjadi pengawal Ibu karena jenis kelamin yang sama dengan Bunda.
“Susah makan, kalau sudah kita pulang Bunda lelah.” Aku menarik sudut netraku melihat Bunda.
Tak percaya bukannya tadi bunda sedang bersenda gurau dengan teman – temannya kenapa mendadak mengajak pulang. Baru saja aku mau menikmati bidadari surga yang entah mengapa sering berjumpa dalam keadaan yang tidak pernah dijanjikan.
Netraku nyalang mencari keberadaannya, rasa masih belum puas menatapnya tapi bunda sudah mengajak pulang.
“Sebentar lagi Bunda.” Suaraku lembut tapi penuh permintaan kepada Bunda untuk tidak pulang sekarang.
“Tadi saja waktu diajak susahnya minta ampun, sekarang tidak mau pulang. Bunda kesal sama kamu Hamdan, Bunda jadi bahan qibah teman Bunda karena kamu sampai saat ini belum juga menunjukkan tanda – tanda akan menikah.” Deg, jantungku mau berhenti mendengar ucapan Bunda, otakku berpikir cepat.
“Bunda jika melamar dia untuk Hamdan, Hamdan mau menikah saat ini juga.” Seperti cadaan tapi aku serius sambil menujuk bidadari surge yang saat ini tepat duduk manis diantara tamu undangan lainnya.
“Kamu serius An.” Netra Bunda membulat, menatapku dengan binary tak percaya.
Netraku mengiringi langkah Bunda yang meninggalkanku, jantungku berdegup kencang ketika melihat Bunda yang hampiri bidadari yang sedari tadi aku perhatikan. Langkah mereka mendekat.
“Intan, ini anak Bunda Hamdan. Besok kami akan mengkhitbahmu.” Setelah mengucapkan itu Bunda berlalu dari hadapanku bergabung kembali kepada teman – temannya. Sepertinya mereka lagi mengolok – olok Intan yang tidak lepas dari rangkulan Bunda.
***
(bersambung)





