
Pemandangan seperti dalam film “Zombie” atau “The Last of Us” kini menghantui sejumlah tempat di Amerika.
“Mayat-mayat hidup” seperti sudah menjadi pemandangan yang biasa. Bukan akibat virus seperti dalam film Zombie atau jamur seperti dalam The Last of Us, melainkan karena pengaruh obat yang disebut “zombie drug”.
Sosok-sosok manusia seperti mayat hidup berjalan dengan langkah dan gerak tak terkontrol, tak tentu arah. Di jalanan, di gang-gang, di sejumlah tempat.
Ada yang cuma berdiri dengan sepertiga badan tertunduk, setengah berputar ke kiri dan ke kanan, tanpa melakukan apa-apa. Ibarat orang tertidur berdiri tapi tidak bisa diam.
Ada yang berdiri di tengah jalan seperti tidak berkesadaran. Ada yang berdiri dengan kepala ditengadahkan dan mulut menganga, sesekali sempoyongan lalu berusaha tegak lagi, dengan posisi kepala yang sama. Ada yang sampai setengah badan dibungkukkan seperti orang mencium lutut.
Di sekitarnya orang lalu-lalang, biasa saja, seperti menganggap itu pemandangan lumrah, bahkan di siang hari. Ada yang duduk-duduk sambil berbincang santai dengan temannya, padahal di dekat mereka ada yang seperti zombie. Di salah satu gang, seorang anak muda hanya berdiri memperhatikan temannya yang sudah terbungkuk-bungkuk seperti tidak sadar.

Realita Horor
Gambaran tersebut nyata di sejumlah tempat di Amerika, sebagaimana bisa disaksikan melalui video di sejumlah akun twitter dan yang beredar di WhatsApp (WA). Misalnya pada akun twitter TheoryOrb dan Landon Maccan.
Sebuah video berdurasi 4 menit 58 detik yang sampai ke WA saya menuturkan bahwa para pecandu narkoba mudah sekali ditemukan di kota-kota di Amerika. Termasuk di Bronx. “Walking dead” berkeliaran di mana-mana.
Ya, Amerika kini tengah dihantui gelombang krisis akibat overdosis. Andrew Court pada New York Post edisi 27 Maret 2023 melaporkan, “zombie drug” telah terdeteksi di 48 dari 50 negara bagian di AS dan mendorong Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan peringatan “ancaman luas”. Yang lebih menyedihkan adalah horor itu melanda kaum muda utamanya.
Seorang reporter dalam video itu mengatakan benar-benar terkejut sesampainya di sana. Dia kaget melihat ancamannya ternyata sudah seserius itu. Hampir setiap blok di area di Bronx, tepat di utara gedung pencakar langit Philadelphia yang mengilap, “Anda hampir tidak bisa menemukan siapa pun yang tidak di bawah pengaruh (narkoba)”
“Pihak berwenang tidak bisa berbuat apa-apa akan hal ini,” tuturnya.

“Zombie Drug”
Masalah penyalahgunaan obat dan kematian akibat overdosis bukanlah hal baru di AS. Sekitar 20 tahun lalu, masalah heroin merebak, disusul fentanyl, dan kini “zombie drug”.
Data Pusat Statistik Kesehatan Nasional AS (NCHS) menyebutkan, pada 2021 diperkirakan ada 107.622 kematian akibat overdosis, hampir 15% lebih besar dari 93.655 kematian pada 2020. Kejadian overdosis ini diperparah dengan munculnya obat yang disebut “zombie drug”.
Sebutan “zombie drug” merujuk pada obat hewan xylazine yang disebut sebagai tranq (singkatan dari tranquilizer) yang dicampurkan ke narkoba untuk memperkuat dan memperlama sensasi teler narkoba tersebut. Tranq kini banyak dipakai sebagai campuran untuk opioid fentanyl, karena harganya lebih murah. Sebelumnya, xylazine biasa dicampur dengan heroin atau kokain.
Dalam kedokteran hewan, suntikan xylazine biasanya digunakan untuk membius hewan (biasanya hewan besar) yang akan menjalani tindakan operasi dan untuk menghilangkan rasa sakit. Obat ini telah disetujui oleh FDA setempat. Obat ini juga dapat digunakan untuk menenangkan hewan yang gelisah atau agresif.
Tranq bukanlah obat untuk manusia. Pada manusia, ia bisa menimbulkan efek euforia dan kondisi setengah sadar. (Euforia adalah keadaan mental dan emosional yang tidak nyata di mana seseorang merasa amat bahagia, bersemangat, dan percaya diri). Obat ini secara signifikan meningkatkan kemungkinan overdosis bila dicampur dengan obat lain seperti heroin atau fentanyl.

Obat ini jika dipakai oleh manusia bisa menyebabkan luka, pembusukan pada jaringan kulit, dan yang lebih parah bisa berakhir dengan amputasi. Juga, gejala lain seperti sesak napas, memperlambat detak jantung, dan menurunkan tekanan darah.
Efek menggerogoti daging ini sulit sembuh dan bisa muncul di mana saja pada tubuh, tidak mesti di tempat di mana obat itu disuntikkan.
“Saya suntik di sini, tapi muncul luka di bawah sini juga,” ujar yang pernah memakainya dalam video itu. “Semua luka ini terbuka sekitar sebulan lalu.”
Penggunaan tranq meluas di wilayah darurat narkoba seperti Philadelphia, seperti yang menjadi latar video itu. Sekitar sepertiga dari semua kasus overdosis di Philadelphia dilaporkan mengandung xylazine. Pihak berwenang mengatakan obat itu menyebar dengan sangat cepat di seluruh AS, bahkan di luar negeri.
“Opioid campuran itu ‘menghancurkan’ anak-anak muda Amerika,” kata Landon Maccann. Tayangan di akunnya mengundang berbagai respon. Antara lain sikap setuju dilakukannya operasi militer terhadap kartel yang ditengarai bertanggungjawab terhadap peredaran obat tersebut.
Tidak Ada Detoks
Permasalah serius juga berkisar pada upaya pengobatan dan merehabilitasi pecandunya. Untuk heroin atau Fentanyl, sudah ada obat detoks. Untuk “zombie drug”, menurut para ahli, belum ada detoks medisnya. Tranq bukan opioid sehingga pengobatan overdosis yang biasa digunakan untuk menangani opioid seperti fentanyl tidak mempan bagi campuran obat tersebut. Ini memperparah masalah.
Rehabilitasi bagi pecandunya juga menjadi lebih sulit.
“Jika saya tidak pakai narkoba saya akan mati. Saya akan sangat sakit,” kata relawan, Ronnie Kaiser, menirukan ucapan pecandu, dalam video yang melansir New York Post tersebut. “Jika melawan kecanduan itu mudah, kita tidak akan menghadapi masalah ini.”
Informasi terbaru dari New York Post menyebutkan, pemerintah AS kini melakukan aksi tanggap darurat untuk mengatasi “epidemi” tersebut dengan menyebarkan strip uji cepat terhadap kandungan tranq dalam fentanyl dan kokain yang beredar. Strip uji cepat buatan Canada berharga relatif murah itu dilaporkan memiliki tingkat akurasi mencapai 91%. ***







