JAMILAH

Novel, Terbaru383 Dilihat

Di sebuah desa, hiduplah seorang dara cantik bernama Jamilah. Dia adalah sosok wanita idaman yang menjadi bunga desa di kampungnya. Wajahnya ayu, putih, dan bersih sekali. Terlihat pandai mengurus diri. Senyum Jamilah bisa membuat jantung setiap pria berdegup tak berirama. Tutur sapanya yang lembut dan sikapnya yang ramah, membuat ia jadi primadona. Kebaikan hatinya pun seakan tak pernah habis dimakan usia. Setiap orang yang kesusahan bisa dibantu secara materi atau kadang dengan pemikiran atau tenaga. Tidak heran, banyak mata lelaki yang menaruh hati kepada Jamilah.

Jamilah memiliki kekasih hati yang berada jauh di seberang sana. Memang Jamilah ini tipe setia. Setiap pria yang datang kepadanya, dan ingin jadi kekasihnya, selalu ditolaknya secara halus. Termasuk Rian yang sebulan ini sangat memperhatikannya. Rian ingin tahu perasaan jamilah kepadanya. Saat ada kesempatan untuk berdua, Rian memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya kepada Jamilah.

“Jamilah, aku sangat menyayangimu. Maukah kau jadi kekasihku?” kata Rian pada suatu ketika.

“Maaf, Rian. Aku sangat menghargai perasaanmu. Tapi, hatiku sudah dimiliki oleh orang lain,” jawab Jamilah.

“Siapa itu? Mengapa kau tak pernah berkata tentang kekasihmu kepadaku?” cecar Rian seakan tidak percaya.

“Apa kau pernah bertanya kepadaku? Belum pernah bukan?” timpal Jamilah.

“Mengapa kau sangat kejam kepadaku Jamilah? Aku pikir, kamu punya perasaan yang sama terhadapku,” tukas Rian dengan nada menghiba.

“Rian, selama ini aku memperlakukanmu sama dengan yang lainnya. Aku tak pernah mempermainkan perasaan orang lain. Maafkan aku karena tidak tahu tentang perasaanmu. Maafkan aku juga, tanpa sengaja sudah menyakiti perasaanmu,” ucap Jamilah dengan sedih karena Rian telah salah menafsirkan persahabatan mereka.

Tanpa berkat-kata, Rian lalu meninggalkan Jamilah yang duduk tertegun. Ia menahan amarah yang amat membara. Rian sangat menyayangi Jamilah. Ia pun berharap perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi apa hendak dikata, perasaannya hancur mendengar Jamilah berkata jujur. Jamilah lebih memilih Arif, kekasihnya yang jauh.

Rasa cintanya berubah jadi rasa benci membuta. Hatinya terbakar api. Api cemburu yang berkobar. Mendidih, menaikkan darahnya ke ubun-ubun.

“Tunggu, Jamilah. Kau pasti akan jatuh ke pelukanku suatu saat,” kata Rian dalam hati sambil mengepalkan tangan.

Rian mulai menyelidik, siapa sebenarnya lelaki yang dicintai Jamilah. Ia mulai mencari informasi dari akun medsos Jamilah. Ia cari-cari postingan Jamilah yang merujuk kepada laki-laki yang telah merebut hati pujaan hatinya itu.

Mulailah ia menelusuri facebook sampai instagram. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menemukan pujaan hati Jamilah. Mata Rian pun terbelak ketika dilihatnya sebuah foto Jamilah berduaan dengan laki-laki berhidung mancung, berkulit putih, dan bertubuh tinggi.

Mendidih darah Rian hingga ke ubun-ubun. Tangganya gemetar. Jantungnya berdegup kencang penuh cemburu. Giginya gemeretak melihat kemesraan mereka.

“Siapa kamu? Apa istimewamu hingga Jamilah jatuh ke pelukanmu?” dengus Rian sambil ibu jarinya terus menggeser layar gawai yang terasa ikut menghangat seperti panas hati pemiliknya.

“Hm….., ternyata namanya Arif,” gumam Rian sambil mengangguk angguk dengan senyum sinis. Seakan ia menemukan akal bagaimana ia harus melangkas selanjutnya.

Hati yang cemburu telah membutakan akal sehat Rian, anak juragan di kampung yang seakan tak pernah kekurangan harta. Rian adalah anak kesayangan orang tua. Sejak kecil selalu dimanjakan dengan uang, jajan, dan segala kemudahan.

Pernah ia menempeleng teman sebayanya karena kalah bermain kelereng. Masalah pun usai hanya dengan mengantar beberapa lembar uang berwarna biru. Habis urusan.

Apa keinginan Rian yang tidak pernah dituruti orang tuanya. Hampir semua dikabulkan.

Kobar birahi lelaki dewasa yang mulai merasuki dirinya haruskah padam hanya oleh seorang lelaki bernama Arif.

“Huh, tidak mungkin. Apa pun caranya, kamu harus jadi milikku, Jamilah!”

Bersambung***

#Nulis-nulis Jadi buku

Tinggalkan Balasan

1 komentar