Cerpen Afrianti

Cerpen, Fiksiana541 Dilihat

*Ranting yang Tak pernah Berdaun*

Perempuan paruh baya itu kembali termenung. Mata nanarnya menerobos dedaunan yang rimbun. Burung camar bertengger di daun kering sambil mangut-mangut. Selang beberapa menit, camar yang lain menghampirinya. Mata tua itu masih saja menatap tanpa makna. Dia teringat akan kenangan masa putih abu.

Perlahan, bibirnya yang penuh luka tersenyum. Entah kenapa dia merasa dirinya pernah berarti. Perempuan paruh baya itu hanyut dalam lamunan, teringat akan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi, namun dirinya tetap saja mengira semua itu nyata dirasakannya. Dia seakan terbang dan menari-nari di cakrawala nan elok. Mengepakkan sayap bersama orang terkasihnya. Sampai dia lupa akan jati dirinya. Pungguk merindukan bulan.

Kicauan camar itu tak membuyarkan lamunannya, bahkan dia terus saja melanglang buana di dunia khayal. Seakan jagat raya ini telah dikelilinginya.

Sontak perempuan paruh baya itu tersadar dari lamunannya, saat si camar meneteskan kotorannya tepat di atas dahinya.

“Astagfirullah” perempuan paruh baya itu berucap.

Dalam pikiran jernih, dia merenung sambil menghela nafas panjang, “Hmmm……. kebodohan apa yang telah aku lakukan? Betapa naifnya diriku. Sesuatu yang tidak pernah ada, kenapa harus melakat di sanubariku?” bathinnya.

Perempuan paruh baya itu kembali menarik nafas, “Hmmm….. kenapa ya? Puluhan tahun tanya itu masih menggelantung di benak. Tanya yang sesungguhnya, tidak pernah ada jawabannya. Ketotolan seperti apa ini?”

Tak henti-hentinya perempuan paruh baya itu membatin. Di saat usia hampir setengah abad, dia seakan baru terbangun dari mimpi yang panjang. Mimpi….ya cuma mimpi. Pertama, mimpi tentang merasa pernah punya teman dekat. Cuma teman saja. Teman tapi mesra. Itu hanya perasaan dia saja.

Tak bisa dipungkiri, perempuan paruh baya itu terus saja berkata dalam hatinya, “Benar….ini… benar-benar cuma mimpi saja. Kalaulah itu nyata pasti ada sepatah kata sebagai bukti. Setidaknya, kata maaf karena tidak sengaja. Atau sebuah kalimat yang menyatakan jangan salah sangka, diantara kita tidak ada apa-apanya.”

“Hmmmmm………..”

“Helaan nafas ini, cukuplah untuk yang terakhir. Saatnya kini mengikis kenangan itu. Tapi…. bisakah terkikis habis, atau dengan memaksa diri mengikisnya, hanya akan menorehka luka di dalam? Bukankah dengan tanpa kabar dan tidak pernah bersua hatiku baik-baik saja? Bukankah aku yang selalu berusaha untuk mencari tau tentang dirinya? Kenapa sekarang, setelah aku mendengar suara bahkan bisa melihat wajahnya, aku merasa usahaku sia-sia? Ah…tidak…tidak… apapun itu. Aku harus menghapus memoriku tentangnya.” Perempuan paruh baya itu tak henti-hentinya membatin.

Tanpa disadarinya, buliran bening jatuh di pipi dan pecah sampai di dagu. Perempuan paruh baya itu benar-benar tersentak kaget, menyekanya dengan ujung kerudungnya, seraya berdiri dan memaki dirinya, ” Apaaan sih…??? Bego lu!!!”

Dalam pikiran jernih perempuan paruh baya itu kembali berkata dalam hati,” Seharusnya aku bersyukur telah kembali terjalin silaturahmi. Bukankah hanya itu yang terbaik untuk sekarang? Ada atau pun tidak pernah ada rasa diantara kita. Cukuplah hanya diri sendiri yang tau. Biarlah rasa itu tetap ada dan bersembunyi di lubuk sanubari terdalam. Hmm…rasa yang tidak pernah tau statusnya. Konyol bukan?”

Perempuan paruh baya itu tersadar, dia bukan wanita cengeng. Dengan rasa yang selalu terpatri dia telah menemukan jati diri. Berdiri dan duduk bersama mereka orang-orang hebat.

“Ya Alloh, kembalikanlah aku seperti yang dulu, sebagai perempuan kuat, yang tidak lemah seperti ini. Aamiin”

Tinggalkan Balasan