Mrs. V di Ruang Mahkamah Produser

Peristiwa469 Dilihat

Seni Menertawakan Diri Sendiri (Bag. 4)

Ini peristiwa 6 tahun yang lalu, saat saya disidang oleh Produser, karena sebuah kesalahan yang terpaksa harus dilakukan. Meskipun sudah tahu resiko yang akan dihadapi, tapi ya itulah konsekuensi dari sebuah perbuatan.

Saya menceritakan ini hanya untuk menertawakan diri sendiri, siapa tahu bermanfaat bagi sidang pembaca semuanya. Tidak ada sama sekali bermaksud untuk memojokkan seseorang, atau siapa pun yang merasa terlibat dalam cerita ini.

Peristiwa ini terjadi di tahun 2014, itu merupakan tahun terakhir saya berkiprah disebuah Production House ternama. Berawal dari pertikaian didalam produksi, yang seperti api dalam sekam, antara saya dengan Mrs. V (sebut saja begitu).

Banyaknya ketidaksesuaian dalam pola penanganan produksi, yang terlalu ingin didominasi atas nama kewenangan seorang Panglima dilapangan. Mulai dari soal pemilihan set lokasi, sampai pada pemilihan property yang sesuka hati, yang tidak mempertimbangkan bajet produksi.

Awalnya saya dilaporkan kepada pemangku jabatan dibawah produser, tapi tidak berhasil. Selanjutnya saya dilaporkan pada produser, dengan berbagai tuduhan agar lebih meyakinkan. Singkat kata saya di panggil menghadap produser.

Saat masuk ke ruangan produser, saya serasa berada dalam sebuah ruangan Mahkamah, secara mental saya sudah siap untuk dihakimi. Sama sekali saya tidak ingin mengatakan saya benar, dan laporan itu salah. Bagi saya saat itu yang ada dalam pikiran, bagaimana masalah ini segera tuntas.

Dalam ruangan itu sudah hadir Mrs. V, produser pelaksana, manager keuangan, dan juga kepala bagian property kantor, itulah yang saya ingat. Sementara saya ditemani seorang anak buah saya, yang juga sangat tahu permasalahan.

Produser menyodorkan pada saya sebuah berkas yang merupakan dosa-dosa saya versi Mrs.V.

“Pak aji.., coba baca semua ini, apa benar yang dilapotkan Mrs.V?” Tanya Produser

Tanpa membaca berkas yang disodorkan, saya bilang pada produser,

“Semuanya benar pak..” Jawab saya, mengakuinya hanya demi ingin masalah segera selesai.

Akhirnya produser bilang, berarti benar dong pak Aji melakukan ini, melakukan itu? Dari apa yang dituduhkan saya sanggah, hanya satu yang saya terima, karena memang hanya itu yang saya lakukan. Produser bilang lagi pada saya,

“Pak Aji tahu gak perbuatan itu salah?”

“Sangat tahu pak, sebelum saya lakukan, saya sudah memperhitungkan resikonya, itu harus saya lakukan, karena kantor tidak memberikan peluang untuk mencari solusi lain.”

Akhirnya produser bertanya pada manager keuangan,

“Benar gak yang dikatakan pak Aji?”

“Benar pak.., karena kita memang tidak mempunya kebijakan untuk itu.

“Kenapa pak Aji sampai melakukan itu?” Tanya produser

“Karena tiga rekening saya sudah nol saldonya pak, sementara saya harus bayar harian anak-anak. Shooting yang sedang berlangsung sudah 20 episode belum tayang, jadi tidak memenuhi syarat untuk terima honor.”

“Tapi perbuatan pak Aji itu melanggar hukum pak!!” Ujar produser agak jengkel

“Saya tahu pak, dan saya siap diproses secara hukum.”

Singkat cerita, akhirnya saya mengundurkan diri, bukan dipecat perusahaan. Tapi pada kenyataannya saya di blacklist, dan saya legowo menerimanya. Begitu bubar Mahkamah Produser tersebut, saya hampiri Mrs.V diluar ruangan kantor.

Saya salami dia, “terima kasih ya Mrs.V, berkat kamu Tuhan menegur saya, dan saya tidak menaruh dendam sedikit pun.”

Mrs.V tidak menatap wajah saya, dia hanya tertunduk menatap bumi yang menyaksikan sikap dan perilakunya.

Sebagian orang menginginkan saya membuka semua masalah tersebut, tapi saya tidak mau, karena kalau saat itu saya buka semua, bisa jadi Produser tersebut bisa mati duduk, dan orang-orang yang ada di ruangan itu ikut menerima kesalahan

Inilah peristiwa yang membuat saya menertawakan diri saya sendiri, mau menerima keadaan begitu saja. Sebagian orang mungkin menganggap saya bodoh, mau menerima keadaan begitu saja. Tapi bagi saya, cukuplah saya yang menertawakan diri saya sendiri, jangan ada yang menjadi korban selain saya.

Semua orang yang ada diruangan itu sampai saat ini masih hidup, bahkan mungkin membaca postingan ini. Dan apa yang saya tuliskan ini, sesuai dengan keadaan dan situasi saat itu.

Dari cerita ini saya cuma mau mengatakan, kadang tidak semua rahasia yang kita ketahui harus kita buka, terlebih lagi menyangkut keselamatan orang banyak. Pilihan paling bijak adalah menerima kesalahan, meskipun tidak sepenuhnya salah, demi kepentingan orang banyak.

Ajinatha

Tinggalkan Balasan

2 komentar