Takut Mati karena di Vaksin?

Kesehatan, Peristiwa, YPTD363 Dilihat

Foto: liputan6.com

Saya rasa tidak ada orang yang TAKUT MATI, karena mati itu sudah pasti, tidak satu orang pun bisa menolaknya. Apa yang menjadi sebab kematian itu pun bagian dari rencana-Nya, karena kematian itu sendiri adalah bagian dari ketentuannya.

Betapa susahnya kita membersihkan ‘residu’ politik Pilpres 2014, dan Pilpres 2019, berdampak pada polarisasi masyarakat. Dua kubu dengan dua pola pikir yang berbeda, tidak salah kalau dikatakan, orang-orang berkelompok itu karena ada kesamaan pola pikirnya.

Sampai-sampai soal keselamatan bersama pun dipertentangkan, hanya karena residu politik yang sudah meracuni pikiran. Tidak ada Vaksin, bergemuruh aspirasi minta diadakan, tapi setelah diadakan, dipersoalkan halal dan haramnya.

Setelah MUI mengeluarkan pernyataan bahwa vaksinnya halal, tetap saja masih ditolak. Sekarang Presiden bersedia menjadi orang pertama yang di vaksin, untuk membuktikan bahwa vaksin tersebut aman. Kalau tidak aman, maka Presiden yag menjadi korban pertamanya.

Vaksin itu hanyalah bagian dari ikhtiar kita agar terhindar dari virus corona, apakah ada jaminan bahwa itu akan menyelamatkan? Jelas belum tentu, karena yang menjamin keselamatan manusia itu hanya Allah, setelah manusia berikhtiar.

Keselamatan Bangsa ini bukanlah ditangan pemimpin, tapi pemimpin wajib berikhtiar untuk keselamatan bangsanya. Ikhtiar pemimpin mengadakan vaksin, yang sudah menjadi konsesus, bahwa vaksin bisa menghindari kita dari virus.

Tidak usah ‘Julid’ dan Picik dalam merespon berbagai upaya untuk kepentingan bersama, negara dan dunia saat ini tidak sedang baik-baik saja, perlu kearifan dalam menyikapinya. Menjaga keselamatan diri sendiri, Anda sudah menyelamatkan keluarga Anda dan orang lain, dan itu juga merupakan ibadah Anda.

Guru Besar FK Unpad Prof. Dr. dr Cissy Kartasasmita, Sp. A(K), M,Sc berpesan agar masyarakat tidak perlu ragu untuk divaksin. Karena vaksin COVID-19 telah melalui serangkaian pengujian ketat di sejumlah negara termasuk Indonesia. Sehingga Aspek khasiat, mutu & keamanan menjadi hal yang utama, selain itu juga aspek kehalalan dari MUI.

Terkait dengan efikasi vaksin, Prof. Cissy merujuk pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan bahwa vaksin dengan efikasi di atas 50% dapat digunakan oleh masyarakat luas.

Berdasarkan hasil uji klinik, efek samping yang ditimbulkan oleh vaksin COVID-19 sangatlah ringan dan mudah diatasi. Biasanya akan hilang dalam satu atau dua hari pasca vaksinasi. Oleh karenanya masyarakat tidak perlu khawatir bahkan takut terhadap vaksinasi. Dengan vaksinasi kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga melindungi keluarga dan sesama.

Dengan mau di vaksin, minimal kita bisa menjaga lingkungan terdekat kita dari penyebaran virus. Yang namanya ikhtiar ya harus maksimal, tidak setengah-setengah. Kalau memang yakin tanpa di vaksin bisa terhindar dari virus corona, ya harus bisa membuktikannya.

Itu pun tetap dengan ikhtiar, bukan berarti cuek bebek tanpa beban, dan tidak mematuhi protokol kesehatan. Keselamatan Anda juga menyangkut keselamatan orang-orang disekitar Anda. Bagaimana Tuhan mau menyelamatkan Anda, sementara Anda sendiri tidak peduli dengan keselamatan Anda sendiri.

Tidaklah tersebab vaksin manusia akan mati, kalau sudah waktunya, tidak di vaksin pun tetap saja akan mati, karena mati itu pasti, hanya sebabnya saja yang berbeda-beda. Jodoh, Rezeki, dan Maut, itu adalah hak prerogatif Tuhan. (Aji Najiullah Thaib)

Tinggalkan Balasan