Proses Kreatif dalam Menulis

#artikel13
PROSES KREATIF DALAM MENULIS

Setiap penulis akan melalui sebuah proses kreatif dalam menulis, yakni sebuah proses menemukan ide, proses menemukan cara yang tepat dalam menuangkan imajinasi, bahkan proses memperoleh metode yang efektif dalam menulis.

Semakin banyak jam terbang maka akan semakin banyak proses kreatif yang dilalui. Tanpa melalui sebuah proses kreatif, tidak mungkin ‘ujug-ujug’ seseorang bisa menulis tentang “Cara Jitu Menemukan Ide Menulis,” bahkan berbagai judul buku sejenis yang menarik hati.

Seseorang menjadi kreatif karena pengalaman panjang yang dilalui. Berbagai pengalaman itu menjadi pelajaran untuk mengasah kreativitasnya. Buah saja untuk menjadi matang melalui sebuah proses, begitu juga seorang penulis.

Bagi saya proses kreatif adalah sebuah proses untuk menemukan jati diri dalam menulis, membentuk gaya (style) dalam menulis. Menulis kreatif secara umum lebih dikenal dalam dunia sastra, karena dalam penulisan karya sastra memiliki berbagai tahapan dalam proses penciptaannya.

Antara Penulis satu dengan Penulis lainnya mengalami proses kreatif yang berbeda, dan itu memengaruhi pola kreatifnya dalam menulis. Ketidaksamaan ini pun membentuk kualitas karya masing-masing.

Untuk lebih jelasnya apa yang dimaksudkan dengan proses kreatif, ada baiknya kita menelaah proses kreatif yang dilalui dari Krismarliyanti, penulis buku Lentera, Edelweiss Putih, dan Mahar, bagaimana proses mulai dari pencarian ide, sampai eksekusinya.

“Bicara tentang proses kreatif dalam sebuah karya, terdiri atas empat tahap yaitu ide, riset, sketching, dan eksekusi. Ide adalah identitas kita, menunjukkan orisinalitas pikiran. Saya tertarik dengan human behavior. Human behavior adalah gambaran sebuah peradaban, kebudayaan, grup, atau masyarakat tertentu. Karya saya fokus terhadap makna hidup dan kecerdasan emosi manusia,” ujar Krismarliyanti.

Dalam menentukan genre pun bukan tanpa proses kreatif, Krismarliyanti lebih memilih Human Behavior sebagai landasan persoalan yang menjadi bahasannya di dalam novel yang dituliskannya. Seperti halnya juga Pramoedya Ananta Toer yang memilih Sejarah sebagai latar karya fiksi sejarahnya.

Krismarliyanti banyak melakukan riset untuk novel Edelweiss Putih, seperti riset soal tokoh, latar belakang, asal, dan daerah. Risetnya interdisipliner, seperti ilmu sosial, psikologi, sejarah, dan tata letak kota. Menurutnya, riset merupakan bagian yang menyusahkan namun memperkaya tulisan.

“Tahap setelah riset adalah sketching atau penentuan plot cerita. Plot adalah pola pikir dan cara berpikir. Menulis sesuai pola pikir akan lebih menarik, yang membedakan kita dengan penulis lain adalah harus cerdas memilih teori yang sesuai dengan kepribadian kita. Eksekusi, setelah dapat ide, ide-ide itu saya break down. Saat menulis, saya mencatat hal-hal secara detail. Proses kreatif itu seperti bersenang-senang dengan kreativitas dan ketertarikan kita,” tutupnya. (news.uad.ac.id)

Kalau proses kreatif saya dalam menulis novel belumlah sedalam Krismarliyanti, rerata novel yang saya tulis berdasarkan pengalaman melihat langsung sebuah peristiwa, dan ada juga berdasarkan pengalaman yang diceritakan teman pada saya, selebihnya rangkaian cerita lebih kepada hal-hal yang bersifat imajinatif, dan itu pun dituliskan serealistis mungkin.

Kembali kepada kebutuhan dan tujuan masing-masing dalam menekuni profesi sebagai penulis. Pengalaman dan proses kreatif penulis ternama saya rasa bisa memotivasi kita untuk semakin memastikan pilihan terhadap profesi menulis.

Tulisan ini saya sajikan untuk sekadar memberikan wawasan tentang sebuah proses kreatif, yang didorong oleh keinginan berbagi pengetahuan.

Ajinatha

Tinggalkan Balasan

2 komentar

News Feed