Jangan Mengharap Pujian

Artikel ke 35
Jangan Mengharap Pujian

Kadang sebuah pujian itu bagi penulis dianggap sebagai sebuah apresiasi, sehingga akan memotivasi diri untuk terus menulis dan meningkatkan kualitas tulisan. Tapi, sebaiknya pujian tersebut jangan terlalu diharapkan, karena ketika yang diterima adalah sebaliknya malah tidak siap menerimanya.

Anggaplah menulis sebagai sebuah kewajiban untuk berbagi pengetahuan, dengan demikian Anda tidak terbebani apa pun. Jangan terjebak pada pujian, karena Anda akan selesai menulis dan merasa sudah mampu dalam menulis.

Memang pada dasarnya pujian adalah untuk menyatakan sesuatu yang positif tentang seseorang dengan tulus dan sejujurnya. Pujian adalah suatu ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa tersanjung.

Kembali lah kepada niat awal Anda menulis, dan jangan anggap pujian adalah bisa memotivasi agar Anda terus menulis. Kalau sampai menulis hanya karena mengharapkan pujian, maka Anda sedang berada dipinggir jurang kegagalan.

Tak bisa dipungkiri, setiap orang pasti suka mendapatkan pujian. Apalagi mendengar orang lain memuji hasil karya kita. Tapi, ada baiknya Anda tidak terlalu mengharapkan pujian orang lain ketika mempublikasikan hasil tulisan Anda.

Ingatlah, setiap pembaca memiliki selera bacaan dan tulisan yang berbeda-beda. Jadi, wajar bila tidak semua pembaca yang menyukai karya kita, mengkritik dan memberi saran. Respons inilah yang justru akan membangun Anda sebagai penulis yang sukses.

Perlu juga diingat, pujian dari orang lain bisa jadi benar adanya dan bisa juga hanya pura-pura. Sehingga pujian-pujian inilah yang justru akan membuat penulis tidak berkembang dan terlalu berpuasa diri. Saat Anda mengharapkan pujian, tapi tak ada yang memuji sama sekali mungkin motivasi menulis Anda akan menurun.

Ada satu hal lagi, jangan terlalu mengejar tingkat keterbacaan, karena bukan itu ukuran kualitas tulisan Anda. Tetaplah menulis dengan standar kualitas yang bagus, meskipun tingkat keterbacaannya rendah.

Kalau cuma mengejar tingkat keterbacaan atau ‘click view’ cukup bagikan sebanyak-banyaknya ke media sosial. Apakah cuma itu yang memuaskan Anda sebagai seorang penulis? Pastinya tidak. Setiap tulisan itu punya pembaca dan takdirnya sendiri, jadi tidak usah terlalu risaukan hal seperti itu.

Banyak faktor orang-orang mau meng-click tulisan kita, bisa saja karena dia memang suka, bisa juga hanya karena solider terhadap kita, atau juga cuma sekadar click tapi tidak membacanya. Tidak perlu berpuas diri dengan hal seperti itu.

Motivasi menulis itu harus tumbuh dari dalam diri sendiri, karena kesadaran diri sendiri, bukan karena hal-hal yang bersifat semu. Kalau menulis hanya karena mengharap pujian, maka Anda akan berhenti menulis saat tidak lagi ada yang memuji.

Ada yang bilang pujian ibarat pisau bermata dua, di satu sisi ia dapat melukai, dan disisi lain ia dapat menyembuhkan. Dampak negatif dari pujian adalah karena pujian terkadang dapat memberhentikan proses memperbaiki diri seseorang.

Hal ini terjadi biasanya karena seseorang yang sering dipuji kadang merasa paling hebat, paling sempurna, dan paling berharga dari orang lain. Yang paling bahaya dari itu semua adalah pujian dapat menolak saran dan kritikan orang lain untuk kebaikan diri kita sendiri.

“Pujian memiliki efek yang berbeda, sesuai dengan tujuan dan apa yang mereka pikirkan. Itu membuat orang bijak bersikap sederhana, dan orang bodoh merasa lebih sombong,”

Kesimpulannya, Pujian adalah sesuatu yang sangat unik, pergunakanlah pujian dengan sebijak mungkin. Bagi yang sering dipuji tetaplah rendah hati, dan bagi yang sering memuji, batasi rasa mengagumi.

Tinggalkan Balasan

2 komentar